Hal Apa yang Perlu Diperhatikan dalam Penerapan Experiental Learning? Simak Poin-poin Penting Ini!

AKURAT.CO Experiential learning adalah metode pembelajaran yang menitikberatkan pada pengalaman langsung sebagai inti dari proses belajar.
Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima teori secara pasif, tetapi terlibat aktif dalam berbagai kegiatan, situasi, atau tantangan nyata yang kemudian mereka refleksikan untuk membangun pemahaman dan keterampilan baru.
Konsep ini dipopulerkan oleh David A. Kolb melalui model siklus pembelajaran pengalaman yang terdiri dari pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi abstrak, dan eksperimen aktif.
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Penerapan Experiential Learning
Agar implementasi experiential learning dapat berhasil dan tujuan pembelajaran tercapai secara optimal, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan.
1. Perencanaan yang Matang dan Tujuan yang Jelas
Perencanaan yang teliti menjadi kunci sukses penerapan experiential learning. Guru harus merumuskan rencana pembelajaran yang jelas dengan tujuan yang spesifik agar proses belajar dapat terarah dan bermakna.
Selain itu, guru perlu menyiapkan materi, alat, dan sumber belajar pendukung yang relevan sebelum kegiatan dimulai.
2. Peran Guru sebagai Fasilitator
Dalam experiential learning, peran guru berubah dari pengajar menjadi fasilitator yang membimbing siswa dalam mengeksplorasi pengalaman mereka sendiri.
Guru harus memberikan arahan, membangun suasana positif, dan memfasilitasi refleksi siswa tanpa mengambil alih kontrol pembelajaran.
3. Aktivitas Pembelajaran yang Menantang dan Relevan
Kegiatan pembelajaran harus dirancang untuk memberikan tantangan nyata yang relevan dengan konteks kehidupan siswa.
Aktivitas ini dapat berupa proyek, simulasi, praktek lapangan, atau studi kasus yang mampu menghubungkan teori dengan praktek secara langsung.
4. Refleksi sebagai Bagian Penting dari Proses Belajar
Refleksi merupakan tahap yang tidak kalah penting dalam experiential learning.
Melalui refleksi, siswa menganalisis pengalaman mereka untuk memahami makna, mengidentifikasi kesalahan, dan mengembangkan strategi baru dalam belajar maupun aplikasi praktis.
Guru perlu memfasilitasi diskusi dan evaluasi pengalaman tersebut agar hasil belajar lebih efektif.
5. Penyesuaian dengan Karakteristik Peserta Didik
Penerapan experiential learning harus disesuaikan dengan kebutuhan, minat, dan latar belakang peserta didik agar mereka lebih termotivasi dan nyaman dalam belajar.
Hal ini penting agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan peserta didik mendapatkan pengalaman yang bermanfaat.
Penerapan experiential learning yang baik meningkatkan keterlibatan siswa, memperdalam pemahaman konsep, serta mengasah keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Dengan belajar melalui pengalaman nyata, siswa juga lebih termotivasi dan memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









