Partisipasi Anak dalam Aksi Iklim Harus Jadi Prioritas Nasional

AKURAT.CO Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan bahwa partisipasi anak dalam aksi iklim harus menjadi prioritas nasional, mengingat krisis iklim semakin mengancam pemenuhan hak dan masa depan mereka.
Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menyatakan, krisis iklim merupakan ancaman terbesar bagi keberlangsungan hidup anak.
Riset Global Save the Children 2025 Born Into the Climate Crisis 2 menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir pada dekade ini berpotensi akan mengalami bencana iklim dengan intensitas tertinggi dalam sejarah, mulai dari gelombang panas, banjir, kebakaran hutan, kekeringan, hingga krisis pangan.
“Pertunjukan imersif Aku, Kamu, Kita adalah Bumi yang diselenggarakan Save the Children Indonesia menjadi wadah bagi anak untuk menyampaikan pengalaman dan gagasan mereka terkait dampak krisis iklim, sekaligus menegaskan pentingnya suara anak dalam penyusunan kebijakan yang berpihak pada kepentingan terbaik anak,” ujar Arifah dalam keterangannya, Minggu (23/11/2025).
Ia menekankan bahwa Hari Anak Sedunia menjadi momentum untuk memastikan pemenuhan hak anak, terlebih karena mereka adalah pewaris bumi dan mengisi sepertiga populasi Indonesia.
“Jika seluruh anak memiliki literasi lingkungan dan kemampuan aksi nyata seperti para Child Campaigner Aksi Generasi Iklim, masa depan bangsa akan lebih kuat. Tugas kita adalah memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang melindungi, memberdayakan, dan membuka jalan menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Baca Juga: Perusahaan Didorong Sediakan Rumah Perlindungan bagi Pekerja Perempuan
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan komitmen pemerintah memperkuat ketahanan iklim yang berpihak pada anak.
“Anak-anak adalah bagian dari solusi, bukan sekadar penerima dampak. Inisiatif Aksi Generasi Iklim menunjukkan bahwa partisipasi anak harus menjadi prinsip dalam kebijakan perubahan iklim. Kepada anak-anak hebat di seluruh Indonesia, selamat Hari Anak Sedunia,” ucapnya.
Pratikno mengajak anak-anak menjadi pahlawan bumi melalui kebiasaan sederhana.
“Bumi sedang sakit, dan pahlawan supernya adalah kalian. Mulailah dari hal kecil: buang sampah pada tempatnya, kurangi plastik, hemat air, cintai tanaman, dan habiskan makanan. Setiap aksi kecil kalian menyelamatkan bumi,” tambahnya.
Menteri Agama Nasaruddin Umar turut menekankan bahwa merawat bumi adalah amanah spiritual.
“Manusia dan alam tidak terpisah, merusak alam berarti merusak diri sendiri. Kementerian Agama mendorong ekoteologi di rumah ibadah. Menanam pohon, menghemat air, dan mengurangi sampah bukan hanya aksi lingkungan, tetapi ibadah,” ujarnya.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, menegaskan bahwa anak merasakan langsung dampak krisis iklim.
“Krisis iklim bukan isu masa depan—ini terjadi hari ini. Anak-anak siap memimpin aksi iklim dan suara mereka harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata,” katanya.
Riset Save the Children Indonesia 2025 juga menemukan bahwa anak perempuan menghadapi beban ganda, mulai dari meningkatnya pekerjaan domestik pascabencana hingga keterbatasan akses air bersih dan sanitasi.
Namun, mereka terbukti memiliki kapasitas adaptasi tinggi dan menjadi agen penting ketahanan iklim.
Baca Juga: DPR Kritik Rencana ID Food Gadaikan Aset untuk Pinjaman Bank
Pertunjukan Aku, Kamu, Kita adalah Bumi menjadi ruang ekspresi dan partisipasi anak dalam isu krisis iklim.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Kampanye Nasional Aksi Generasi Iklim yang sejak 2022 dipimpin oleh anak dan orang muda untuk mendorong kebijakan iklim yang berpusat pada anak serta memperkuat ketahanan komunitas terdampak.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









