Akurat

Kementerian PPPA Beri Pendampingan Psikologis untuk Anak Korban Runtuhnya Pesantren Al Khoziny

Siti Nur Azzura | 2 Oktober 2025, 06:15 WIB
Kementerian PPPA Beri Pendampingan Psikologis untuk Anak Korban Runtuhnya Pesantren Al Khoziny

AKURAT.CO Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) konsisten dalam memenuhi hak atas anak yang menjadi korban runtuhnya bangunan mushola Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Plt Deputi BIdang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA, Ratna Susianawati, pihaknya bergerak cepat dalam proses pemulihan kepada korban anak yang sempat mengalami perawatan. Seperti memberikan pendampingan psikologis untuk korban dan keluarganya.

Dia menjelaskan, Kementerian PPPA terus berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di daerah Sidoarjo, Jawa Timur dalam memberikan pendampingan kepada korban.

Baca Juga: Nama dan Asal Santri yang Wafat Akibat Robohnya Bangunan Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Jawa Timur

"Karena fokus kejadian di Sidoharjo kami berkomunikasi untuk memastikan hak- hak anak terpenuhi," kata Ratna, di Jakarta, dikutip Kamis (2/10/2025).

Sebelumnya, bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kecamatan Buduran, Sidoarjo ambruk ketika tengah dicor Senin (29/9/2025). Saat kejadian, seratus santri lebih tengah Salat Ashar berjamaah di lantai dasar bangunan tersebut.

Laporan sementara, tidak kurang 140 santri ada dalam bangunan saat peristiwa tersebut. Sebanyak 102 santri berhasil menyelamatkan diri dan dievakuasi, namun 3 di antaranya meninggal dan puluhan masih terjebak di reruntuhan hingga kini.

"Santri yang meninggal dunia sebanyak tiga orang," kata Khofifah kepada awak media di Surabaya, Selasa, (30/9/2025).

Baca Juga: Kesaksian Santri: Detik-detik Bangunan Pesantren Al Khoziny Sidoarjo Roboh

Khofifah mengatakan proses evakuasi masih berlangsung. Puluhan ambulans disiagakan jika ada korban yang berhasil dievakuasi. Sebab, diperkirakan masih ada puluhan korban di dalam reruntuhan gedung.

Evakuasi tidak menggunakan eskavator sementara waktu karena kondisi reruntuhan bangunan saat ini belum memungkinkan menggunakan ekskavator. Petugas terus memberikan layanan kepada mereka yang masih bisa berkomunikasi di bawah reruntuhan.

"Termasuk memberikan oksigen dan air sehingga ada ketahanan tubuh juga deteksi monitor peralatan yang disiapkan," kata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.