Akurat

Era Kendaraan Otonom Semakin Dekat, Simak Perkembangannya

Eko Krisyanto | 9 Juni 2025, 16:17 WIB
Era Kendaraan Otonom Semakin Dekat, Simak Perkembangannya

AKURAT.CO Masa depan transportasi yang sering kita lihat di film fiksi ilmiah kini semakin dekat. Kendaraan otonom tanpa pengemudi tidak lagi sekadar mimpi, melainkan teknologi yang terus berkembang pesat dan mulai diuji di berbagai belahan dunia.
 
Pertanyaan krusialnya adalah, siapkah jalanan kita untuk kendaraan otonom tanpa pengemudi? Artikel ini akan membahas berbagai aspek kesiapan, mulai dari teknologi hingga infrastruktur dan regulasi, untuk memahami bagaimana kita akan menyambut era baru mobilitas ini.

Teknologi Kendaraan Otonom: Sejauh Mana Perkembangannya?

Apa itu kendaraan otonom? Kendaraan otonom adalah mobil yang mampu mengemudi sendiri tanpa campur tangan manusia. Sistem ini menggunakan kombinasi sensor (radar, kamera, LiDAR), AI, dan GPS untuk memahami lingkungan sekitar dan mengambil keputusan berkendara.

Bagaimana teknologi ini berkembang? Saat ini, sebagian besar mobil yang kita lihat di jalan raya berada pada Level 2 otonomi (bantuan pengemudi seperti adaptive cruise control dan lane keeping assist).
 
Namun, produsen otomotif dan perusahaan teknologi seperti Waymo dan Cruise (unit dari General Motors) sedang menguji Level 4 dan Level 5 otonomi, di mana kendaraan dapat beroperasi sepenuhnya tanpa pengemudi di area tertentu atau di semua kondisi.
 
Menurut laporan dari McKinsey & Company, "Unlocking autonomous-vehicle development: TIER IV's open-source blueprint", 10 April 2024, teknologi kendaraan otonom terus menunjukkan kemajuan pesat, dengan perkiraan bahwa mobil otonom Level 4 dapat menjadi umum di beberapa kota besar pada awal dekade berikutnya.

Infrastruktur Jalanan: Tantangan dan Kesiapan

Di mana tantangan terbesar berada? Kesiapan infrastruktur adalah salah satu hambatan terbesar bagi adopsi luas kendaraan otonom tanpa pengemudi.

  • Peta Beresolusi Tinggi: Mobil otonom sangat bergantung pada peta yang sangat detail dan real-time. Banyak jalanan di berbagai negara belum memiliki pemetaan setingkat itu.
  • Konektivitas V2X (Vehicle-to-Everything): Untuk operasi yang optimal, kendaraan otonom perlu berkomunikasi tidak hanya dengan kendaraan lain (V2V) tetapi juga dengan infrastruktur jalan (V2I) seperti lampu lalu lintas, rambu, dan sensor jalan. Infrastruktur ini masih dalam tahap pengembangan di banyak tempat.
  • Kondisi Cuaca: Salju tebal, hujan deras, atau kabut dapat mengganggu kinerja sensor kendaraan otonom, memerlukan infrastruktur pendukung yang lebih cerdas.
  • Rambu dan Marka Jalan yang Jelas: Sistem visi komputer AI membutuhkan rambu dan marka jalan yang konsisten dan terpelihara dengan baik agar dapat menginterpretasikan lingkungan dengan akurat.

Aspek Hukum dan Regulasi: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Mengapa regulasi penting? Tanpa kerangka hukum yang jelas, adopsi kendaraan otonom akan terhambat. Pertanyaan seperti "Siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan?" menjadi sangat kompleks.

  • Regulasi yang Seragam: Setiap negara atau bahkan setiap negara bagian/provinsi di suatu negara mungkin memiliki regulasi yang berbeda, menciptakan kebingungan bagi produsen dan operator.
  • Lisensi dan Sertifikasi: Perlu ada standar global untuk lisensi perangkat lunak dan hardware kendaraan otonom, serta sertifikasi untuk kendaraan itu sendiri.
  • Asuransi: Model asuransi yang ada saat ini perlu diadaptasi untuk memperhitungkan risiko yang berbeda pada mobil tanpa pengemudi.

Penerimaan Publik: Faktor Kunci Adopsi

Siapa yang paling terpengaruh dan bagaimana penerimaannya? Penerimaan publik adalah faktor kunci. Meskipun banyak yang antusias, ada juga kekhawatiran:

  • Keamanan: Kekhawatiran utama adalah masalah keamanan dan keandalan sistem. Insiden atau kecelakaan sekecil apa pun dapat merusak kepercayaan publik secara signifikan.
  • Etika: Bagaimana mobil otonom akan membuat keputusan etis dalam situasi kecelakaan yang tidak dapat dihindari (misalnya, pilihan antara menabrak pejalan kaki atau penumpang)?
  • Dampak pada Pekerjaan: Profesi pengemudi (taksi, truk, bus) mungkin akan terpengaruh, memunculkan kebutuhan akan program reskilling.
Pertanyaan siapkah jalanan kita untuk kendaraan otonom tanpa pengemudi? adalah kompleks. Meskipun teknologi telah maju pesat, kesiapan infrastruktur, kejelasan regulasi, dan penerimaan publik masih memerlukan upaya kolaboratif besar.
 
Jalan menuju adopsi massal kendaraan otonom mungkin lebih panjang dari yang dibayangkan, namun potensi manfaatnya seperti pengurangan kecelakaan, efisiensi lalu lintas, dan mobilitas yang lebih inklusif membuatnya layak diperjuangkan.
 
Laporan Dwi Arya Rahmansyah Ramadhan (Magang)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.