Akurat

Sekolah Wadah Pembentukan Karakter Bangsa, BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital

Wahyu SK | 1 November 2025, 08:47 WIB
Sekolah Wadah Pembentukan Karakter Bangsa, BNPT Dorong Siswa Banyumas Jadi Duta Toleransi Digital

AKURAT.CO Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar ilmu pengetahuan tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter kebangsaan.

Di sekolah, peserta didik belajar merawat kebhinekaan dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Prof. Dr. Irfan Idris, dalam Dialog Kebangsaan bersama Satuan Pendidikan Tingkat SMA/SMK/MA di Pendopo Sipanji, Kabupaten Banyumas, yang digelar Kamis (30/10/2025).

Acara yang diikuti oleh sekitar 130 siswa dan 70 guru serta kepala sekolah dari 38 SMA, SMK dan MA di Banyumas itu terselenggara atas kolaborasi BNPT dengan Komisi XIII DPR. Turut hadir pula Anggota Komisi XIII DPR, Fraksi PKS, H. Yanuar Arif Wibowo.

Baca Juga: BNPT dan Komisi XIII DPR Kolaborasi Tingkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama Kaum Perempuan

Dalam pemaparannya, Prof. Irfan mengajak para pelajar untuk mengambil tiga peran penting sebagai generasi muda di era digital.

"Pertama, jadilah generasi yang kritis dan bijak dalam bermedia. Kalian lahir di era teknologi tapi kecakapan digital bukan sekadar bisa mengoperasikan aplikasi, melainkan juga soal kebijaksanaan dalam menggunakannya," ujarnya.

Prof. Irfan menekankan pentingnya prinsip "Saring sebelum Sharing" agar pelajar tidak mudah terjebak hoaks dan provokasi.

"Gunakan kemampuan berpikir kritis untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya ke ruang publik," katanya.

Baca Juga: Kolaborasi dengan Komisi XIII DPR, BNPT Ajak Tokoh Agama Jadikan Keberagaman sebagai Benteng Lawan Radikalisme

Peran kedua adalah menjadi duta perdamaian dan produsen konten positif. Ia mendorong siswa agar tidak diam ketika ruang digital dipenuhi narasi kebencian.

"Gunakan kreativitas kalian untuk mengisi media sosial dengan pesan-pesan damai, toleransi dan kebersamaan lintas suku dan agama. Tunjukkan bahwa moderasi itu keren," ujar mantan Direktur Deradikalisasi BNPT tersebut.

Sementara, peran ketiga adalah menjaga toleransi di lingkungan nyata. Menurut Prof. Irfan, toleransi tidak cukup hanya dibicarakan melainkan harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari di sekolah.

"Mulailah dari hal sederhana seperti menghargai teman yang berbeda keyakinan, atau menghentikan perundungan karena perbedaan," pesannya.

Baca Juga: Jaga Indonesia dari Intoleransi dan Radikalisme, BNPT Ajak Masyarakat NTT Perkuat Komunikasi dan Deteksi Dini

Ia menyebut di tengah derasnya arus informasi dan keterbukaan digital, tantangan kebangsaan semakin kompleks. Narasi permusuhan dan ujaran kebencian dapat dengan mudah menyebar dan mengikis semangat persatuan.

Karena itu, sekolah memiliki peran vital dalam memperkuat moderasi beragama dan memperkokoh semangat kebangsaan.

"Dialog seperti ini harus melahirkan komitmen nyata di sekolah masing-masing. Jadikan sekolah kalian sebagai zona nol dari intoleransi, radikalisme dan kekerasan," tuturnya.

Prof. Irfan juga menegaskan pentingnya pembekalan bagi para tenaga pendidik agar memiliki daya tangkal terhadap paham ekstrem.

Baca Juga: Napiter Jadi Pengibar Bendera Upacara HUT RI di Nusakambangan, Deputi I BNPT: Bagian dari Penguatan Wawasan Kebangsaan

"Kalau guru terpapar paham radikal, dampaknya bisa sangat berbahaya bagi generasi muda. Karena itu, penguatan wawasan kebangsaan bagi pendidik juga tidak kalah penting," pungkasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi XIII DPR, H. Yanuar Arif Wibowo, menekankan pentingnya ruang dialog antara guru dan siswa untuk memperkuat daya tahan generasi muda terhadap berbagai pengaruh negatif.

Menurutnya, gagasan penyelenggaraan dialog kebangsaan ini muncul setelah melihat sejumlah kerusuhan di berbagai daerah yang ternyata melibatkan pelajar.

"Dari hasil diskusi saya dengan Kapolresta Banyumas dan Kapolresta Cilacap, banyak pelaku kerusuhan berasal dari kalangan pelajar. Karena itu, saya berkomunikasi dengan Kepala dan Sekretaris Utama BNPT agar kegiatan dialog damai ini bisa digelar khusus bagi siswa dan guru. Kita harus memberi perhatian serius kepada anak-anak muda demi menjaga keutuhan Indonesia," jelasnya.

Baca Juga: BNPT: Sinergi Lintas Sektoral Kunci Pencegahan Ekstremisme dan Intoleransi

Yanuar menegaskan generasi muda merupakan kekuatan strategis bangsa. Bukan sekadar karena jumlah atau usia tetapi karena mereka lahir dan tumbuh sebagai digital natives yang terbiasa dengan teknologi.

"Anak muda kita sangat kreatif, inovatif dan cepat beradaptasi terhadap perubahan (termasuk pelajar sekolah). Namun, kemampuan ini juga harus diimbangi dengan kebijaksanaan agar teknologi tidak menjadi bumerang," katanya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK