Contoh Studi Kasus PPG 2025 untuk Jenjang SMA: Sudah Tervalidasi dan Minimal 390 Kata

AKURAT.CO Inilah sejumlah contoh studi kasus PPG 2025 untuk jenjang SMA yang sudah tervalidasi dan bisa menjadi referensi jawaban.
Sebagai informasi, para guru peserta PPG Jalur Tertentu Tahun 2025 Tahap 1 kini tengah memasuki tahap penting, yakni persiapan menghadapi Uji Kompetensi PPG (UKPPPG).
Baca Juga: Kunci Jawaban Modul 3 Topik 1 PPG 2025 Terbaru: Filsafat Pancasila dan Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Salah satu komponen ujian dalam UKPPPG adalah UTBK (Ujian Tertulis Berbasis Komputer), di mana para peserta tidak hanya diuji secara teori, tetapi juga diminta untuk menyusun laporan berbasis pengalaman nyata selama mereka menjalankan praktik mengajar di sekolah.
Dalam tugas ini, guru ditantang untuk menceritakan situasi otentik yang pernah mereka hadapi di ruang kelas, dengan fokus pada bagaimana mereka menganalisis masalah, menentukan solusi, serta melakukan refleksi atas tindakan yang telah diambil.
Penulisan dibatasi sepanjang 600 kata dan harus mampu menggambarkan kecermatan guru dalam menghadapi dinamika pembelajaran di lapangan.
Sebagai bahan pendukung, tersedia beberapa contoh studi kasus PPG 2025 yang relevan, khususnya bagi guru jenjang SMA.
Contoh-contoh ini dapat digunakan sebagai referensi dalam menyusun laporan yang sesuai dengan ketentuan dan capaian kompetensi yang diharapkan.
Masalah 1: Media Pembelajaran
1. Identifikasi Masalah
Sebagai pendidik di tingkat SMA, saya menghadapi tantangan dalam pemilihan media pembelajaran yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan peserta didik masa kini.
Pada mulanya, media yang saya gunakan masih bersifat konvensional seperti papan tulis, presentasi PowerPoint sederhana, dan buku teks. Media tersebut kurang variatif dan tidak mampu membangkitkan rasa ingin tahu siswa.
Akibatnya, materi pelajaran, khususnya Pendidikan Pancasila yang sarat nilai dan teori, menjadi terasa kaku dan tidak menarik.
Padahal siswa SMA berada pada tahap perkembangan kognitif yang menuntut pembelajaran bermakna serta kontekstual. Mereka juga sudah sangat akrab dengan teknologi digital. Ketika saya tetap menggunakan pendekatan lama, siswa cenderung pasif dan kesulitan memahami keterkaitan materi dengan kehidupan sehari-hari.
2. Upaya Penyelesaian
Setelah melakukan refleksi, saya memutuskan untuk memanfaatkan berbagai platform digital seperti Canva, Padlet, Quizizz, dan Google Sites.
Media yang saya kembangkan berupa infografis, video pendek, animasi, serta podcast tematik yang relevan dengan topik PPKn.
Saya juga memanfaatkan YouTube sebagai sumber materi alternatif, terutama dalam menyampaikan konteks sosial dan historis. Dalam praktiknya, media digital tersebut dipadukan dengan metode diskusi kelompok untuk meningkatkan keterlibatan siswa secara aktif.
3. Hasil yang Dicapai
Penerapan media digital berdampak positif terhadap antusiasme dan partisipasi siswa. Media yang lebih visual dan interaktif membantu mereka memahami konsep abstrak secara lebih konkret.
Kelas menjadi lebih dinamis, dan kemampuan literasi digital siswa pun berkembang. Pembelajaran terasa lebih bermakna karena siswa dapat melihat relevansi materi dengan realitas kehidupan mereka.
4. Pembelajaran bagi Pengembangan Diri
Pengalaman ini mengajarkan bahwa guru perlu senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan berinovasi dalam pemanfaatan media pembelajaran.
Dengan memilih media yang relevan dan kontekstual, pembelajaran menjadi lebih efektif dan menyenangkan. Saya terdorong untuk terus mengembangkan kemampuan dalam desain media berbasis teknologi untuk menunjang mutu pembelajaran di sekolah.
Masalah 2: Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)
1. Identifikasi Masalah
Pada tahap awal, LKPD yang saya rancang cenderung bersifat monoton dan hanya berisi soal-soal hafalan. Formatnya tidak menstimulasi kemampuan berpikir tingkat tinggi serta tidak mengakomodasi gaya belajar siswa yang beragam.
Selain itu, tampilan LKPD sangat sederhana, tanpa elemen visual yang mendukung pemahaman. LKPD juga belum dirancang secara diferensiatif, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bervariasi.
