Akurat

Kronologi Lengkap Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung: Dari Gagasan Era SBY hingga Diselidiki KPK

Idham Nur Indrajaya | 27 Oktober 2025, 23:37 WIB
Kronologi Lengkap Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung: Dari Gagasan Era SBY hingga Diselidiki KPK

 

AKURAT.CO Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) merupakan salah satu proyek transportasi paling ambisius dalam sejarah Indonesia. Gagasan awalnya muncul di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2012 dan kemudian dilanjutkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, perjalanan proyek ini tidak semulus yang dibayangkan—mulai dari tarik-ulur antara Jepang dan Tiongkok, pembengkakan biaya yang fantastis, hingga kini masuk dalam penyelidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dugaan korupsi dan mark up anggaran.


Awal Gagasan di Era SBY

Wacana pembangunan kereta cepat Jakarta–Bandung pertama kali dicanangkan pada Maret 2012 oleh Presiden SBY. Saat itu, pemerintah menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk melakukan studi kelayakan.
Dalam studi tersebut, Jepang sebenarnya tengah mengkaji proyek kereta semi cepat Jakarta–Surabaya dengan jarak 748 kilometer yang diproyeksikan dapat ditempuh dalam waktu 5,5 jam.

Namun, proyek tersebut tak segera terealisasi hingga masa pemerintahan SBY berakhir.


Dilanjutkan Jokowi dan Tarik-Ulur Jepang vs Tiongkok

Ketika Presiden Joko Widodo menjabat pada 2014, proyek kereta cepat ini kembali dihidupkan. Pada Maret 2015, Jokowi menyetujui kelanjutan proyek KCJB dalam rapat terbatas.

Pemerintah kemudian membuka peluang bagi negara lain untuk ikut serta dalam pembangunan proyek ini. Dua negara besar, Jepang dan Tiongkok, bersaing ketat untuk menjadi mitra Indonesia.

  • Jepang menawarkan pinjaman berbunga rendah, hanya 0,1% per tahun dengan tenor 40 tahun dan masa tenggang 10 tahun.

  • Sementara Tiongkok datang dengan proposal pinjaman lebih besar, US$ 5,5 miliar dengan tenor 50 tahun dan bunga 2% per tahun.

Meski bunga pinjaman Tiongkok lebih tinggi, proposal dari negeri tirai bambu itu memiliki keunggulan penting: tidak membutuhkan jaminan dari pemerintah Indonesia karena menggunakan skema business to business (B2B).
Sebaliknya, Jepang menuntut adanya jaminan dari pemerintah, yang membuat tawarannya ditolak.

Setelah melalui evaluasi oleh Boston Consulting Group, pemerintah akhirnya menunjuk Tiongkok sebagai mitra resmi pembangunan proyek ini.


Lahirnya KCIC dan Awal Pembangunan

Untuk menjalankan proyek ini, pada Oktober 2015, dibentuklah perusahaan gabungan bernama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).
Kepemilikan saham KCIC terbagi menjadi:

  • 60% dimiliki oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium empat BUMN yakni:

    • PT Kereta Api Indonesia (KAI)

    • PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)

    • PT Jasa Marga Tbk (JSMR)

    • PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I

  • 40% dimiliki oleh China Railway International (CRI).

Pembangunan resmi dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Jokowi pada 21 Januari 2016 di Walini, Jawa Barat. Target awalnya, proyek ini rampung pada 2019. Namun, kenyataannya jauh dari harapan.


Masalah Pembebasan Lahan dan Pembengkakan Biaya

Kendala besar muncul di awal pembangunan: pembebasan lahan yang tak kunjung selesai. Akibatnya, pendanaan dari China Development Bank (CDB) sempat tertahan.
Pada 2017, proyek masih harus membebaskan sekitar 500 hektare lahan di kawasan Karawang–Purwakarta dengan biaya mencapai Rp2 triliun.

Masalah ini membuat biaya proyek terus membengkak.

  • Estimasi awal: US$ 5,5 miliar

  • Naik menjadi US$ 5,8 miliar, lalu US$ 6,07 miliar

  • Terakhir, diperkirakan tembus hingga US$ 7,97 miliar atau sekitar Rp113 triliun, lebih mahal Rp18 triliun dari rencana semula.


