Bhinneka Tunggal Ika: Makna, Sejarah, dan Implementasi dalam Kehidupan Berbangsa

AKURAT.CO Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman. Berbagai suku, agama, ras, bahasa, dan budaya hidup berdampingan di bumi nusantara ini.
Keberagaman ini merupakan salah satu kekayaan dan keunikan bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan.
Untuk mengikat keberagaman tersebut, bangsa Indonesia memiliki semboyan yang sangat populer, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
Semboyan ini tertulis pada lambang negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila. Semboyan ini juga menjadi salah satu nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.
Namun, apa sebenarnya makna, sejarah, dan implementasi dari Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa? Berikut penjelasannya:
Makna Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah frasa dalam bahasa Jawa Kuno yang secara harfiah berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.
Frasa ini menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam perbedaan, namun tetap bersatu dalam satu kesatuan yang utuh.
Makna Bhinneka Tunggal Ika adalah bahwa bangsa Indonesia mengakui, menghormati, dan menghargai perbedaan yang ada di antara mereka, tanpa menghilangkan identitas dan kekhasan masing-masing.
Bangsa Indonesia juga menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang berdaulat dan beradab.
Bhinneka Tunggal Ika juga menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah halangan atau penghalang, melainkan justru menjadi kekuatan dan keindahan bagi bangsa Indonesia.
Perbedaan juga bukanlah alasan untuk saling bermusuhan atau berkonflik, melainkan justru menjadi peluang untuk saling belajar dan bekerja sama.
Baca Juga: Apa Saja Contoh Pelanggaran Bhinneka Tunggal Ika?
Sejarah Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika berasal dari kitab Sutasoma, sebuah karya sastra Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 Masehi.
Kitab Sutasoma menceritakan kisah seorang raja yang bernama Sutasoma, yang berusaha menyebarkan ajaran Buddha di tengah-tengah kerajaan yang beragam agama.
Dalam kitab Sutasoma, terdapat sebuah bait yang berbunyi:
Rwa bhineda tunggal ika tan hana dharma mangrwa Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal tan ana Iti Satwam anekadharmam bhinnam bhinnam ika tan hana Yekam yekam karoti bhaktim hyang siddhi moksa sevaya Bait ini dapat diartikan sebagai berikut:
Dua macam yang berbeda tetapi satu tidak ada agama yang berbeda Demikian pula dengan agama Buddha dan Siwa tidak ada yang berbeda Itu adalah makhluk yang memiliki banyak sifat berbeda-beda tetapi satu tidak ada Satu-satu mengerjakan pemujaan kepada Yang Maha Kuasa dengan cara moksa Bait ini mengandung makna bahwa semua agama pada hakikatnya sama, yaitu mengajarkan kebaikan dan keselamatan bagi manusia. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk saling membeda-bedakan atau memusuhi antara agama yang berbeda. Semua agama harus saling menghormati dan toleran satu sama lain.
Bait ini kemudian dipilih oleh para pendiri bangsa Indonesia sebagai semboyan negara, dengan mengambil empat kata pertama, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Pemilihan ini didasarkan pada kesadaran bahwa bangsa Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa, yang harus disatukan dalam satu bingkai negara.
Implementasi Bhinneka Tunggal Ika dalam Kehidupan Berbangsa
Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sekadar semboyan atau slogan, melainkan juga merupakan pedoman dan prinsip dalam kehidupan berbangsa.
Bhinneka Tunggal Ika harus diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti politik, hukum, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain.
Beberapa contoh implementasi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa adalah sebagai berikut:
-
Dalam bidang politik, Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan dalam bentuk sistem demokrasi yang menghormati hak-hak politik setiap warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memilih dan dipilih sebagai pemimpin, serta untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan.
-
Dalam bidang hukum, Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan dalam bentuk sistem hukum yang berkeadilan dan berkeadaban, yang menjamin perlindungan hukum bagi setiap warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kepastian hukum, perlakuan yang adil, dan penegakan hukum yang tegas.
-
Dalam bidang sosial, Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan dalam bentuk sikap sosial yang toleran dan harmonis, yang menghargai keragaman dan keberagaman yang ada di masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk saling menghormati, menghargai, dan membantu sesama, serta untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
-
Dalam bidang budaya, Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan dalam bentuk pengembangan dan pelestarian budaya yang beragam dan beraneka, yang mencerminkan jati diri dan kekhasan bangsa Indonesia, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Setiap warga negara memiliki hak untuk mengekspresikan dan mengembangkan budaya mereka, serta untuk mengenal dan menghargai budaya orang lain.
-
Dalam bidang ekonomi, Bhinneka Tunggal Ika diwujudkan dalam bentuk perekonomian yang berkeadilan dan berdaya saing, yang memberikan kesempatan dan kesejahteraan bagi setiap warga negara, tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan. Setiap warga negara memiliki hak untuk berusaha dan berinovasi, serta untuk mendapatkan akses dan pelayanan ekonomi yang layak.
Demikianlah makna, sejarah, dan implementasi dari Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa.
Semoga artikel ini dapat memberikan informasi dan inspirasi bagi Anda yang ingin mempelajari lebih lanjut tentang semboyan negara kita. Salam Bhinneka Tunggal Ika!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









