Langkah-langkah Kancil Prabowo

PIDATO yang hebat. Dari dalam ruang Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, pidato Presiden Prabowo Subianto yang berapi-api menggelegar ke seluruh bumi.
Berisi pesan-pesan kuat tentang kemanusiaan, perdamaian dan multilateralisme. Di pembukaan, Prabowo langsung mengingatkan bahwa mereka yang berkumpul di Markas Besar PBB sebagai satu keluarga besar, sebagai sesama manusia yang masing-masing diciptakan setara, dianugerahi hak yang tidak dapat dicabut untuk hidup, menghirup kebebasan, dan mengejar kebahagiaan.
Mewakili bangsanya, Prabowo menyakan dukungan kuat bagi penguatan organisasi PBB. Indonesia memahami bahwa kerja sama global sangat penting untuk menangani berbagai tantangan dunia.
Prabowo kuat mengajak dunia internasional untuk tidak tinggal diam ketika rakyat Palestina tidak mendapatkan keadilan dan pengakuan.
Dia juga mengajak semua untuk menolak doktrin legendaris “the strong do what they can, the weak suffer what they must”. PBB didirikan justru untuk menolak logika kekuasaan yang menindas pihak lemah dan memastikan keadilan bagi semua bangsa. “Kita harus membela semuanya, yang kuat dan yang lemah. Yang kuat tidak bisa selalu benar, yang benar harus benar".
Pujian datang dari sana-sini. Donald Trump, yang lebih dulu berpidato panjang lebar, juga kagum. Meskipun isi pidatonya sama sekali berlawanan dengan pesan-pesan kerja sama global yang digaungkan Prabowo.
"Pidato yang hebat. Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa,” ujar Trump saat Multilateral Meeting on the Middle East yang berlangsung di Ruang Konsultasi Dewan Keamanan PBB, Selasa (23/9/2025).
Kelincahan Prabowo dalam berdiplomasi, terutama terkait isu-isu kerja sama global dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina, sukses mengharumkan nama Indonesia.
Jauh sebelumnya dalam berbagai lawatan ke sejumlah negara, mulai dari kawasan Eropa hingga Asia, Prabowo konsisten mengampanyekan tata kelola dunia yang berlandaskan multilateralisme.
Kengototan Prabowo menyerukan perdamaian dunia juga diapresiasi banyak pemimpin negara. Ia selalu menegaskan bahwa Indonesia siap melakukan segala upaya untuk memastikan dunia yang lebih aman bagi generasi mendatang.
Prabowo lihai bermanuver di tengah pusaran geopolitik global. Ia melompat lincah dari satu forum ke forum lain membawa pesan multilateralisme dan perdamaian.
Tak cuma lincah cekatan. Prabowo juga cerdik memanfaatkan situasi dalam bernegosiasi. Salah satu bukti ketika ia bernegosiasi dengan Presiden Donald Trump untuk menurunkan tarif bea masuk produk ekspor Indonesia ke Amerika Serikat.
Pertengahan Juli lalu, sepulang dari perjalanan panjang ke Arab Saudi, Brasil, Inggris, Belgia, Perancis, dan Belarus, Prabowo yang masih fit di usia 73 tahun itu menghubungi Trump lewat sambungan telepon saat masih berada di Eropa.
Nego dengan Trump tentu alot. Percakapan via udara selama 17 menit berisi tarik ulur kepentingan dua negara terjadi hingga akhirnya Trump bersedia menurunkan tarif pajak resiprokal Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen. Tentu saja tidak gratis, namanya juga negosiasi!
Lincah, cerdik dan berani. Bagaikan sifat kancil dalam berbagai dongeng dan cerita rakyat Nusantara.
Anda mungkin tak setuju. Kok, Prabowo yang ingin menjadikan Indonesia Macan Asia diibaratkan kancil?
Kancil dalam budaya Nusantara dikenal sebagai sosok cerdik, lincah, dan berani menghadapi tantangan. Walau tubuhnya jauh lebih kecil dibanding lawannya. Mengaitkan sifat itu dengan diplomasi Presiden Prabowo, menurut hemat penulis, cukup pas dalam perspektif positif.
Prabowo cekatan dan lincah, luwes menjalin komunikasi dengan berbagai negara, baik besar maupun kecil. Cerdik dalam strategi diplomasi, memainkan peran aktif Indonesia di tengah dinamika global. Dan, berani menyuarakan dukungan kepada Palestina dan perdamaian dunia.
