Akurat

Pejabat Publik Perlu Tobat Batin dan Jalankan Jabatan untuk Kebaikan Bersama

Paskalis Rubedanto | 25 Desember 2025, 12:32 WIB
Pejabat Publik Perlu Tobat Batin dan Jalankan Jabatan untuk Kebaikan Bersama

AKURAT.CO Uskup Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), Kardinal Ignatius Suharyo, menyatakan bahwa pertobatan bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan gaya hidup yang dilandaskan pada iman dan diwujudkan secara konkret. Termasuk oleh para pejabat publik dalam menjalankan amanah jabatan.

Menurut Kardinal Suharyo, dalam ajaran Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah.

Pemuliaan itu tidak berhenti pada ritual ibadah semata tetapi harus diterjemahkan dalam tindakan nyata berupa pelayanan kepada sesama demi kesejahteraan bersama.

"Memuliakan Allah itu mesti diterjemahkan secara konkret, yaitu di dalam bakti kepada Allah. Dan bakti kepada Allah itu wujudnya adalah bakti untuk sesama supaya manusia yang diciptakan sama itu mengalami kesejahteraan yang sama. Itulah yang namanya kesejahteraan umum," jelasnya dalam konferensi pers usai ibadah Misa Natal di Gereja Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).

Kardinal Suharyo mengakui bahwa kecenderungan untuk memuliakan diri sendiri kerap dialami setiap manusia, termasuk dirinya.

Baca Juga: Keuskupan Agung Jakarta Serukan Tobat Ekologis dalam Refleksi Natal 2025

Karena itu, pertobatan menjadi jalan untuk meluruskan kembali orientasi hidup agar selaras dengan tujuan penciptaan manusia.

"Saya secara jujur mengatakan, saya sering kali tidak memuliakan Allah. Saya tidak jarang jatuh pada yang namanya memuliakan diri sendiri. Saya kira semua orang mengalami itu," ujarnya.

Kardinal Suharyo menyoroti tanggung jawab moral para pejabat publik. Ia menekankan perbedaan mendasar antara sekadar menduduki jabatan dan memangku jabatan sebagai amanah untuk kebaikan bersama.

"Kalau seseorang diberi kesempatan menjabat, harapannya bukan sekadar menduduki jabatan. Ketika saya menggunakan jabatan itu untuk kepentingan saya sendiri, itu berbeda dengan memangku jabatan untuk kebaikan bersama," ujarnya.

Ia menilai maraknya kasus korupsi yang melibatkan kepala daerah dan pejabat publik menunjukkan bahwa jabatan belum sepenuhnya dijalankan untuk mewujudkan kesejahteraan umum. Kondisi tersebut menuntut adanya pertobatan yang serius.

"Kalau sekarang kita membaca berita-berita, melihat televisi hari-hari ini, sudah sekian kali kita membaca berita bupati ini ditangkap KPK, gubernur itu dan sebagainya. Ini kan artinya jabatannya tidak untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dia harus bertobat," jelasnya.

Lebih jauh, Kardinal Suharyo kembali menegaskan pandangannya bahwa bangsa Indonesia membutuhkan pertobatan nasional, yang berakar pada pertobatan batin setiap individu.

Baca Juga: Pesan Natal, Kardinal Suharyo Ingatkan Korupsi Merupakan Dosa Berat yang Berdampak Luas

"Maka beberapa waktu yang lalu saya mengatakan bangsa ini membutuhkan pertobatan nasional. Semua mesti bertobat, mengembalikan cita-cita kemerdekaan kita yang terumuskan dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945," katanya.

Menutup pesannya, Kardinal Suharyo menekankan bahwa bakti kepada Allah harus diwujudkan dalam pengabdian kepada Tanah Air dan sesama bangsa. Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.

"Dasarnya adalah pertobatan batin, memuliakan Allah, dan membaktikan hidup bagi Tuhan. Dan bagi Tuhan itu artinya bagi Tanah Air, bagi sesama bangsa," pungkasnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.