Akurat

Wakili Warga NU Akar Rumput, KH Imam Jazuli Bikin Surat Terbuka untuk Gus Yahya

Fajar Rizky Ramadhan | 29 November 2025, 06:00 WIB
Wakili Warga NU Akar Rumput, KH Imam Jazuli Bikin Surat Terbuka untuk Gus Yahya

AKURAT.CO KH Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, menyampaikan surat terbuka kepada Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Surat tersebut ia unggah melalui akun Facebook resminya dan dikutip pada Sabtu (29/11/2025).

Dalam surat itu, KH Imam Jazuli mengaku menulis dengan kapasitas sebagai bagian dari warga NU akar rumput yang tengah merasakan kegelisahan atas konflik internal yang terjadi di tubuh PBNU.

Surat tersebut dibuka dengan sapaan langsung. “Kepada yang terhormat DR. (HC) K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang kami cintai dan hormati,” tulisnya.

Ia menegaskan bahwa surat ini bukan instruksi ataupun posisi menggurui, tetapi ungkapan keresahan warga NU di tingkat bawah. Dalam tulisannya, KH Imam Jazuli menyampaikan bahwa dinamika yang terjadi belakangan ini telah menimbulkan kecemasan dan ketidaknyamanan bagi Nahdliyin.

Ia menulis, “Tentu saja, surat ini bukan titah, apalagi menyerupai fatwa, melainkan sekadar kegelisahan dari hati yang merindukan kembali keheningan dan kedamaian di taman sari kultur dan struktur Nahdliyyin.”

KH Imam Jazuli juga menjelaskan bahwa keresahan tersebut bukan hanya berasal dari dirinya, tetapi mewakili kondisi emosional para Nahdliyin di akar rumput. Ia menyebut bahwa warga NU berharap kehangatan, keteduhan, serta kebersamaan dapat dikembalikan dalam tubuh organisasi.

Baca Juga: KH Imam Jazuli: Polemik Pemberhentian Ketum PBNU Tak Perlu Islah, Gus Yahya Lakukan Pelanggaran Berat

“Dengan segala kerendahan hati, surat ini kami tulis, mewakili suara hati yang pedih dari akar rumput Nahdliyin yang berharap ada pelukan hangat dan kebersamaan dalam rumah besar kita, Nahdlatul Ulama,” ujarnya dalam surat terbuka itu.

Selain menyampaikan kegelisahan, KH Imam Jazuli juga menyinggung kapasitas dan ketokohan Gus Yahya. Menurutnya, warga NU tetap memandang Gus Yahya sebagai sosok pemimpin yang dihormati dan dicintai.

Ia menulis, “Gus, kami semua sayang sama panjenengan. Kami memandang Gus Yahya sebagai panutan dan pemimpin yang memiliki kapasitas luar biasa.”

Meski demikian, ia mengajak Gus Yahya agar berlapang dada dan menunjukkan sikap legowo demi keutuhan jam’iyyah. Ia menyebut bahwa ketaatan pada para kiai sepuh merupakan nilai luhur yang diwariskan para pendiri NU. “Adab dan manut (patuh) kepada kiai sepuh adalah mahkota kemuliaan kita,” tulisnya.

Dalam surat itu, KH Imam Jazuli menilai konflik internal PBNU telah menimbulkan kegelisahan luas di tingkat akar rumput. Ia mengibaratkan dinamika yang terjadi sebagai badai yang mengoyak perahu besar NU.

“Perahu ini, yang dibangun dengan cucuran keringat dan air mata para pendahulu, kini oleng dihantam ego dan kepentingan sesaat,” ujarnya.

Ia kemudian menyerukan agar Gus Yahya kembali pada khittah dan mendengarkan nasihat para sesepuh. Salah satu seruan kunci dalam surat itu berbunyi, “Sekali lagi, kami memohon dengan sangat, agar Gus Yahya berkenan untuk manut pada Syuriah, menerima keputusan atau arahan dari para sesepuh dan dewan syuriah, yang merupakan benteng moral dan marwah organisasi.”

Baca Juga: KH Imam Jazuli: Polemik Pemberhentian Ketum PBNU Tak Perlu Islah, Gus Yahya Lakukan Pelanggaran Berat

KH Imam Jazuli menegaskan bahwa konflik berkepanjangan hanya akan memperdalam keresahan warga. Ia berharap Gus Yahya bersedia menunjukkan ketulusan dan kelapangan hati untuk menjaga keteduhan NU.

“Kami percaya, dengan sikap legowo Gus Yahya, ketenangan akan kembali tercipta, dan marwah Nahdlatul Ulama akan tetap terjaga,” tulisnya.

Surat terbuka itu ditutup dengan harapan agar NU segera kembali damai dan teduh di bawah arahan para kiai sepuh. KH Imam Jazuli menutup tulisannya dengan salam dan identitas dirinya sebagai pengasuh pesantren.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.