Akurat

Jejak Karbon Meningkat, Perubahan Iklim Kian Nyata

Eko Krisyanto | 8 Januari 2026, 18:59 WIB
Jejak Karbon Meningkat, Perubahan Iklim Kian Nyata

AKURAT.CO Perubahan iklim semakin dirasakan melalui kenaikan suhu global dan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem.

Salah satu pemicu utamanya adalah carbon footprint atau jejak karbon, yakni total emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivitas manusia sehari-hari, mulai dari penggunaan kendaraan, konsumsi listrik, hingga pola makan.

Apa Itu Jejak Karbon

Carbon footprint merupakan total emisi gas rumah kaca—terutama karbon dioksida (CO₂)—yang dihasilkan dari aktivitas manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Emisi ini diukur dalam satuan ton CO₂ ekuivalen untuk menggambarkan besarnya dampak terhadap lingkungan.

Jejak karbon tidak hanya dihitung pada level individu, tetapi juga organisasi dan negara.

Upaya menurunkannya menjadi kunci untuk menekan pemanasan global, menjaga keseimbangan ekosistem, dan meningkatkan efisiensi energi dalam jangka panjang.

Dampak terhadap Lingkungan

Peningkatan jejak karbon mempercepat pemanasan global yang memicu mencairnya es di kutub dan gletser. Dampaknya, permukaan laut naik dan wilayah pesisir semakin rentan terhadap banjir dan abrasi.

Baca Juga: Cermati Fintech Group Dorong Ekonomi Sirkular Lewat Program Pengelolaan Sampah

Selain itu, perubahan iklim memicu cuaca ekstrem seperti kekeringan panjang, hujan lebat tak menentu, badai yang lebih kuat, serta gelombang panas ekstrem.

Kondisi ini mengancam ketahanan pangan, kesehatan, dan keselamatan manusia.

Dampak lain yang tak kalah serius adalah krisis air bersih akibat berkurangnya cadangan air tawar dan intrusi air laut, kerusakan ekosistem yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas udara yang meningkatkan risiko penyakit pernapasan, serta meningkatnya risiko kebakaran hutan akibat suhu tinggi dan kekeringan.

Penyebab Utama Jejak Karbon Tinggi

Jejak karbon global masih didominasi pembakaran bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik dan energi.

Sektor industri berat seperti semen dan baja juga menyumbang emisi besar akibat penggunaan energi intensif.

Transportasi berbahan bakar fosil, terutama kendaraan bermotor dan pesawat, menjadi kontributor signifikan, khususnya di kawasan perkotaan.

Deforestasi memperburuk kondisi dengan mengurangi kemampuan alam menyerap karbon, sementara gaya hidup konsumtif dan penggunaan energi berlebih turut memperbesar jejak karbon individu.

Di sektor pertanian dan peternakan, penggunaan pupuk kimia serta emisi metana dari ternak menghasilkan gas rumah kaca dengan dampak yang lebih kuat dibanding CO₂.

Langkah Mengurangi Jejak Karbon

Upaya pengurangan jejak karbon dapat dimulai dari perubahan perilaku sehari-hari.

Penggunaan transportasi ramah lingkungan, penghematan energi di rumah, serta pemanfaatan energi terbarukan menjadi langkah konkret yang dapat dilakukan.

Baca Juga: Sadar Tensi Bakal Tinggi, Beckham Putra Perlakukan Duel Persib vs Persija sebagai Laga 'Normal'

Pola makan juga berperan penting, antara lain dengan mengurangi konsumsi daging merah dan memilih bahan pangan lokal.

Pelestarian hutan melalui penanaman pohon dan reboisasi membantu menyerap karbon, sementara gaya hidup berkelanjutan dapat menekan konsumsi berlebihan.

Setiap langkah kecil memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Pengurangan jejak karbon bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau industri, tetapi juga peran setiap individu demi menjaga bumi tetap layak huni bagi generasi mendatang.

Laporan: Aqila Shafiqa Aryaputri/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.