Bagaimana Anda Menentukan Batas Kritis dalam Proses HACCP? SImak Inilah Pengertian, Langkah dan Prinsip Lengkap yang Akurat

AKURAT.CO Mari simak inilah jawaban yang akurat dari pertanyaan, bagaimana anda menentukan batas kritis dalam proses haccp?
Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) adalah sistem manajemen keamanan pangan yang diakui secara internasional dan digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mengendalikan bahaya yang signifikan dalam proses produksi pangan.
Salah satu prinsip paling penting dalam HACCP adalah penetapan batas kritis (critical limit) pada setiap titik kendali kritis (CCP).
Batas kritis berfungsi sebagai parameter yang harus dipenuhi agar produk pangan tetap aman dikonsumsi.
Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana menentukan batas kritis dalam proses HACCP berdasarkan sumber terpercaya dari dalam dan luar negeri.
Baca Juga: Bagaimana Wepik Memanfaatkan Teknologi AI dalam Pembuatan Desain? Simak Inilah 5 Hal Akurat Berikut
Pengertian Batas Kritis dalam HACCP
Batas kritis adalah nilai minimum atau maksimum yang harus dipenuhi pada setiap CCP untuk memastikan bahaya keamanan pangan dapat dikendalikan secara efektif.
Batas ini menjadi garis pemisah antara kondisi proses yang masih dapat diterima (aman) dan yang tidak dapat diterima (tidak aman) bagi konsumen.
Langkah-Langkah Menentukan Batas Kritis
-
Identifikasi Titik Kendali Kritis (CCP)
-
CCP adalah tahap dalam proses produksi di mana pengendalian dapat diterapkan untuk mencegah, menghilangkan, atau mengurangi bahaya hingga tingkat yang dapat diterima.
-
-
Analisis Bahaya dan Parameter yang Relevan
-
Tentukan bahaya utama yang harus dikendalikan pada CCP tersebut, seperti bahaya biologis (misal bakteri patogen), kimia (residu pestisida), atau fisik (kontaminan benda asing).
-
-
Pilih Parameter yang Dapat Diukur
-
Batas kritis harus berupa parameter yang dapat diukur secara akurat, seperti:
-
Suhu proses (misal: pemanasan minimal 75°C selama 30 detik untuk membunuh Salmonella)
-
Waktu pemrosesan
-
pH (tingkat keasaman)
-
Kadar air (Aw)
-
Konsentrasi bahan kimia tertentu
-
-
-
Mengacu pada Standar Ilmiah dan Regulasi
-
Gunakan referensi dari standar nasional/internasional (misal: Codex Alimentarius, FDA, BPOM), hasil riset ilmiah, atau rekomendasi ahli untuk menentukan nilai batas kritis yang tepat.
-
Contoh: Pasteurisasi susu mengacu pada suhu minimal 72°C selama 15 detik sesuai standar internasional.
-
-
Validasi dan Uji Praktik
-
Pastikan batas kritis yang ditetapkan benar-benar mampu mengendalikan bahaya yang diidentifikasi. Validasi dapat dilakukan melalui pengujian laboratorium atau studi ilmiah yang relevan.
-
-
Dokumentasi dan Peninjauan Berkala
-
Semua batas kritis harus didokumentasikan secara tertulis dan dievaluasi secara berkala, terutama jika terjadi perubahan bahan baku, proses produksi, atau regulasi.
-
Contoh Penetapan Batas Kritis
| Bahaya yang Dikendalikan | CCP (Titik Kendali Kritis) | Batas Kritis (Critical Limit) |
|---|---|---|
| Bakteri patogen | Proses pemasakan daging | Suhu minimal 75°C selama 30 detik |
| Pertumbuhan jamur | Pengeringan produk | Kadar air (Aw) < 0,85 |
| Kontaminasi kimia | Penggunaan bahan tambahan | Konsentrasi nitrit maksimum 200 ppm |
| Kontaminasi fisik | Deteksi logam | Partikel logam maksimum 0,5 mm |
Prinsip Penting Penetapan Batas Kritis
-
Spesifik dan Terukur: Batas kritis harus jelas, spesifik, dan mudah dipantau secara rutin.
-
Berdasarkan Ilmu Pengetahuan: Penetapan harus merujuk pada data ilmiah, standar resmi, atau hasil validasi.
-
Praktis dan Dapat Dicapai: Batas kritis harus realistis dan dapat diterapkan di fasilitas produksi.
-
Diverifikasi dan Diperbarui: Lakukan verifikasi secara berkala untuk memastikan batas kritis tetap relevan dan efektif.
Kesimpulan
Penentuan batas kritis dalam proses HACCP adalah langkah vital untuk menjamin keamanan pangan.
Batas kritis harus ditetapkan secara spesifik, terukur, dan berbasis ilmiah pada setiap titik kendali kritis.
Proses penetapan melibatkan analisis bahaya, pemilihan parameter yang relevan, acuan standar regulasi, validasi, serta dokumentasi dan evaluasi berkala.
Dengan penetapan batas kritis yang tepat, produsen dapat mencegah risiko bahaya dan memastikan produk pangan yang dihasilkan aman untuk dikonsumsi masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









