Akurat

Muhammad Sirod: Jangan Ada ‘Ahli Jadi-Jadian’ di Balik Ledakan Program MBG

Ikhwan Fajar Ramadhan | 18 November 2025, 03:38 WIB
Muhammad Sirod: Jangan Ada ‘Ahli Jadi-Jadian’ di Balik Ledakan Program MBG

AKURAT.CO, Pernyataan Wakil Ketua DPR RI Cucun Syamsurizal soal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ditengarai menimbulkan kegelisahan di banyak kalangan.

Wasekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bidang Gizi, Muhammad Sirod menilai komentar seperti itu bisa menurunkan kepercayaan publik pada kerja besar percepatan gizi nasional. Menurutnya, masalah gizi tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan dangkal yang hanya melihat satu sisi persoalan.

Sirod menjelaskan, SPPG adalah kerja teknis yang membutuhkan standar, perhitungan, dan pengawasan ketat. Program ini melibatkan banyak pihak, dari penyedia bahan makanan sampai tenaga pendamping. Ketika ada komentar yang meremehkan proses ini, yang terancam adalah kredibilitas program dan kualitas layanan di lapangan.

Baca Juga: Cucun Akui Sudah Minta Maaf Soal Pernyataan Program MBG Tak Butuh Ahli Gizi

Ia menegaskan bahwa kualitas SDM yang mengelola SPPG tidak boleh dikompromikan. Pertumbuhan dapur dan titik layanan yang sangat cepat harus diimbangi dengan pelatihan, sertifikasi, dan sistem rekrutmen yang transparan. Tanpa langkah ini, risiko munculnya SDM yang tidak siap akan semakin besar.

Menurut Sirod, percepatan MBG memaksa seluruh rantai pendukung untuk beradaptasi. Industri ayam, sayuran, buah meja, baja untuk ompreng, hingga konstruksi baja ringan harus bersiap dengan peningkatan permintaan. Semua sektor pendukung perlu bergerak serempak agar layanan gizi berjalan stabil.

Ia menyampaikan, Badan Gizi Nasional (BGN) memerlukan ruang untuk bekerja dengan standar ilmiah yang jelas. Setiap kebijakan harus mengambil rujukan data, bukan opini spontan. BGN harus memastikan mutu pangan terpenuhi dari hulu sampai hilir.

Baca Juga: Sebut Program MBG Tak Butuh Ahli Gizi, Ini Klarifikasi Cucun Ahmad Syamsurijal

Sirod menilai bahwa komentar publik dari pejabat dapat mempengaruhi bagaimana daerah menafsirkan arahan pusat. Karena itu, ia meminta seluruh pihak menjaga akurasi pernyataan.

Program MBG berjalan sangat cepat, sehingga persepsi publik harus diarahkan pada pemahaman yang benar.

Ia pun mengajak DPR dan kementerian terkait untuk memperkuat koordinasi. Fokus utama saat ini adalah stabilitas pasokan, penguatan SDM, dan kualitas layanan gizi di titik-titik SPPG. Langkah-langkah teknis perlu diputuskan bersama agar program tidak kehilangan konsistensi.

Baca Juga: Profil Cucun Ahmad Syamsurijal: Politikus PKB yang Viral karena Pernyataan Soal Ahli Gizi

Di akhir wawancara, Sirod menegaskan bahwa yang dibutuhkan sekarang adalah disiplin mutu. Pernyataan yang tidak berbasis data hanya akan menghambat kerja besar nasional. Ia berharap seluruh pihak bekerja dalam koridor yang jelas demi tercapainya target gizi Indonesia.

Sebelumnya, Cucun mengklarifikasi pernyataannya yang menyebut program MBG tak memerlukan ahli gizi seraya menyampaikan permintaan maaf jika pernyataannya dalam Forum Konsolidasi SPPG di Kabupaten Bandung pada Minggu (16/11/2025) itu menyinggung profesi ahli gizi.

Menurut dia, usulan untuk mengubah diksi 'ahli gizi' di SPPG menjadi tim 'quality control' saat ini masih hanya wacana.

"Usulan perubahan dari 'ahli gizi' menjadi 'quality control' atau 'Pengawas Makanan Bergizi' masih sebatas wacana dan belum tentu diberlakukan," kata Cucun lewat akun Instagram Cucun Center, Senin (17/11/2025).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.