Pemerintah Akhirnya Turun Tangan

Karena beban biaya yang melonjak, proyek sempat terancam mandek. Pemerintah akhirnya turun tangan melalui Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021, yang mengizinkan penyertaan modal negara (PMN) dan pemberian penjaminan bagi proyek KCJB.

Dengan kebijakan ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mendapat beban utang tambahan sekitar US$ 1,2 miliar kepada China Development Bank (CDB).
Hingga kini, total utang KAI ke CDB mencapai sekitar Rp6,9 triliun.


Kereta Cepat “Whoosh” Akhirnya Diresmikan

Setelah mengalami penundaan hampir empat tahun dari jadwal awal, Presiden Jokowi akhirnya meresmikan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) pada 2 Oktober 2023 di Stasiun Halim, Jakarta Timur.
Kereta ini diberi nama Whoosh, akronim dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.

Meski resmi beroperasi, KCJB menghadapi tantangan baru. Jumlah penumpang harian masih jauh dari target 30 ribu orang per hari, sehingga biaya operasional belum tertutup sepenuhnya.


Utang, PMN, dan Sorotan KPK

Pada 22 April 2024, PT KAI kembali mengajukan penambahan penyertaan modal negara (PMN) untuk menutupi beban utang proyek KCJB.
Namun, perhatian publik justru tertuju pada penyelidikan KPK yang membuka dugaan penggelembungan anggaran atau mark up proyek ini.

KPK mengonfirmasi bahwa penyelidikan sudah dimulai sejak awal 2025. Isu ini mencuat ke publik setelah eks Menko Polhukam Mahfud MD menyebutkan dugaan mark up dalam proyek Whoosh lewat kanal YouTube pribadinya.

Mahfud menyoroti perbedaan biaya pembangunan yang mencolok. Ia mengatakan bahwa biaya per kilometer kereta Whoosh di Indonesia mencapai 52 juta dolar AS, atau jauh lebih tinggi dari perhitungan di China yang hanya sekitar 17–18 juta dolar AS.


Dana Proyek dan Skema Pembiayaan

Mengutip situs resmi KCIC, pendanaan proyek kereta cepat ini berasal dari dua sumber utama:

  • 75% dari pinjaman China Development Bank (CDB)

  • 25% dari setoran modal pemegang saham, terdiri atas PSBI (60%) dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. (40%)

Skema ini menjadi dasar kenapa proyek tersebut tidak menggunakan dana langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), setidaknya pada tahap awal.


Kesimpulan: Proyek Prestisius yang Masih Menyisakan PR

Kereta Cepat Jakarta–Bandung sejatinya adalah simbol ambisi Indonesia untuk melangkah ke era transportasi modern. Namun di balik kebanggaan itu, proyek ini menyisakan sejumlah persoalan serius: utang membengkak, penumpang belum sesuai target, dan dugaan korupsi yang kini sedang diselidiki KPK.

Apakah proyek yang diharapkan menjadi ikon kemajuan ini justru akan meninggalkan beban finansial berkepanjangan? Waktu yang akan menjawab.

Kalau kamu ingin terus mengikuti perkembangan terbaru soal proyek Kereta Cepat Whoosh dan penyelidikan KPK, pantau terus update selanjutnya di AKURAT.CO.

Baca Juga: KPK Selidiki Dugaan Mark Up Proyek Kereta Cepat Whoosh

Baca Juga: Apa Itu Cost Overrun pada Proyek Kereta Cepat di Indonesia? Ini Arti dan Dampaknya terhadap Biaya Negara

FAQ

1. Apa itu Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB)?

Kereta Cepat Jakarta–Bandung atau Whoosh adalah proyek transportasi modern pertama di Indonesia yang menghubungkan Jakarta dan Bandung dengan waktu tempuh sekitar 36–45 menit. Proyek ini dikerjakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), hasil kerja sama antara BUMN Indonesia dan perusahaan Tiongkok.


2. Kapan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung pertama kali digagas?

Gagasan pembangunan kereta cepat ini pertama kali muncul pada Maret 2012, di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, pemerintah bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) untuk melakukan studi kelayakan.


3. Siapa yang akhirnya membangun proyek ini: Jepang atau Tiongkok?

Awalnya proyek ini ditawarkan ke Jepang dan Tiongkok. Setelah melalui proses evaluasi, pemerintah memilih Tiongkok karena menawarkan skema business to business (B2B) tanpa jaminan dari pemerintah, sedangkan Jepang mensyaratkan jaminan negara.


