Akurat

Bagaimana Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia Sampai Saat Ini dari Masa ke Masa?

Sultan Tanjung | 6 Agustus 2024, 23:45 WIB
Bagaimana Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia Sampai Saat Ini dari Masa ke Masa?

AKURAT.CO Ejaan bahasa Indonesia telah mengalami berbagai perubahan sejak pertama kali diperkenalkan.

Perubahan ini mencerminkan perkembangan bahasa dan kebutuhan komunikasi yang terus berkembang di masyarakat.

Artikel ini akan membahas perkembangan ejaan bahasa Indonesia dari masa ke masa, berdasarkan penjelasan dari berbagai jurnal ilmiah berdasarkan situs resmi Badan Bahasa Kemdikbud.

Ejaan van Ophuijsen (1901-1947)

Ejaan van Ophuijsen adalah ejaan resmi pertama yang digunakan di Indonesia.

Ejaan ini disusun oleh Charles A. van Ophuijsen dengan bantuan Engku Nawawi Gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.

Ejaan ini menggunakan huruf Latin dan beberapa tanda diakritik untuk menuliskan bunyi bahasa Melayu. 

Contohnya, huruf ‘oe’ digunakan untuk menuliskan bunyi ‘u’, seperti pada kata “goeroe” dan "itoe".

Ejaan Soewandi (1947-1956)

Ejaan Soewandi, juga dikenal sebagai Ejaan Republik, menggantikan Ejaan van Ophuijsen pada tahun 1947.

Ejaan ini disusun oleh Mr. Raden Soewandi, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan saat itu. 

Perubahan utama dalam ejaan ini termasuk penggantian huruf ‘oe’ menjadi ‘u’ dan penghapusan tanda apostrof.

Contohnya, “goeroe” menjadi “guru” dan “ma’af” menjadi “maaf”.

Ejaan Pembaharuan (1956-1961)

Melalui Kongres Bahasa Indonesia II di Medan tahun 1954, Prof. M. Yamin menyarankan agar Ejaan Soewandi disempurnakan.

Ejaan Pembaharuan ini mencakup standar satu fonem satu huruf dan perubahan diftong seperti ‘ai’ menjadi ‘ay’ dan ‘au’ menjadi ‘aw’.

Ejaan Melindo (1961-1967)

Ejaan Melindo adalah hasil kerja sama antara Indonesia dan Malaysia untuk menyatukan ejaan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Meskipun tidak bertahan lama, ejaan ini merupakan langkah penting dalam upaya penyatuan bahasa di kedua negara.

Ejaan Baru/Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) (1967-1972)

Ejaan Baru diperkenalkan pada tahun 1967 dan digunakan hingga tahun 1972.

Ejaan ini merupakan penyempurnaan dari ejaan sebelumnya dan mencakup beberapa perubahan kecil dalam penulisan kata.

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) (1972-2015)

Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diresmikan pada tahun 1972 oleh Presiden Soeharto.

EYD mencakup berbagai aturan baru dalam penulisan kata, penggunaan tanda baca, dan penulisan huruf kapital.

EYD digunakan secara luas dalam pendidikan, media, dan komunikasi resmi di Indonesia.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (2015-sekarang)

Pada tahun 2015, EYD diperbarui menjadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

PUEBI mencakup penyesuaian terhadap perkembangan teknologi dan komunikasi modern, serta penyempurnaan aturan ejaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan zaman.

Kesimpulan

Perkembangan ejaan bahasa Indonesia mencerminkan dinamika bahasa dan kebutuhan komunikasi yang terus berubah.

Dari Ejaan van Ophuijsen hingga PUEBI, setiap perubahan ejaan bertujuan untuk menyederhanakan dan menstandarkan penulisan bahasa Indonesia.

Dengan memahami sejarah perkembangan ejaan, kita dapat lebih menghargai pentingnya ejaan dalam menjaga konsistensi dan kejelasan komunikasi dalam bahasa Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.