Akurat

Denny JA Tekankan Pentingnya Suara Asia–Afrika di BRICS Award 2025

Oktaviani | 1 Desember 2025, 09:16 WIB
Denny JA Tekankan Pentingnya Suara Asia–Afrika di BRICS Award 2025

AKURAT.CO Penulis dan inovator sastra Indonesia, Denny JA, menegaskan pentingnya hadirnya suara Asia, Afrika, dan Amerika Latin dalam percaturan sastra dunia saat menerima BRICS Award for Literary Innovation 2025.

Penghargaan bergengsi tersebut diberikan kepada kreator yang dinilai menghadirkan perspektif baru serta terobosan konseptual dalam dunia sastra global.

Dalam pidato penerimaannya, Denny JA menekankan bahwa anugerah ini bukan sekadar apresiasi atas karya personal, tetapi terutama merupakan pengakuan terhadap kekuatan narasi Global South—wilayah yang kerap terpinggirkan dalam kanon sastra arus utama.

Denny JA menyoroti ketimpangan representasi dalam peta sastra dunia yang selama ini terlalu berpusat pada negara-negara tertentu.

“Kanon sastra global terlalu condong pada satu belahan dunia. Padahal manusia tidak bernafas dengan satu paru-paru saja," ujarnya, Senin (1/12/2025).

Ia menegaskan, imajinasi manusia juga tumbuh dari sawah-sawah di Jawa, township di Johannesburg, favela di Rio de Janeiro, hingga desa-desa tua di sepanjang Sungai Yangtze dan Gangga.

Menurutnya, miliaran manusia di Global South hidup dengan sejarah yang sarat luka, keajaiban, dan paradoks—narasi-narasi yang layak mendapat panggung setara dengan karya besar dunia.

BRICS Award, lanjutnya, adalah langkah penting untuk menyalakan “mercusuar baru” bagi karya-karya tersebut.

Baca Juga: Tiang Monorel Dibongkar, Macet di Rasuna Said Diprediksi Turun Hingga 18 Persen

Denny JA menyatakan bahwa inovasi dalam sastra bukan semata gaya artistik, melainkan kebutuhan moral zaman.

“Setiap generasi memerlukan bahasa baru untuk memahami dukanya, harapannya, dan kontradiksinya,” katanya.

Di tengah percepatan teknologi, ketimpangan yang melebar, dan munculnya bentuk-bentuk luka sosial baru, sastra harus terus mencari cara segar untuk mengungkapkan kebenaran.

“Inovasi sastra adalah jembatan antara kebenaran yang kita rasakan dan kebenaran yang berani kita ucapkan,” ujarnya.

Denny JA juga menjelaskan kembali gagasannya mengenai Puisi Esai, genre yang ia ciptakan lebih dari satu dekade silam.

Genre ini menggabungkan riset faktual dengan bahasa puitik untuk mengangkat tragedi nyata menjadi karya sastra yang lebih dekat dengan publik.

Ia mencontohkan isu perundungan, utang digital, korupsi, ketidakadilan gender, hingga pergulatan hidup masyarakat biasa.

Melalui Puisi Esai, fakta tidak lagi dingin dan emosi tidak berdiri sendiri, tetapi melebur menjadi pengalaman kemanusiaan bersama.

Menurutnya, BRICS Award ini menunjukkan bahwa eksperimennya telah menemukan resonansi internasional.

Menutup pidatonya, Denny JA berpesan kepada para penulis muda Asia, Afrika, dan Amerika Latin agar percaya pada nilai pengalaman mereka.

“Jika sastra bisa melakukan satu hal, biarkan ia mengingatkan bahwa setiap luka adalah pintu, dan setiap cerita adalah jembatan,” tuturnya.

“Realitasmu penting. Imajinasi kalian bukan catatan kaki dalam sastra dunia—tetapi masa depannya.”

BRICS Literature Award adalah penghargaan internasional untuk karya-karya dari negara-negara BRICS dan wilayah Global South yang dinilai memberikan inovasi bentuk, nilai budaya, serta kontribusi bagi lanskap sastra global.

Tahun ini, Indonesia meraih penghargaan khusus melalui karya dan gagasan inovatif Denny JA.

Baca Juga: Pemulihan Listrik Aceh Dikebut, Tower Darurat Dikirim Melalui Helikopter Hercules

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.