Komisi V DPR Belum Bentuk Panja Kasus Bandara IMIP: Kami Masih Cari Informasi

AKURAT.CO Komisi V DPR RI masih akan menelusuri dugaan pelanggaran terkait aktivitas, yang terjadi di kawasan Bandara Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.
Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menekankan perlu adanya pengumpulan data-data untuk selanjutnya membentuk panitia kerja (panja) khusus yang fokus menyelesaikan permasalahan ini.
"Sejauh mana, kami masih melihat apakah perlu kami bentuk panja khusus untuk ini, nanti kami lihat," kata Lasarus kepada wartawan, dikutip Sabtu (6/12/2025).
Baca Juga: Komisi V DPR Segera Selidiki Dugaan Pelanggaran Bandara PT IMIP
Dia mengatakan, panja akan dibentuk jika pihaknya memilki data yang valid dan tak terbantahkan oleh pihak yang terkait.
"Kalau ada banyak begitu data kami dapatkan, ketika kami konfirmasi ternyata juga tidak diakui oleh pihak sana, tapi kami punya data yang valid, mungkin kami akan naikan statusnya menjadi panja, supaya kita urai secara keseluruhan. Kita panggil semua pihak terkait supaya informasi ini tidak menjadi liar," jelasnya.
Menurutnya, bandara IMIP merupakan salah satu Proyek Strategi Naisonal (PSN). Karena itu, pihaknya sangat berhati-hati dalam menyelesaikan kasus tersebut agar tidak salah melangkah.
"Kami dari Komisi V hati-hati juga gitu loh. Ini kan Proyek PSN. Jangan sampai seolah-olah seluruh proses yang kita lakukan itu nanti sekedar untuk mempersulit saja," ucapnya.
Baca Juga: Beroperasi Tanpa Kendali Negara, Bandara IMIP Morowali Bisa Ancam Keamanan dan Kedaulatan Indonesia
Sebelumnya, ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, memberikan analisis terkait isu Bandara IMIP. Dia mengaku memiliki informasi, analisis, dan data yang cukup lengkap terkait operasi industri di Morowali, termasuk rekrutmen tenaga kerja, kondisi pelabuhan, hingga isu perbedaan data ekspor-impor antara Indonesia dan China.
Secara garis besar, dia ingin memperjelas isu bandara bukan masalah utama, melainkan indikasi awal dari persoalan yang lebih besar.
Yang membuat Ichsanuddin lebih khawatir adalah kondisi pelabuhan laut (seaport) di kawasan tersebut. Dia menyebut pelabuhan itulah sumber risiko terbesar, karena diduga beroperasi tanpa pengawasan Bea Cukai dan Imigrasi.
"Yang paling berbahaya menurut saya justru isu seaport ujungnya soal Bea Cukai dan soal Imigrasi," kata dia.
Selain itu, dia juga menyoroti bagaimana akses ke kawasan IMIP begitu tertutup, bahkan bagi pejabat negara. Dia heran bupati maupun gubernur pun tidak bisa masuk ke area tersebut.
Selain itu, dia mengungkap adanya data rekrutmen yang menunjukkan ribuan tenaga kerja asing masih didatangkan hingga 2025, dengan kisaran gaji dalam mata uang yuan. "Data yang saya punya, mereka masih merekrut, gaji minimal 8.000 yuan, ada yang sampai 20.000," jelasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








