Ciri-Ciri Anak yang Jadi Korban Kekerasan di Rumah, Wajib Tahu!

AKURAT.CO Kekerasan pada anak di dalam rumah tangga adalah isu serius yang sering kali tersembunyi.
Sebagai orang tua, guru, atau anggota masyarakat, sangat penting untuk mengetahui tanda-tanda yang menunjukkan seorang anak mungkin menjadi korban.
Dengan memahami ciri-cirinya, kita bisa lebih cepat bertindak untuk memberikan perlindungan dan bantuan yang diperlukan.
Berikut adalah ciri-ciri yang patut diwaspadai jika Anda mencurigai seorang anak menjadi korban kekerasan di rumah.
1. Ciri Fisik yang Mencurigakan
Tanda fisik adalah yang paling mudah dikenali, meskipun terkadang sulit dibedakan dari cedera akibat kecelakaan biasa.
Luka atau Memar Berulang: Perhatikan memar, luka bakar, atau bekas luka yang sering muncul tanpa alasan yang jelas atau penjelasannya tidak masuk akal. Luka yang konsisten di area tubuh tertentu seperti lengan, kaki, punggung, atau wajah bisa menjadi indikasi.
Pola Luka yang Aneh: Luka dengan pola unik, seperti bekas tali, ikat pinggang, atau bentuk benda tumpul lainnya, harus diwaspadai. Luka di area yang sulit terbentur secara tidak sengaja, seperti di telapak kaki, punggung, atau bokong, juga patut dicurigai.
Perubahan pada Berat Badan: Anak yang mengalami kekerasan, terutama dalam bentuk penelantaran, bisa mengalami penurunan berat badan drastis atau kekurangan gizi yang terlihat.
Kebersihan yang Buruk: Anak terlihat kotor, bau, atau pakaiannya tidak layak bisa jadi tanda penelantaran atau kurangnya perhatian dari orang tua.
2. Perubahan Perilaku dan Emosional
Kekerasan meninggalkan luka yang dalam secara mental dan emosional. Perubahan perilaku anak sering kali menjadi sinyal paling jelas.
Menjadi Sangat Agresif atau Sangat Pasif: Anak yang menjadi korban bisa menunjukkan perilaku ekstrem. Ada yang tiba-tiba menjadi agresif, suka marah-marah, atau bertindak kasar kepada teman-temannya. Di sisi lain, ada juga yang menjadi sangat pendiam, menarik diri dari pergaulan, dan kehilangan minat pada hal-hal yang dulu ia sukai.
Ketakutan Berlebihan: Anak mungkin menunjukkan rasa takut yang tidak biasa terhadap orang dewasa tertentu, tempat, atau situasi. Mereka mungkin terlihat cemas dan mudah terkejut.
Perilaku Regresi: Anak yang sudah melewati fase tertentu kembali ke perilaku masa lalu, seperti mengompol, mengisap jempol, atau menangis histeris. Ini adalah cara mereka mengatasi trauma yang mereka alami.
Kesulitan Berinteraksi Sosial: Anak korban kekerasan sering kali kesulitan membangun hubungan dengan teman sebaya atau orang dewasa. Mereka mungkin terlihat kaku atau takut saat berinteraksi.
Perilaku Merusak Diri: Pada remaja, kekerasan bisa memicu perilaku merusak diri, seperti melukai diri sendiri (self-harm), atau bahkan muncul pikiran bunuh diri.
3. Perubahan Kinerja Akademik
Lingkungan yang tidak aman di rumah sangat memengaruhi konsentrasi dan motivasi belajar anak.
Penurunan Prestasi di Sekolah: Nilai yang menurun drastis, hilangnya minat pada pelajaran, dan sering bolos sekolah bisa jadi tanda ada masalah di rumah.
Kesulitan Konsentrasi: Anak mungkin terlihat melamun, sulit fokus di kelas, atau sering mengantuk. Ini bisa disebabkan oleh stres, kurang tidur, atau ketakutan yang terus-menerus.
Menolak Sekolah: Anak sering membuat alasan untuk tidak pergi ke sekolah. Sekolah bisa jadi tempat perlindungan, tapi bagi sebagian anak, kekerasan di rumah membuat mereka terlalu takut atau malu untuk berinteraksi dengan orang lain.
Apa yang Harus Anda Lakukan?
Jika Anda melihat ciri-ciri di atas pada seorang anak, jangan diam. Berikut langkah yang bisa Anda ambil:
- Ajak anak bicara di tempat yang aman dan pribadi. Gunakan bahasa yang lembut dan meyakinkan bahwa Anda peduli.
- Jangan paksa anak untuk bercerita. Biarkan mereka merasa nyaman dan siap untuk berbicara.
- Segera laporkan dugaan kekerasan ini kepada pihak berwenang, seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau dinas sosial setempat.
- Jika Anda merasa aman untuk melakukannya, ajak orang tua anak berbicara. Namun, lakukan dengan hati-hati karena ini bisa berisiko.
Mengenali tanda-tanda kekerasan adalah langkah awal untuk menyelamatkan seorang anak.
Peran kita sebagai individu dalam masyarakat sangatlah besar untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Jangan pernah ragu untuk mengambil tindakan jika Anda mencurigai adanya kekerasan pada anak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









