Akurat

PWNU Lampung: Rais Aam adalah Otoritas Tertinggi di Tubuh NU

Fajar Rizky Ramadhan | 15 Desember 2025, 07:00 WIB
PWNU Lampung: Rais Aam adalah Otoritas Tertinggi di Tubuh NU

AKURAT.CO Rais Syuriyah PWNU Lampung KH Shadiqul Amin menegaskan bahwa Rais Aam merupakan otoritas tertinggi dalam struktur kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Posisi tersebut memiliki kewenangan moral, keulamaan, dan kebijakan strategis dalam menjaga arah perjuangan serta kesinambungan khittah NU.

Menurut Shadiqul Amin, NU dibangun di atas tradisi keilmuan, adab, dan kepemimpinan yang berakar kuat pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Karena itu, kepatuhan kepada Rais Aam menjadi fondasi penting bagi persatuan dan keberlangsungan organisasi di semua tingkatan kepengurusan.

“Kepatuhan kepada Rais Aam bukanlah sekadar kepatuhan administratif atau formalitas struktural. Kepatuhan pada Rais Aam fondasi kesinambungan Khittah. Ketaatan ini merupakan wujud adab jam’iyah yang telah diwariskan oleh para masyayikh NU sejak awal berdirinya organisasi,” kata KH Shadiqul Amin, Sabtu, 13 Desember 2025.

Baca Juga: Kunjungi Jabar, Pj Ketum PBNU Zulfa Mustofa Ajak Pengurus NU Maksimalkan Pelayanan Umat

Ia menjelaskan, dalam tradisi NU, hubungan antara Rais Aam dan jajaran syuriyah di daerah dibangun atas dasar ta’dzim kepada ulama, penghormatan terhadap sanad keilmuan, serta komitmen menjaga kemaslahatan umat. Rais Aam juga dipandang sebagai simbol pemersatu warga NU di tengah beragam pandangan dan dinamika internal organisasi.

Karena itu, setiap perbedaan pendapat di lingkungan NU, menurutnya, harus disikapi secara dewasa melalui mekanisme musyawarah dan tetap berada dalam koridor kepemimpinan yang sah.

“Sikap ini menjadi kunci agar NU tetap kokoh sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Shadiqul Amin menambahkan, kepatuhan kepada Rais Aam merupakan tanggung jawab moral seluruh pengurus NU, baik di tingkat pusat maupun daerah. Ia menegaskan bahwa kepatuhan tersebut tidak menutup ruang kritik dan dialog, selama dilandasi niat menjaga persatuan, bukan mempertajam perbedaan.

Dalam konteks dinamika organisasi yang berkembang, ia mengajak seluruh warga NU, khususnya di Lampung, untuk kembali menguatkan nilai-nilai dasar NU, seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal.

Baca Juga: Kisruh PBNU dengan Pemecatan Gus Yahya, Cholil Nafis: Ada Indikasi Penetrasi Zionis ke PBNU

Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, hanya dapat terjaga apabila seluruh elemen NU bersikap patuh pada kepemimpinan tertinggi organisasi serta menahan diri dari sikap yang berpotensi memecah ukhuwah nahdliyah.

Menurut Shadiqul Amin, menjaga kepatuhan kepada Rais Aam berarti menjaga kesinambungan perjuangan NU sebagaimana diwariskan para pendiri, sehingga NU tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya dan terus berperan dalam merawat persatuan umat serta keutuhan bangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.