Akurat

Menteri PPPA Koordinasi dengan UPTD PPA Pastikan Perlindungan Anak yang Terlibat Demo

Ahada Ramadhana | 4 September 2025, 16:23 WIB
Menteri PPPA Koordinasi dengan UPTD PPA Pastikan Perlindungan Anak yang Terlibat Demo

AKURAT.CO Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mencatat ada ratusan anak yang terlibat aksi unjuk rasa di berbagai kota. Baik aksi 25 Agustus, 28 Agustus, maupun tanggal 29 Agustus 2025.

Pada 25 Agustus 2025, terdapat 105 anak yang terlibat aksi di Jakarta; pada 28 Agustus 2025 terdapat 1 anak yang terlibat dalam aksi di Makassar, 39 anak di aksi Bali.

Kemudian pada tanggal 29 Agustus, sekitar 110 anak terlibat dalam aksi gelombang kedua di Jakarta; 23 anak yang terlibat dalam aksi di Semarang; 25 anak dalam aksi di Yogyakarta; dan 56 anak dalam aksi di Surabaya.

Baca Juga: PU Bergerak Cepat Pulihkan Fasilitas Publik Pasca Aksi Demo di Jakarta

Selain itu, terdapat beberapa wilayah lain, seperti Solo, Kediri, Cirebon, Bandung, Nusa Tenggara Barat, dan Palembang yang masih belum teridentifikasi.

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, mengatakan pihaknya terus berkomunikasi dengan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) di masing-masing wilayah, untuk memastikan pendampingan sesuai kebutuhan bagi anak-anak yang terlibat dalam aksi demonstrasi.

Menurutnya data-data tersebut masih bisa berubah, mengingat rekan-rekan di daerah saat ini juga masih terus memantau perkembangan situasi dan melakukan pendataan. 

"Begitu kami melihat demonstrasi yang besar dan kami melihat banyak anak yang terlibat di situ, kami berkoordinasi dengan berbagai organisasi perempuan agar menjaga anak-anaknya, menjaga keluarganya untuk tidak keluar rumah dalam waktu tertentu sampai kondisi menjadi lebih baik," kata Arifah, dikutip Kamis (4/9/2025). 

Sebagai upaya pencegahan eksploitasi anak dalam demonstrasi, melalui organisasi perempuan pihaknya juga memberikan pemahaman kepada para orang tua, untuk mengedukasi anak-anaknya.

"Mereka memiliki hak bersuara, tapi harus mengikuti aturan supaya aman dan tidak merugikan orang lain,” tambah dia.

Baca Juga: Tolak Segala Bentuk Anarkisme dalam Aksi Demo, Mathla'ul Anwar: Jaga Persatuan Bangsa

Arifah juga melayat ke rumah duka Andika Lutfi Fala (16), seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang meninggal dunia, setelah mengikuti demonstrasi di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

Kunjungan ini merupakan bentuk perhatian dan empati pemerintah terhadap keluarga korban, sekaligus menegaskan komitmen dalam melindungi anak dari segala bentuk kekerasan.

"Kami jajaran Kemen PPPA menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya Andika Lutfi Fala, seorang anak bangsa dalam peristiwa demonstrasi di Jakarta pada 28 Agustus lalu. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita bersama untuk meningkatkan pengawasan keluarga, termasuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya," jelasnya.

Berdasarkan himpunan data terakhir, Andika Lutfi Fala merupakan satu-satunya korban meninggal dunia yang masih berusia anak.

Andika dinyatakan meninggal dunia usai menjalani perawatan di Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Dr. Mintohardjo, karena mengalami luka berat di bagian kepala akibat benturan benda tumpul.

Berdasarkan keterangan, Andika diduga diajak oleh temannya untuk mengikuti aksi demonstrasi tersebut, tanpa sepengetahuan keluarga dan guru di sekolah. Situasi ini diperparah karena Andika tidak memiliki alat komunikasi maupun kartu identitas, karena hilang saat dia mendaki gunung.

Baca Juga: Respons Resmi Pemerintah Indonesia Atas Desakan PBB Terkait Pengusutan Dugaan Pelanggaran HAM dalam Aksi Demo

"Mungkin sudah takdirnya. Kami tidak menyalahkan siapapun dan tidak menuntut apapun, yang penting dia tenang di sana. Kalau dibilang sedih, sedih banget. Kenang-kenangan sama dia itu terbayang semua. Saya kalau masuk kamarnya tidak sanggup, terbayang semua. Saya sayang mungkin Allah lebih sayang," kata Ayah korban, Abdul Gofur.

Dalam upaya meningkatkan perlindungan terhadap anak dalam situasi saat ini, Kementerian PPPA juga terus membuka saluran pengaduan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129 bagi orang tua, keluarga, maupun masyarakat, yang mengalami ataupun melihat adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak di situasi demonstrasi.

"Kami siaga melalui call center 129 atau Whatsapp 08111-129-129," kata Arifah. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.