Akurat Logo

Siapakah Tokoh-tokoh Internasional yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

Rahmat Ghafur | 29 Juni 2025, 23:03 WIB
Siapakah Tokoh-tokoh Internasional yang Berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia?

AKURAT.CO Ini dia jawaban untuk pertanyaan mengenai siapakah tokoh-tokoh internasional yang berperan dalam proklamasi kemerdekaan indonesia.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 adalah momen sakral yang menandai lahirnya sebuah bangsa merdeka.

Baca Juga: Perang Gerilya yang Dipimpin Jenderal Sudirman pada Masa Revolusi Kemerdekaan Menunjukkan pada PBB dan Dunia Internasional bahwa...

Di balik gegap gempita proklamasi yang didominasi oleh peran para pendiri bangsa seperti Soekarno dan Mohammad Hatta, ternyata ada beberapa tokoh internasional yang turut memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam upaya Indonesia meraih kedaulatan.

Peran mereka, meski sering kali luput dari sorotan utama, tidak bisa dipandang sebelah mata.

Lantas, siapakah tokoh-tokoh internasional yang berperan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Mari kita telusuri jejak mereka.

1. Laksamana Tadashi Maeda (Jepang)

Mungkin ini adalah nama yang paling sering disebut ketika membahas peran asing dalam proklamasi.

Laksamana Muda Tadashi Maeda adalah Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Perannya sangat krusial karena ia secara tidak langsung memfasilitasi persiapan proklamasi.

Penyediaan Tempat: Rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta Pusat, menjadi lokasi perumusan naskah proklamasi.

Maeda sendiri mengizinkan rumahnya digunakan, bahkan dengan berani menanggung risiko hukuman dari pihak militer Jepang jika ketahuan. Ia bahkan sengaja 'buta' dan 'tuli' terhadap kegiatan yang berlangsung di rumahnya demi keamanan para tokoh nasional.

Netralitas dan Simpati: Meski sebagai perwakilan Jepang yang kala itu adalah penguasa, Maeda menunjukkan simpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Ia percaya bahwa kemerdekaan adalah hak setiap bangsa. Sikap netralnya ini memberikan ruang aman bagi para tokoh untuk bekerja.

2. Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (Dr. Setiabudi)

Lahir di Pasuruan pada 8 Oktober 1879, tokoh berdarah campuran Eropa-Indonesia ini adalah keturunan dari penulis terkenal Multatuli.

Dikenal sebagai jurnalis tajam dan pejuang kemerdekaan, Dr. Setiabudi memperkenalkan istilah “Nusantara” sebagai cikal bakal nama Indonesia merdeka.

Bersama dua tokoh besar lainnya, dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat, ia membentuk Tiga Serangkai sebuah trio penggerak kesadaran nasional yang membuka jalan menuju Indonesia merdeka.

3. Muriel Stuart Walker (K’tut Tantri)

Seorang penyair radio asal Skotlandia, Muriel dikenal juga dengan nama Indonesia-nya, K’tut Tantri—menjadi suara perjuangan rakyat Surabaya.

Lewat siaran radio, ia menyebarkan semangat perlawanan Bung Tomo melawan pasukan Sekutu dan Belanda pada November 1945. Tak hanya menyiarkan kabar, ia menyuarakan perlawanan, harapan, dan keberanian.

Muriel menyebut Indonesia sebagai “tanah air ketiganya”, setelah Skotlandia dan India, tempat ia dilahirkan.

Ia adalah saksi hidup peristiwa monumental seperti Pertempuran Surabaya, Serangan Umum 1 Maret, dan Bandung Lautan Api.

4. Amin Al-Husseini

Mufti Agung Yerusalem ini bukan hanya ulama Palestina berpengaruh, tapi juga tokoh politik yang bersimpati pada perjuangan bangsa-bangsa terjajah.

Saat Jepang berkuasa di Asia, Amin Al-Husseini menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Jepang memberi kemerdekaan kepada Indonesia.

Dari Timur Tengah hingga Eropa, ia menyiarkan berita tentang Indonesia melalui radio Jerman, membangkitkan perhatian dunia Arab terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa kita. Ia menjadikan gelombang udara sebagai medan juangnya.

5. Eduard Douwes Dekker (Multatuli)

Terlahir di Amsterdam pada 2 Maret 1820, Multatuli—yang namanya berarti "aku telah banyak menderita"—adalah suara nurani yang mengguncang nurani penjajah.

Lewat novel satir “Max Havelaar” yang terbit tahun 1860, ia membongkar kebusukan sistem kolonial Belanda di Hindia Belanda.

Buku ini membuka mata masyarakat Eropa tentang penderitaan rakyat jajahan dan menjadi bahan bakar semangat bagi rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.