Akurat

Aktivis Cipayung dan Magnet Bahlil

Wayan Adhi Mahardika | 15 Juli 2025, 13:11 WIB
Aktivis Cipayung dan Magnet Bahlil

Banyak aktivis muda merasa terwakili oleh perjalanan politik Ketua Umum Partai Golkar ini. Mereka seakan berkata, “Bahlil adalah kita.”

DINAMIKA politik Indonesia sering memunculkan kejutan. Sekarang muncul kejutan baru yang bisa disebut sebagai gelombang semangat baru. Yaitu, para aktivis muda dari kelompok Cipayung berbondong-bondong merapat ke Partai Golkar.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Sosok Bahlil Lahadalia menjadi magnet utama yang menggerakkan semangat baru itu.

Bahlil bukan anak pejabat. Ia juga bukan cucu saudagar besar atau pewaris dinasti politik. Latar belakangnya orang biasa, dari keluarga biasa. Namun siapa sangka, pria dari Fakfak, Papua Barat ini berhasil menembus lapisan kekuasaan tertinggi di negeri ini.

Bahlil dipercaya oleh dua presiden berbeda, Jokowi dan Prabowo, untuk memegang jabatan menteri di bidang ekonomi strategis, dan juga meraih kursi Ketua Umum Partai Golkar, partai besar yang diisi oleh politisi kelas kakap Indonesia.

Kisah Bahlil adalah cerita tentang kemungkinan. Tentang jalan panjang yang bisa ditempuh siapa saja yang berani, konsisten, dan punya gagasan besar.

Banyak aktivis muda merasa terwakili oleh perjalanan politik Ketua Umum Partai Golkar ini. Mereka seakan berkata, “Bahlil adalah kita.”

Sosok Bahlil adalah simbol bahwa perjuangan meraih puncak di politik tak harus selalu dari keluarga mapan, tapi bisa tumbuh dari semangat dan sistem kepartaian yang memberi ruang setara kepada semua orang.

Golkar, dalam konteks ini, jadi tempat yang relevan. Sejak era reformasi, Partai Golkar menunjukkan karakter yang demokratis secara internal. Tidak ada istilah "pemilik saham mayoritas" atau "darah biru politik" sebagai syarat jadi pemimpin. Yang dibutuhkan di Golkar hanyalah kapasitas, konsistensi, dan keberanian.

Mari lihat daftar ketua umum partai beringin. Ada Akbar Tanjung, yang berasal dari keluarga biasa. Jusuf Kalla dan Aburizal Bakrie dari latar saudagar. Agung Laksono dari keluarga sederhana. Setya Novanto dari keluarga biasa-biasa saja. Airlangga Hartarto memang berdarah politik, tapi prosesnya tetap melalui mekanisme partai. Terakhir, Bahlil kembali menegaskan: siapa pun bisa, kalau punya nyali dan isi kepala.

Bagi para aktivis Cipayung, ini adalah peluang. Selama bertahun-tahun mereka telah berjuang dari "luar pagar". Berdemo, menulis opini, berdiskusi, mengkritik. Tapi kini, saatnya mereka masuk ke tahap lebih sistemik dari "dalam pagar". Perjuangan yang paling konkret adalah masuk ke dalam sistem itu sendiri. Ikut dalam sistem, mempengaruhi dari dalam, dan membuat kebijakan yang nyata.

Aktivis sejatinya sudah punya modal besar: idealisme, kecakapan berpikir kritis, dan pengalaman advokasi. Mereka paham realitas sosial, punya keberanian moral, dan punya gagasan. Jika semua itu dimasukkan ke dalam sistem partai yang terbuka, maka lahirlah generasi pemimpin yang relevan dengan zaman.

Kecelakaan terbesar dalam hidup adalah ketika orang melek teknologi tapi buta politik. Karena politik bukan hanya soal kekuasaan. Politik adalah soal hidup orang banyak: pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, hingga harga sembako. Warga yang antipati pada politik, sesungguhnya mereka menyerahkan masa depannya sama sekali pada orang lain.

Aktivis Cipayung adalah kelompok masyarakat yang sudah melek politik. Dan Golkar tempat yang pas bagi mereka untuk berkiprah lebih banyak. Golkar bukan sekadar memberi tempat, tapi menyediakan jalur pembelajaran dan proses. Tidak ada yang instan. Tapi justru itulah pendidikan politik yang sebenarnya.

Aktivis bisa naik secara bertahap, belajar sistem, dan pada waktunya punya peran nyata di pemerintahan atau parlemen.

Fenomena bergabungnya aktivis muda ke Partai Golkar bisa dibaca sebagai momentum baru. Sebuah upaya kolektif dari generasi yang tak hanya ingin jadi komentator. Mereka kini ingin terlibat langsung dalam perubahan. Bukan sekadar mengritik dari luar, tapi menata dari dalam.

Dan Bahlil Lahadalia adalah bukti hidup bahwa itu mungkin. Bahwa sistem masih bisa ditembus oleh mereka yang datang dengan ketulusan dan kerja keras. Bahlil tentu bukan ikon sempurna, tapi ia simbol harapan, bahwa anak bangsa dari pelosok sekalipun bisa masuk ke jantung kekuasaan dan meraih posisi politik tinggi.

Arah politik Indonesia ke depan akan lebih cerah ketika diisi darah segar. Harus ada energi muda. Dan ketika aktivis Cipayung, dengan segala dinamikanya, memilih bergabung dengan Golkar, itu pertanda bahwa partai beringin telah merebut kepercayaan kaum muda. Sebuah babak baru sedang ditulis.[]

-----

*A. Zaki Iskandar, Ketua Partai Golkar Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.