4. Siapa saja pihak yang terlibat dalam proyek KCJB?

Proyek ini digarap oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), yang sahamnya dimiliki oleh:

  • PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebesar 60%, terdiri dari empat BUMN yaitu KAI, Wijaya Karya, Jasa Marga, dan PTPN I.

  • China Railway International (CRI) sebesar 40%.


5. Kapan proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung mulai dibangun dan diresmikan?

Pembangunan resmi dimulai pada 21 Januari 2016 dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Jokowi. Setelah beberapa kali tertunda, proyek ini akhirnya diresmikan pada 2 Oktober 2023 di Stasiun Halim, Jakarta Timur.


6. Berapa total biaya pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung?

Awalnya proyek ini diestimasi menelan biaya US$ 5,5 miliar, namun kemudian membengkak hingga sekitar US$ 7,97 miliar atau lebih dari Rp113 triliun. Pembengkakan terjadi akibat keterlambatan pembebasan lahan, penyesuaian konstruksi, dan biaya tambahan lainnya.


7. Dari mana sumber pendanaan proyek KCJB berasal?

Pendanaan proyek ini berasal dari dua sumber utama:

  • 75% dari pinjaman China Development Bank (CDB)

  • 25% dari modal pemegang saham KCIC, yaitu PSBI (60%) dan Beijing Yawan HSR Co. Ltd. (40%)


8. Kenapa proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung dikritik banyak pihak?

Proyek ini menuai kritik karena beberapa hal, antara lain:

  • Pembengkakan biaya yang mencapai miliaran dolar AS.

  • Utang besar PT KAI ke CDB sebesar sekitar Rp6,9 triliun.

  • Jumlah penumpang yang belum memenuhi target 30 ribu orang per hari.

  • Dan yang terbaru, dugaan korupsi atau mark up anggaran yang sedang diselidiki oleh KPK.


9. Apa benar proyek Kereta Cepat Whoosh sedang diselidiki KPK?

Ya. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membuka penyelidikan sejak awal 2025 terkait dugaan penggelembungan anggaran (mark up) dalam proyek KCJB. Dugaan ini mencuat setelah eks Menko Polhukam Mahfud MD mengungkapkan bahwa biaya per kilometer proyek di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding di Tiongkok.


10. Mengapa biaya proyek Kereta Cepat di Indonesia lebih tinggi dari di Tiongkok?

Menurut Mahfud MD, biaya per kilometer proyek Whoosh mencapai US$ 52 juta, sementara di Tiongkok hanya sekitar US$ 17–18 juta per kilometer. Perbedaan ini memunculkan dugaan adanya inefisiensi atau mark up biaya dalam pelaksanaan proyek di Indonesia.


11. Apa arti nama “Whoosh”?

Nama Whoosh merupakan akronim dari “Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat”. Nama ini menggambarkan kecepatan, efisiensi, dan inovasi dari kereta cepat pertama di Indonesia.


12. Apakah proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung menggunakan dana APBN?

Pada awalnya proyek ini dirancang tanpa menggunakan dana APBN, karena memakai skema business to business (B2B). Namun setelah biaya proyek membengkak, pemerintah akhirnya ikut menanggung sebagian biaya melalui Penyertaan Modal Negara (PMN) sesuai Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2021.


13. Bagaimana kondisi operasional Whoosh saat ini?

Kereta cepat Whoosh sudah beroperasi sejak Oktober 2023 dan melayani penumpang rute Jakarta–Bandung. Meski demikian, jumlah penumpang masih belum sesuai target, sehingga biaya operasional belum sepenuhnya tertutup.


14. Apa dampak ekonomi dari proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung?

Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan efisiensi transportasi antara dua kota besar, mendorong pariwisata dan investasi, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat. Namun, efektivitasnya masih menunggu hasil jangka panjang.


15. Apa langkah selanjutnya terkait dugaan korupsi proyek Whoosh?

Saat ini KPK masih dalam tahap penyelidikan awal. Jika ditemukan bukti kuat, kasus ini akan naik ke tahap penyidikan dan bisa melibatkan sejumlah pihak dari BUMN maupun swasta yang terlibat dalam proyek KCJB.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.