2. Upaya Penyelesaian
Saya kemudian mempelajari prinsip-prinsip penyusunan LKPD yang baik, yakni harus kontekstual, menantang secara intelektual, menarik secara visual, serta mendukung pembelajaran berdiferensiasi.
Saya mulai merancang LKPD berbasis proyek dan studi kasus, dilengkapi dengan desain visual menggunakan Canva, instruksi yang sistematis, serta tautan digital melalui QR Code. LKPD saya susun dengan beberapa tingkat kesulitan agar dapat diakses oleh siswa dengan kemampuan yang berbeda.
3. Hasil yang Dicapai
Perubahan tersebut memberikan dampak positif terhadap minat dan partisipasi siswa dalam pembelajaran. LKPD yang lebih menarik dan bervariasi mendorong siswa untuk terlibat secara aktif, baik dalam diskusi maupun kerja kelompok.
Selain meningkatkan pemahaman konsep, penggunaan LKPD juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan literasi digital.
4. Pembelajaran bagi Pengembangan Diri
Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa LKPD tidak sekadar berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pengembangan keterampilan abad ke-21.
LKPD yang disusun dengan memperhatikan kebutuhan siswa mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berdaya guna.
Masalah 3: Strategi Pembelajaran
1. Identifikasi Masalah
Pada awal masa mengajar, saya mengalami kesulitan dalam memilih strategi pembelajaran yang sesuai. Saya lebih banyak menggunakan metode ceramah dan tanya jawab yang menempatkan guru sebagai pusat informasi.
Pendekatan ini tidak memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir mandiri atau bekerja sama secara aktif. Hal ini berdampak pada rendahnya partisipasi siswa dan kurang optimalnya hasil belajar, karena siswa hanya diarahkan pada hafalan semata.
2. Upaya Penyelesaian
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, saya mulai menerapkan berbagai strategi pembelajaran aktif seperti Project-Based Learning, Problem-Based Learning, debat, dan inquiry learning. Strategi tersebut saya integrasikan dengan teknologi seperti Google Classroom dan Padlet.
Saya memberikan tantangan pembelajaran berbasis masalah nyata dan proyek yang relevan dengan kehidupan siswa. Saya juga melakukan evaluasi strategi secara berkala bersama siswa untuk menyesuaikan pendekatan yang paling efektif.
3. Hasil yang Dicapai
Penerapan strategi aktif membuat siswa lebih terlibat dalam proses belajar. Mereka menjadi lebih percaya diri, aktif berdiskusi, dan mampu menyelesaikan permasalahan secara kolaboratif.
Suasana kelas menjadi lebih interaktif, dan hasil belajar siswa meningkat dalam berbagai aspek, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik.
4. Pembelajaran bagi Pengembangan Diri
Pengalaman ini menegaskan bahwa guru harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran, bukan sekadar penyampai informasi. Strategi yang sesuai dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dan mendorong siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimal.
Masalah 4: Penilaian
1. Identifikasi Masalah
Dalam proses evaluasi pembelajaran, saya pernah terlalu fokus pada penilaian tertulis sebagai satu-satunya alat ukur. Pendekatan ini tidak mampu menangkap secara menyeluruh aspek kemampuan siswa, terutama dari sisi sikap dan keterampilan.
Tes yang digunakan pun cenderung bersifat menghafal, bukan menilai kemampuan analisis atau berpikir kritis. Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam penilaian masih terbatas, sehingga laporan hasil belajar kurang komprehensif dan informatif.
2. Upaya Penyelesaian
Saya mulai menerapkan konsep penilaian autentik yang mencakup berbagai bentuk asesmen seperti proyek, portofolio, presentasi, dan observasi sikap.
Saya menyusun rubrik penilaian yang terstruktur untuk setiap aspek kemampuan siswa. Untuk efisiensi dan keberagaman bentuk penilaian, saya menggunakan aplikasi seperti Google Form, Quizizz, dan LMS sekolah.
Saya juga memberikan umpan balik kualitatif agar siswa dapat memahami proses pembelajaran mereka, tidak sekadar menerima nilai.
3. Hasil yang Dicapai
Sistem penilaian yang baru memberikan gambaran yang lebih utuh terhadap perkembangan siswa. Mereka menjadi lebih terarah, memahami capaian yang diharapkan, dan merasa proses belajar mereka dihargai.
Orang tua pun memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai perkembangan anak. Penilaian ini turut meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam proses belajar.
4. Pembelajaran bagi Pengembangan Diri
Saya belajar bahwa penilaian adalah bagian penting dalam pembelajaran yang tidak hanya berfungsi untuk mengukur, tetapi juga untuk membimbing siswa. Penilaian yang menyeluruh dan beragam mampu mendukung tumbuhnya pembelajaran yang lebih bermakna dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









