DPR Sorot Jalan Tol: Macet, Rusak, Tapi Tarif Naik Terus!

AKURAT.CO Anggota Komisi V DPR RI, Mori Hanafi, menyoroti masih banyaknya ruas jalan tol yang belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM), meski pengelolanya telah meraup keuntungan besar.
Menurut Mori, dari total ruas tol yang ada, 21 di antaranya masih berada di bawah standar, sementara 54 ruas lainnya dinilai sudah memenuhi asumsi SPM versi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).
“Contohnya, Jakarta–Tangerang yang mencatatkan volume lalu lintas hingga 395 ribu kendaraan per hari, atau Tangerang–Merak yang tarifnya tinggi namun lalu lintasnya sangat padat. Tapi standar pelayanannya belum terpenuhi,” ujarnya, Kamis (25/9/2025).
Ia juga menyoroti Tol Cikopo–Palimanan (Cipali) yang meraih pendapatan lebih dari Rp1 triliun pada 2022, namun masih banyak dikeluhkan karena kondisi jalan bergelombang yang memicu kasus ban pecah.
Kondisi serupa juga terjadi pada Tol Jakarta–Tangerang dan Tangerang–Merak, yang kerap mengalami kemacetan parah dan belum memenuhi indikator kelancaran sebagai bagian dari SPM.
Baca Juga: Penutupan Tol Semanggi Bikin Macet Parah, Pramono Beri Teguran Keras ke Jasa Marga
Sementara itu, Tol Kayu Agung–Palembangyang sepi pengguna pun mengalami banyak tambalan jalan, sehingga menyulitkan pengelola untuk memenuhi standar.
“Kalau ruas yang belum untung besar belum memenuhi SPM, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi kalau sudah untung besar, seharusnya tidak ada alasan untuk pelayanan yang buruk,” tegasnya.
Mori juga mengkritisi kebijakan penyesuaian tarif tol yang dilakukan setiap dua tahun sekali, meski tidak semua ruas memenuhi standar pelayanan.
“Tol dalam kota selalu macet. Bagaimana bisa menerapkan indikator kecepatan rata-rata sebagai bagian dari SPM? Tapi tarif tetap naik tiap dua tahun,” katanya.
Ia menilai evaluasi yang dilakukan BPJT kurang objektif dan cenderung memihak pengelola.
“Kesimpulannya sering dipaksakan agar bisa membuka jalan untuk kenaikan tarif, padahal di lapangan masih jauh dari layak,” ujarnya.
Mori mendesak pemerintah untuk menunda kenaikan tarif tol, terutama pada ruas-ruas yang telah meraih keuntungan besar namun belum memenuhi SPM.
Baca Juga: Pidato Presiden Prabowo di Forum Internasional Dipuji, Dinilai Berani dan Visioner
“Untuk tol yang sepi, mungkin masih bisa diberi kelonggaran. Tapi untuk tol yang sudah sangat untung, jangan dulu naik tarifnya,” tutup Mori.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










