Akurat

Pada Usia Awal, Anak Perlu Merasa Dirinya Cukup

Annisa Fadhilah | 7 Maret 2024, 18:18 WIB
Pada Usia Awal, Anak Perlu Merasa Dirinya Cukup

AKURAT.CO Sebagai orang tua, kita pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, tetapi di sisi lain kita juga ingin mengajarinya kemandirian dan arti kerja keras. Dilema antara kedua hal tersebut, kerap kali membuat orang tua dan para calon orang tua merasa bimbang.

Di sisi lain orang tua ingin memberikan fasilitas dan pelayanan yang terbaik untuk anak, namun juga orang tua tidak ingin memberikan kemanjaan tanpa batas pada buah hati mereka. Nah lho, kalau sudah begitu, bagaimana? Apa batasan ilmu parenting yang bisa kita terapkan perihal dilema tersebut?

Dalam hal ini, parents tidak usah khawatir, kita bisa membaginya dalam 2 fase tumbuh kembang anak. Fase pertama adalah di usia-usia awal anak, yakni saat dia lahir sampai menginjak pada usia remaja, bisa dimulai dari usia 12 tahun menurut Mappiare (dalam Ali dan Asrori, 2005).

Baca Juga: VIRAL Sosok Terduga Pelaku Bullying Remaja Perempuan di Batam, Bangga Unggah Miras Tapi Menangis Ketika Didatangi Keluarga Korban

Ketika dia lahir sampai pada usia 12 tahun, berikan segala yang terbaik untuk anak seperti makanan yang terbaik, fasilitas yang terbaik, pakaian terbaik, hingga kasih sayang yang cukup. Kita harus memastikan bahwa di fase-fase awal usianya dia merasa menjadi pribadi yang cukup. Jangan meremehkan arti dari rasa cukup pada diri anak, karena perasaan tersebut ternyata berimplikasi pada bagaimana dia bersosialisasi dan bagaimana mindset dia di masa depan.

Anak yang merasa cukup, ketika dia besar nanti, dia tidak akan menjadi orang yang "kepengenan" akan miliknya orang lain, "kepengenan" akan haknya orang lain, dan "kepengenan" akan kehidupan orang lain. Hal tersebut dikarenakan sudah ada rasa "fullfilled" di dalam dirinya. Dirinya sudah pernah merasa cukup dalam kehidupannya. Dia cenderung tidak akan menjadi pribadi yang serakah dan rakus. Untuk itu, mengapa "merasa cukup" itu begitu sangat penting ditanamkan pada diri anak.

Anak yang memiliki rasa cukup pada dirinya cenderung tidak akan menjadi pribadi yang akan membanding-bandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Dia juga tidak akan mudah tergerus arus dan cenderung memiliki prinsip yang tegas pada dirinya sendiri. Dia tidak akan menjadi seseorang yang "hanya ikut-ikutan trend" tetapi lebih kepada kemampuan untuk memahami dan mengamati diri sendiri mengenai apa yang membuatnya bahagia, dan apa yang dibutuhkannya. Dia akan memiliki kemampuan untuk menyadari bahwa "apa yang membuat orang lain bahagia" belum tentu membuatnya bahagia dan apa yang "diinginkan orang lain" belum tentu juga itu yang diinginkannya. Dia akan menjadi pribadi yang memiliki pendirian yang teguh atau kalau orang Jawa menyebutnya teteg yang berarti teguh dan juga konsisten Itulah mengapa pentingnya bagi anak merasa cukup.

Apalagi di zaman media sosial seperti saat ini, dimana kita semakin mudah melihat kehidupan orang lain. Tentu sikap teteg diperlukan agar kita tidak menjadi pribadi yang ikut-ikutan atau istilahnya zaman sekarang disebut FOMO (Fear of Missing out). Anak tidak akan takut, jika dia memiliki pandangan yang berbeda atau pendapat yang berbeda dengan orang kebanyakan, dia akan jauh lebih percaya diri, bahkan jika berbeda sekalipun.

Mengerti kan Anda, mengapa "merasa cukup" itu begitu sangat penting...

Baca Juga: 6 Cara Menghadapi Teman Yang Terjebak FOMO

Kemudian fase yang kedua yakni di masa remaja antara usia 12-18 tahun, Anda mulai bisa mengajarkan arti dari kerja keras dan pengorbanan untuk mencapai sesuatu. di usia-usia ini Anda bisa mengajarkan bahwa orang yang bekerja keras dan sabarlah yang akan mendapatkan apa yang dia inginkan.

Anda bisa memulai mengajarinya menabung jika ingin membeli sesuatu atau memberikannya beberapa tugas pekerjaan-pekerjaan kecil jika ingin mendapatkan reward tertentu namun memberikan reward juga jangan dilakukan terlalu sering karena bisa membuat anak ketergantungan akan sebuah imbalan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.