Akurat

Apa yang Menjadi Pemimpin atau Jiwa dari Seluruh Sila-sila Pancasila? Dalami 3 Hal Berikut

Sultan Tanjung | 3 Desember 2024, 09:50 WIB
Apa yang Menjadi Pemimpin atau Jiwa dari Seluruh Sila-sila Pancasila? Dalami 3 Hal Berikut

AKURAT.CO Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, terdiri dari lima sila yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap sila memiliki makna dan nilai yang penting, namun ada satu sila yang dianggap sebagai pemimpin atau jiwa dari seluruh sila-sila Pancasila.

Artikel ini akan mengulas mengapa sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” dianggap sebagai pemimpin atau jiwa dari seluruh sila-sila Pancasila berdasarkan penjelasan dari berbagai jurnal ilmiah.

  1. Pengertian Sila Pertama sebagai Pemimpin atau Jiwa Pancasila

    Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hierarki Pancasila.

    Menurut Notonagoro, seorang ahli filsafat Pancasila, sila pertama ini memiliki posisi tertinggi dan terluas dalam susunan hierarkis-piramidal Pancasila.

    Hal ini berarti bahwa sila pertama menjiwai dan melandasi keempat sila lainnya, memberikan dasar moral dan spiritual yang kuat bagi seluruh nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

  2. Alasan Sila Pertama Menjadi Jiwa Pancasila

    • Landasan Spiritual dan Moral: Sila pertama memberikan landasan spiritual dan moral yang kuat bagi bangsa Indonesia. Pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mencerminkan keyakinan bahwa segala tindakan dan kebijakan harus didasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan moralitas yang tinggi.
    • Kesatuan dalam Keberagaman: Sila pertama juga menekankan pentingnya kesatuan dalam keberagaman. Dengan mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila menghormati dan melindungi kebebasan beragama dan kepercayaan setiap individu, yang merupakan fondasi penting bagi persatuan dan kesatuan bangsa.
    • Pengaruh terhadap Sila-sila Lainnya: Nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama mempengaruhi dan menjiwai sila-sila lainnya. Misalnya, nilai kemanusiaan yang adil dan beradab (sila kedua) didasarkan pada keyakinan bahwa semua manusia diciptakan oleh Tuhan dan memiliki martabat yang sama. Demikian pula, persatuan Indonesia (sila ketiga), kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan (sila keempat), dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (sila kelima) semuanya berakar pada nilai-nilai ketuhanan yang terkandung dalam sila pertama.
  3. Implementasi Sila Pertama dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

    Implementasi sila pertama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilihat dalam berbagai aspek, antara lain:

    • Kebijakan Publik: Kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah harus mencerminkan nilai-nilai ketuhanan dan moralitas yang tinggi. Hal ini termasuk dalam pembuatan undang-undang, peraturan, dan kebijakan yang adil dan beradab.
    • Pendidikan: Pendidikan di Indonesia harus mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan dalam kurikulum dan kegiatan sekolah. Ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa yang beriman, bertakwa, dan bermoral.
    • Kehidupan Sosial: Dalam kehidupan sosial, masyarakat Indonesia diharapkan untuk saling menghormati dan bekerja sama, terlepas dari perbedaan agama dan kepercayaan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai ketuhanan yang menekankan pentingnya toleransi dan kerukunan.

Kesimpulan

Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” dianggap sebagai pemimpin atau jiwa dari seluruh sila-sila Pancasila karena memberikan landasan spiritual dan moral yang kuat, menekankan kesatuan dalam keberagaman, dan mempengaruhi nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila lainnya.

Implementasi sila pertama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting untuk membentuk masyarakat yang adil, beradab, dan bermoral.

Dengan demikian, sila pertama tidak hanya menjadi dasar bagi Pancasila, tetapi juga menjadi jiwa yang menjiwai seluruh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.