Diplomasi Prabowo adalah langkah kancil: cekatan, cerdik, berani plus tulus. Demi kepentingan bangsanya.
Tapi, diplomasi tentu bukan melulu urusan luar negeri. Diplomasi kancil yang dipraktikkan Prabowo di kancah dunia internasional, ternyata berlaku pula di dalam negeri. Dengan bantuan orang kepercayaannya.
Diplomasi, yang biasa dipahami sebagai seni dan praktik menjalankan negosiasi, dialog, dan kerja sama antar kelompok untuk mencapai tujuan nasional, serta menjaga hubungan damai tanpa konflik tajam, digerakkan Prabowo dengan Sufmi Dasco Ahmad sebagai operator.
Diplomasi kancil juga hidup di dalam negeri melalui langkah-langkah Dasco. Ketua Harian DPP Gerindra yang menjabat Wakil Ketua DPR RI. Dikenal cekatan dalam mengurai perkara pelik di panggung politik nasional, menjalankan fungsi diplomasi domestik dengan gaya khas yang bisa diterima semua kalangan, baik di dalam maupun di luar pemerintahan. Dasco hadir sebagai jembatan yang menyalurkan aspirasi sekaligus meredakan ketegangan.
Lihat saja kemarin (Rabu, 24/9/2025), Dasco 'mengumpulkan' pimpinan DPR sekaligus lima menteri Kabinet Merah Putih dan Kepala Staf Presiden, untuk mendengarkan aspirasi Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) dan sejumlah perwakilan organisasi petani, di Gedung DPR RI. Hasilnya, parlemen akan membentuk panitia khusus (Pansus) yang bakal menyelesaikan konflik agraria.
Awal September, Dasco tampil paling depan mewakili DPR RI menanggapi tuntutan publik yang dikenal sebagai '17+8 Tuntutan Rakyat’. Dasco mengumumkan langkah-langkah konkret hasil Rapat Konsultasi dengan para pimpinan fraksi. Langkah Dasco sukses setidaknya meredam kekecewaan publik kepada DPR.
Jauh sebelumnya, Dasco menjadi tokoh sentral dalam menyikapi keputusan kontroversial dari Kementerian Dalam Negeri soal empat pulau Aceh. Dasco pernah mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI) saat IHSG mengalami tekanan tajam. Kehadirannya disebut berhasil meredakan sentimen pasar. Sebelumnya lagi, Dasco menemui Presiden Prabowo bersama pimpinan DPR untuk menyampaikan kekhawatiran publik soal rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen.
Bahkan, Dasco pula yang mengintervensi kebijakan distribusi gas LPG 3 kg, yang sebelumnya hanya boleh dijual lewat pangkalan. Setelah melaporkan dampaknya ke Presiden, kebijakan itu dikoreksi dan penjualan via pengecer kembali diperbolehkan.
Dari keduanya kita bisa melihat pola yang serupa. Di luar negeri, Prabowo tampil lincah dan berani seperti kancil di tengah rimba pergaulan dunia. Di dalam negeri, Dasco menjalankan diplomasi politik yang tak kalah pentingnya untuk menjaga stabilitas dan kepentingan nasional.
Pada akhirnya, yang tercermin dari keduanya adalah praktik keberanian, kecerdikan, dan komitmen menjaga harmoni. Di panggung global maupun di rumah sendiri.
Tinggal sekarang bagaimana para pembantu Presiden Prabowo dan semua jajaran pejabat pusat maupun daerah, merespons 'langkah-langkah kancil' Kepala Negara dan orang kepercayaannya dengan langkah-langkah komunikasi publik yang baik.
Kebijakan-kebijakan pemerintah, yang tentu bertautan dengan hasil-hasil diplomasi di luar dan dalam negeri, mesti ditindaklanjuti dengan penyampaian capaian yang bisa diterima dan masuk akal. Kedepankan empati, sampaikan apa adanya, tak perlu membual. Rakyat pasti bisa menerima.
Dengan begitu, rakyat bisa dengan tenang menantikan langkah-langkah kancil Prabowo selanjutnya. Cekatan, cerdik, berani plus tulus. Demi kepentingan bangsanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










