Memakmurkan Ekonomi Tanah Air Melalui Ekonomi Kreatif Haji

Latar Belakang: Sebuah Paradoks yang Terabaikan
Setiap tahun, tidak kurang dari 220.000an jiwa warga Indonesia berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Ibadah Haji. Gelombang manusia ini bukan hanya merupakan peristiwa spiritual akbar, tetapi juga merupakan arus ekonomi potensial yang luar biasa besarnya.
Namun, potensi ini ibarat mutiara di dasar lautan—berharga, namun belum tergali optimal. Selama ini, perspektif ekonomi kreatif cenderung berfokus pada bagaimana produk-produk kreatif lokal dapat menembus pasar domestik dan global.
Sayangnya, pengelolaan pasar yang menyertai perjalanan haji masih sangat konvensional dan terlalu diserahkan kepada mekanisme pasar bebas tanpa intervensi strategis, menyebabkan kebocoran nilai ekonomi (economic leakage) yang besar.
Baca Juga: Dukung Ekonomi Hijau, Indonesia Serius Kembangkan Teknologi CCS
Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita mentransformasi ekosistem pengelolaan haji dari sekadar logistik keagamaan menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif berbasis jamaah?
Membangun Ekosistem Haji yang Kreatif: Dari Konsumen Menuju Produsen Nilai
Ekosistem haji yang ada saat ini masih memposisikan jamaah sebagai konsumen pasif. Mereka membeli produk—dari pakaian ihram dan songkok hingga tasbih dan cenderamata—yang seringkali diimpor atau didominasi oleh produk non-lokal yang membanjiri pasar di Arab Saudi.
Paradigma ini harus diubah. Kita perlu membangun sebuah ekosistem di mana jamaah haji menjadi bagian dari rantai nilai yang memakmurkan pelaku ekonomi kreatif dalam negeri.
Produk-produk ekonomi kreatif yang dapat dikaitkan dengan momen haji sangatlah beragam. Mulai dari fashion religius (busana muslim, desain ihram bernuansa nusantara, kain tenun untuk selendang atau sajadah), merchandise kreatif (tasbih dari kayu ulin atau kayu endemic, gelang dengan kaligrafi nama Allah yang dibordir, kalung dari batu akik Nusantara), hingga konten digital (aplikasi panduan haji, vlog kreatif, musik religi).
Sayangnya, tanpa ekosistem yang mendukung, produk-produk bernilai budaya tinggi ini kalah bersaing dengan produk massal yang diproduksi di luar negeri.
Dimensi Strategis Ekonomi Kreatif Haji: Sebuah Analisis Multidimensi
Pentingnya mengoptimalkan ekonomi kreatif haji tidak hanya terletak pada angka nominal, tetapi pada dampak berantainya yang strategis: Pertama, Dimensi Pengembangan UMKM. Sektor ekonomi kreatif di Indonesia didominasi oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dengan menciptakan pasar terjamin bagi produk mereka melalui kanal haji, kita memberikan injeksi modal dan stabilitas yang sangat dibutuhkan. Seperti dikemukakan oleh sosiolog ekonomi, Mark Granovetter, kekuatan "ikatan yang lemah" (weak ties) justru sering menjadi jembatan bagi peluang baru. Pasar haji menjadi "jembatan" yang powerful bagi UMKM untuk naik kelas.
Kedua, Dimensi Aktualisasi Kreator. Ekosistem ini memberikan panggung nyata bagi para desainer, perajin, dan seniman untuk mengaktualisasikan kreativitas mereka dalam konteks spiritual yang bermakna.
Ini sejalan dengan pemikiran Abraham Maslow tentang aktualisasi diri, dimana para kreator tidak hanya mencari profit, tetapi juga pengakuan dan pemenuhan makna melalui karya mereka. Seorang perajin tasbih dari Tasikmalaya akan merasa karyanya bermartabat lebih tinggi ketika digunakan oleh jutaan orang yang sedang beribadah di tanah suci.
Ketiga, Dimensi Konektivitas Antarnegara dan Budaya. Produk kreatif Indonesia yang dibawa jamaah haji adalah duta budaya yang paling efektif. Sebuah songkok dari tenun Bali atau sebuah tasbih dari kayu eboni Sulawesi menjadi pembuka percakapan budaya (cultural diplomacy) yang otentik.
Filosofi Walter Benjamin tentang "aura" sebuah karya senin dalam era reproduksi mekanis menemukan relevansinya di sini; keotentikan produk kerajinan tangan Indonesia membawa "aura" spiritual dan budaya Nusantara yang tidak tergantikan, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia pada masyarakat global.
Keempat, Dimensi Ketahanan Ekonomi Nasional. Dengan memutar dana haji di dalam negeri, kita memperkuat sirkulasi kapital domestik. Uang yang dibelanjakan jamaah tidak menguap ke ekonomi negara lain, tetapi kembali menggerakkan roda industri kreatif lokal, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan kolektif.
Kelima, Dimensi Kuantitas Pelaku. Sebagaimana disinggung, dengan asumsi 220.000 jamaah haji berbelanja minimal Rp 1.000.000 saja di Kampung Haji Indonesia, maka uang yang berputar langsung mencapai Rp 220 miliar. Tentu angka ini adalah estimasi yang sangat moderat. Dampak penggandanya (multiplier effect) akan jauh lebih besar, menyentuh sektor transportasi, bahan baku, dan tenaga kerja di dalam negeri.
Rekomendasi Kebijakan
Untuk mewujudkan visi ini, diperlukan kebijakan yang terpadu, berani, dan visioner dari pemerintah, dalam hal ini Kementerian Haji dan Umrah dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:
- Mempermudah Akses ke "Kampung Haji Indonesia" bagi UMKM di Indonesia. Pemerintah menunjuk area khusus ini menjadi pusat logistik dan ritel resmi bagi jamaah. Kebijakan dapat mewajibkan paket perjalanan haji termasuk kunjungan dan berbelanja di kampung ini. Kampung Haji ini harus menjadi etalase produk ekonomi kreatif Indonesia terbaik.
- Melakukan Standarisasi dan Kurasi Produk Kreatif Haji. Hal ini dilakukan dengan membentuk tim kurator yang terdiri dari ahli agama, desainer, dan pelaku ekonomi kreatif untuk menyeleksi dan menstandarisasi produk yang boleh dijual di Kampung Haji. Produk harus memenuhi syarat kehalalan, kualitas, dan muatan lokal yang tinggi. Kebijakan "Local Content" harus diterapkan secara ketat.
- Membangun Integrasi Digital dan Logistik. Hal ini dilakukan dengan cara mengembangkan platform digital yang menghubungkan pelaku UMKM kreatif dengan penyelenggara haji dan jamaah secara langsung. Platform ini juga terintegrasi dengan logistik untuk memastikan suplai produk berjalan lancar dari tanah air ke Tanah Suci.
- Melakukan Pendampingan dan Capacity Building. Hal ini dilakukan dengan memberikan pelatihan khusus bagi pelaku UMKM kreatif tentang selera pasar, packaging, dan cerita di balik produk (storytelling) yang dapat meningkatkan nilai jual produk di mata jamaah.
-----
*Tantan Hermansah, Pengajar Sosiologi Perkotaan UIN Jakarta
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini






