Ketegangan dan Kekerasan di Balik Pungli, Membedah Kasus Penembakan di Bogor

SEORANG laki-laki bernama Torang Heriyanto alias Erik (45 tahun) ditemukan bersimbah darah di Jalan Perintis Kemerdekaan Kelurahan Kebon Kelapa, Bogor Tengah, Kota Bogor, pada 3 Februari 2025. Erik menjadi korban penembakan brutal.
Polres Kota Bogor menyatakan pria itu merupakan korban. Serangkaian masalah tersebut adalah terkait pungutan liar atau pungli, intimidasi dan balas dendam antarindividu dan kelompok.
Dalam kasus ini, meski insiden penembakan mengarah pada dendam pribadi, ada faktor lain yang turut memicu ketegangan yaitu pungli yang dilakukan di Pasar Mawar.
Kejadian ini memperlihatkan betapa buruknya dampak dari praktik-praktik ilegal seperti pungli. Yang tak hanya merugikan pedagang tetapi juga dapat memicu konflik berbahaya seperti yang terjadi pada 3 Februari lalu.
Pungli dan Intimidasi Akar Penyebab Ketegangan
Dalam tinjauan pertama, penting untuk melihat bagaimana praktik pungli dapat menciptakan ketegangan yang mengarah pada tindak kekerasan.
Berdasarkan keterangan yang ada, korban terlibat cekcok dengan pengelola pasar setelah ditegur terkait perilaku mengonsumsi minuman keras.
Kejadian ini menunjukkan bahwa pelaku penembakan dan korban terlibat dalam saling intimidasi, yang memicu konflik lebih lanjut.
Kasus ini semakin rumit dengan keterlibatan beberapa individu dan kelompok, yang tampaknya tidak hanya terikat pada urusan pribadi tetapi juga terkait dengan hubungan kekuasaan dalam konteks pengelolaan pasar dan pengumpulan pungli.
Praktik pungli sering kali menumbuhkan ketidakadilan dan kebencian yang mendalam di kalangan warga, yang pada akhirnya bisa memicu tindakan kekerasan.
Pada sisi lain, dari sudut pandang sosial, kita juga bisa melihat bahwa kasus penembakan ini tidak hanya berkaitan dengan pertikaian antarindividu. Tetapi juga mencerminkan persoalan yang lebih besar mengenai ketidakadilan dalam sistem ekonomi dan pengelolaan pasar.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan untuk menarik pungli atau melakukan intimidasi terhadap pedagang kecil dapat membentuk ketegangan yang merugikan banyak pihak.
Dalam situasi ini, masyarakat yang seharusnya dapat hidup dalam kedamaian dan rasa aman, malah menjadi korban dari ketidakadilan yang berasal dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab mengatur dan menjaga ketertiban.
Praktik-praktik semacam ini semakin memperburuk hubungan antara masyarakat dan otoritas yang ada dan menciptakan ruang bagi tindak kekerasan seperti yang kita saksikan dalam insiden ini.
Di sisi lain, kasus ini menunjukkan bahwa banyaknya faktor yang saling berkaitan dalam sebuah kejadian kekerasan.
Konflik yang dimulai dari cekcok kecil yang melibatkan alkohol, akhirnya berkembang menjadi bentrokan fisik dan berakhir dengan penembakan.
Hal ini menggambarkan bagaimana ketegangan antar kelompok bisa memuncak jika tidak dikelola dengan baik.
Dendam pribadi, yang sejatinya merupakan motivasi utama dalam penembakan ini, semakin diperburuk oleh adanya persaingan dan ketidakadilan sosial yang melingkupi kehidupan sehari-hari di tempat tersebut.
Oleh karena itu, kasus ini bukan hanya tentang masalah hukum terkait penembakan tetapi juga tentang bagaimana sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil dapat mendorong individu untuk mengambil tindakan ekstrem.
Peran Pemerintah dan Aparat dalam Mencegah Pungli
Ke depan, penting bagi pemerintah dan aparat penegak hukum untuk mengambil langkah preventif dalam menangani masalah pungli dan intimidasi.
Salah satu solusinya adalah dengan memperkuat pengawasan terhadap praktik-praktik ilegal seperti pungli yang meresahkan masyarakat.
Selain itu, perlu ada perhatian yang lebih terhadap bagaimana mencegah munculnya konflik antar kelompok di masyarakat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan lebih menggencarkan program edukasi yang menekankan pentingnya komunikasi yang sehat dan penyelesaian masalah dengan cara damai.
Serta memperbaiki sistem pengelolaan pasar agar lebih transparan dan adil.
Polisi juga memiliki peran penting dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat. Selain itu, kehadiran mereka di tengah masyarakat yang rawan tindak kejahatan, seperti yang terungkap dalam kasus ini, harus lebih tegas dan berkelanjutan.
Langkah-langkah preventif seperti pemasangan CCTV di tempat-tempat rawan dan patroli yang lebih intensif dapat mencegah terjadinya tindak kekerasan lebih lanjut.
Terkait kejadian yang telah terjadi pada kasus penembakan di Bogor terlihat bahwa tidak hanya menyoroti masalah hukum semata tetapi juga mengungkapkan masalah sosial yang lebih besar, yaitu ketidakadilan dalam sistem ekonomi dan pengelolaan pasar yang bisa memicu tindak kekerasan.
Ke depan, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif, bebas dari pungli dan tindak kekerasan.
Nilam Sari Pattinussa
(Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







