Akurat

Gus Yahya Balik Bantah Tabayun Rais Aam, Isinya Menohok!

Fajar Rizky Ramadhan | 24 Desember 2025, 13:19 WIB
Gus Yahya Balik Bantah Tabayun Rais Aam, Isinya Menohok!

AKURAT.CO Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf memberikan tanggapan panjang terhadap Surat Tabayun yang sebelumnya diterbitkan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar terkait polemik Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN-NU), narasumber asing, hingga dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Sebagaimana dikutip dari NU Online, pernyataan tersebut disampaikan Gus Yahya pada Selasa malam, 23 Desember 2025. Dalam keterangannya, Gus Yahya menegaskan perlunya meluruskan sejumlah hal yang menurutnya tidak sesuai dengan fakta.

“Dengan segala hormat dan permohonan maaf apabila ada kata-kata yang menyebabkan tidak berkenan, saya perlu menanggapi apa yang disampaikan oleh Rais Aam,” ujar Gus Yahya.

Baca Juga: Rais Aam PBNU Ungkap Gus Yahya Abaikan Perintah, Pelatihan Disponsori Lembaga Pro-Zionisme Jadi Pemicu

Gus Yahya membantah anggapan bahwa dirinya belum memperoleh tambahan narasumber Timur Tengah sebelum pelaksanaan AKN-NU. Ia menyebut telah mengamankan sejumlah tokoh internasional, di antaranya Mahmud Killic dari Turki selaku Direktur Jenderal IRCICA, Pemimpin Redaksi Al Ahram Mesir Muhammad Abu Al Fadl, intelektual Mesir Mustofa Zahran, serta Syekh Ali Jum’ah yang telah menyatakan kesediaan hadir dengan penjadwalan ulang karena kondisi kesehatan.

“Semua sudah saya laporkan kepada Rais Aam sebelum dimulainya AKN-NU, bahkan sebelum Rapat Gabungan Syuriyah Tanfidziyah yang memutuskan AKN-NU tetap dilaksanakan,” tegasnya.

Terkait polemik kehadiran Peter Berkowitz sebagai narasumber AKN-NU, Gus Yahya menyatakan bahwa tidak terdapat informasi publik yang menyebut Berkowitz berafiliasi dengan Zionisme. Ia menjelaskan, undangan tersebut didasarkan pada rekam jejak akademik Berkowitz sebagai profesor hukum di Universitas Stanford serta pengalamannya di pemerintahan.

“Saya telah menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas ketidaktahuan saya mengenai pandangan yang bersangkutan soal Zionisme,” kata Gus Yahya.

Ia juga memastikan bahwa materi yang disampaikan Berkowitz dalam AKN-NU maupun di Universitas Indonesia terbatas pada isu Hak Asasi Manusia Universal dan demokrasi, tanpa menyinggung konflik Palestina-Israel. Seluruh rekaman kegiatan tersebut, menurutnya, tersimpan dan dapat diperiksa.

Gus Yahya turut menanggapi peran Charles Holland Taylor atau Haji Muhammad Kholil, CEO Center for Shared Civilizational Values (CSCV). Ia menegaskan bahwa Taylor telah lama mendampingi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak 2003, kemudian berlanjut bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus), dan selanjutnya mendampinginya dalam berbagai aktivitas internasional NU.

“Semua yang dilakukannya yang berhubungan dengan NU sepenuhnya merupakan tanggung jawab saya,” tegas Gus Yahya.

Menjawab tuduhan dugaan TPPU yang menyeret nama mantan Bendahara Umum PBNU Mardani Maming, Gus Yahya menyatakan bahwa persoalan tersebut telah dijelaskan berulang kali dengan dasar analisis hukum.

“Dugaan TPPU dalam hal ini amat sangat lemah, untuk tidak mengatakan mustahil. Lebih mustahil lagi mengaitkannya dengan PBNU atau NU secara kelembagaan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa segala dugaan hukum harus melalui proses pembuktian yang sah sebelum ditarik kesimpulan apa pun.

Baca Juga: Rais Syuriah PWNU Jateng Sindir Gus Yahya: Zaman Gus Dur Tak Ada Tambang

Gus Yahya juga meluruskan informasi terkait pertemuannya dengan Rais Aam PBNU. Ia membantah klaim bahwa dirinya menghadap Rais Aam selama lebih dari dua jam pada 13 November 2025.

“Kami hanya berbicara tidak lebih dari setengah jam,” katanya.

Menurutnya, pertemuan lanjutan pada 17 November 2025 dilakukan dengan membawa dokumen tertulis terkait keuangan PBNU serta penjelasan hukum mengenai TPPU. Setelah itu, ia mengaku tidak lagi menerima panggilan lanjutan hingga digelarnya Rapat Harian Syuriyah yang berujung pada risalah berisi tuduhan terhadap dirinya.

Di akhir keterangannya, Gus Yahya menegaskan komitmennya untuk mendorong rekonsiliasi demi kebaikan organisasi.

“Saya memohon ishlah binaa-an ‘alal haq, bukan ‘alal bathil. Ishlah yang memulihkan nidham jam’iyah, bukan merusaknya lebih jauh,” pungkasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.