Tut Wuri Handayani di Era Digital: Masih Relevankah?

AKURAT.CO Semboyan “Tut Wuri Handayani” sudah lama menjadi identitas dunia pendidikan Indonesia. Diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, kalimat ini begitu sering terdengar—di dinding kelas, logo Kemendikbud, hingga pidato resmi.
Namun di balik familiaritasnya, tak sedikit yang luput memahami makna sejatinya, apalagi di tengah realitas pendidikan yang kini serba digital, fleksibel, dan serbacepat.
Pertanyaannya: Masihkah "Tut Wuri Handayani" relevan hari ini?
Dan apa yang harus dilakukan agar semangatnya tetap hidup dan memberi dampak nyata bagi generasi muda?
Makna Tut Wuri Handayani
Secara harfiah, “Tut Wuri Handayani” berarti “dari belakang memberi dorongan.”
Filosofi ini menempatkan guru bukan sebagai pengendali mutlak, melainkan pendamping yang mendorong siswa untuk tumbuh mandiri, berpikir bebas, dan menemukan jalannya sendiri.
Kalimat ini merupakan bagian dari tritologi kepemimpinan pendidikan Ki Hajar Dewantara:
-
Ing ngarsa sung tulada – Di depan, memberi teladan
-
Ing madya mangun karsa – Di tengah, membangun semangat
-
Tut wuri handayani – Di belakang, memberi dorongan
Tiga prinsip ini menyiratkan pendidikan sebagai proses membimbing, bukan mendikte. Tapi tantangannya, filosofi luhur ini kini harus menyesuaikan diri dengan zaman yang telah berubah cepat.
Baca Juga: Rahasia Kuah Bakso Gurih ala Pedagang Kaki Lima: Resep, Tips, dan Trik Lengkap!
Relevansi Tut Wuri Handayani di Era Pendidikan Digital
1. Siswa Tak Lagi Sekadar Penerima Ilmu
Dulu, guru adalah satu-satunya sumber informasi. Kini, siswa bisa belajar dari mana saja: YouTube, podcast, e-learning, hingga AI.
Dalam konteks ini, peran guru sebagai navigator—bukan kapten tunggal—menjadi lebih penting dari sebelumnya.
2. Mendorong Kemandirian dan Nalar Kritis
Semangat “memberi dorongan dari belakang” sejalan dengan Kurikulum Merdeka: membebaskan siswa berpikir, bereksplorasi, dan belajar dari pengalaman nyata.
Guru bukan lagi pemberi jawaban, tapi pemantik pertanyaan.
3. Menumbuhkan Empati dan Ruang Aman
Seorang guru yang hadir sebagai teman tumbuh, bukan pengontrol, menciptakan ruang belajar yang aman dan inklusif.
Hal ini sangat penting di tengah meningkatnya isu kesehatan mental dan tekanan akademik di kalangan pelajar.
Tantangan dalam Menjaga Semangat Tut Wuri Handayani
Meski nilai-nilainya makin relevan, implementasinya masih belum merata. Ada beberapa tantangan besar yang perlu segera dijawab:
1. Gaya Mengajar Masih Otoriter
Masih banyak ruang kelas yang dikuasai oleh suara guru dan diamnya murid.
Model pengajaran satu arah dan berbasis hukuman masih membayangi, bertentangan dengan filosofi pendidikan yang membebaskan.
2. Kurangnya Pelatihan Pedagogi Humanis
“Tut Wuri Handayani” menuntut guru memahami psikologi anak, komunikasi empatik, dan pendekatan diferensial.
Sayangnya, banyak pelatihan guru masih fokus pada konten dan target akademik semata.
3. Kesenjangan Akses Teknologi
Bagaimana guru bisa mendampingi siswa di era digital, jika akses dan literasi digitalnya sendiri terbatas?
Ketimpangan ini membuat banyak guru kesulitan menjalankan peran sebagai pembimbing yang relevan dengan zaman.
Agar "Tut Wuri Handayani" tak hanya jadi hiasan di dinding sekolah, beberapa langkah strategis harus dilakukan:
1. Bangun Budaya Sekolah yang Progresif
Sekolah harus menjadi ruang tumbuh, bukan hanya tempat menghafal. Dorong diskusi, apresiasi, dan eksplorasi.
Buat siswa merasa aman untuk salah dan belajar dari kesalahan.
2. Tingkatkan Soft Skills dan Empati Guru
Guru masa kini adalah fasilitator, mentor, dan role model digital.
Pelatihan guru harus menekankan pada komunikasi dua arah, kecerdasan emosional, dan cara membangun relasi yang suportif.
Baca Juga: KPK Jawab Desakan Massa Aksi Terkait Dugaan Korupsi Rp8,3 Triliun di PT Pupuk Indonesia
3. Perkuat Literasi Digital yang Merata
Tak hanya siswa, guru juga perlu dibekali keterampilan digital—mulai dari mengelola pembelajaran daring hingga menyikapi tren edukasi yang cepat berubah. Keadilan akses harus jadi prioritas.
"Tut Wuri Handayani" bukan sekadar warisan sejarah. Ia adalah filosofi pendidikan yang visioner dan humanis.
Di era pendidikan yang makin dinamis dan multidimensi, makna semboyan ini justru makin kuat: Bahwa mendidik bukan soal memberi tahu, tapi tentang memberi ruang, mendengar, dan mendorong dari belakang.
Jika dijalankan dengan pemahaman utuh dan adaptasi cerdas, semboyan ini tak akan pernah usang. Ia akan terus menjadi kompas moral dalam membentuk generasi merdeka berpikir, berani mencoba, dan percaya pada dirinya sendiri.
Laporan: Laily Nuriansyah/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










