Heboh Kasus Putra Vincent, Apa yang Harus Orang Tua Lakukan Jika Anak Jadi Pelaku Bullying?

AKURAT.CO Sosial media tengah dihebohkan dengan kasus bullying yang menyeret anak Vincent Rompies sebagai salah satu pelaku. Peristiwa tersebut terjadi di Sekolah Internasional Binus Serpong, Tangerang Selatan.
Kronologi perundungan yang melibatkan anak Vincent terjadi untuk masuk ke anggota geng. Syarat untuk bergabung yakni membelikan makanan dan lainnya. Melalui proses syarat untuk masuk dalam geng tersebut kemudian timbul kekerasan fisik.
Baca Juga: Fakta-fakta Perundungan yang Terjadi di SMA Internasional Binus Serpong, Nomor 2 Mengerikan!
Melalui kejadian bullying yang diakukan oleh anak dari Vincent, sebagai orang tua apa yang harus dilakukan jika anak jadi pelaku bullying?
Melansir dari UNICEF, jika orang tua mengetahui anak melakukan penindasan, penting untuk diingat bahwa perilaku tersebut terjadi karena alasan.
Beberapa anak yang melakukan intimidasi sering kali hanya mencari perhatian hingga pelampiasan dari emosi yang sulit diatasi. Namun, tetap saja perilaku perundungan hingga kekerasan yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.
Dalam beberapa kasus, anak yang melakukan intimidasi dipicu karena menyaksikan kekerasan di rumah atau lingkungannya.
Terdapat beberapa langkah yang orang tua harus lakukan jika anak jadi pelaku bullying, berikut caranya:
1. Komunikasikan
Dengan berupaya untuk memahami mengapa anak melakukan tindakan bullying, tentu akan membantu orang tua mengetahuinya. Jika anak kesulitan menjelaskan perilakunya, sebagai orang tua, dapat memilih untuk mengonsultasikannya kepada konselor, pekerja sosial atau ahli kesehatan mental yang terlatih untuk menangani anak-anak.
2. Atasi dengan cara-cara sehat
Minta anak untuk menjelaskan hal yang membuat mereka frustasi dengan pikiran terbuka. Anda dapat mencoba untuk bertukar pikiran tentang kemungkinan di masa depan dan respon yang tidak merugikan. Dorong anak untuk membayangkan pengalaman orang yang ditindas.
3. Orang tua perlu intropeksi diri
Anak-anak yang melakukan intimidasi sering kali meniru apa yang mereka lihat di rumah. Apakah mereka terkena perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari orang tua atau pengasuh lainnya? Lihatlah ke dalam dan pikirkan dengan jujur tentang bagaimana sebagai orang tua menampilkan citra diri kepada anak.
Baca Juga: Liga Masih Berhenti, Rahmad Darmawan Pilih Introspeksi
4. Memberi konsekuensi dan kesempatan untuk melakukan perbaikan diri
Jika orang tua mengetahui anak menjadi pelaku intimidasi, penting untuk memberikan konsekuensi yang pantas tanpa melibatkan kekerasan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membatasi aktivitas mereka, terutama kegiatan seperti pertemuan sosial dan penggunaan media sosial yang mendorong terjadinya perundungan. Kemudian minta anak untuk minta maaf kepada korban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 7Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 8Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 9KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini
- 10Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi








