Akurat

Profil Singkat Ir Soekarno: Sejarah dan Biografi Sang Proklamator dan Presiden Pertama RI

Shalli Syartiqa | 19 Agustus 2025, 21:05 WIB
Profil Singkat Ir Soekarno: Sejarah dan Biografi Sang Proklamator dan Presiden Pertama RI

 

AKURAT.CO Ir. Soekarno atau yang akrab disapa Bung Karno adalah tokoh sentral dalam sejarah Indonesia, dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan dan Presiden pertama Republik Indonesia​. 

Peran dan kontribusi Ir. Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan serta pembangunan bangsa sangat besar, menjadikannya salah satu pahlawan paling terkenal di Indonesia dan sosok yang dihormati di mata internasional.

Sehubungan dengan itu, berikut biografi lengkap presiden pertama Indonesia, Bung Karno.

Profil Singkat Ir. Soekarno

Nama dan Kelahiran

Soekarno lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur.

Nama "Kusno" kemudian diubah menjadi "Soekarno" saat usianya lima tahun karena sering sakit-sakitan, dengan harapan ia dapat tumbuh sehat.

Nama "Karno" terinspirasi dari tokoh pahlawan dalam perang Bharatayudha.

Ia juga dikenal dengan julukan "Putra Sang Fajar" atau "Sang Fajar" karena lahir saat fajar menyingsing, dan juga sebagai "Bung Karno".

Latar Belakang Keluarga

Soekarno adalah anak ketiga dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.

Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru sekolah dasar keturunan Sultan Kediri dan berdarah Jawa.

Ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali, merupakan putri bangsawan Bali dan keponakan Raja Singaraja terakhir.

Masa Kecil dan Pendidikan

Masa kecil Soekarno dihabiskan sebentar bersama orang tuanya di Blitar, sebelum kemudian tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulungagung, Jawa Timur.

Ia memulai pendidikan dasar di Eerste Inlandse School di Mojokerto, dan pada tahun 1911 pindah ke Europeesche Lagere School (ELS).

Setelah menamatkan ELS pada tahun 1915, Soekarno melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya, di mana ia tinggal bersama Haji Oemar Said (H.O.S.) Cokroaminoto, seorang politisi senior dan pendiri Syarikat Islam.

Di sana, jiwa nasionalismenya mulai ditempa dan ia mulai mengenal dunia perjuangan serta berinteraksi dengan berbagai tokoh politik seperti Agus Salim, Musso, Semaun, Alimin, dan Ki Hadjar Dewantara.

Pada tahun 1920, Soekarno pindah ke Bandung dan melanjutkan studinya di Technische Hoogeschool (THS) yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ia berhasil meraih gelar Insinyur pada 25 Mei 1926 dan diwisuda pada Dies Natalis ke-6 THS pada 3 Juli 1926.

Karier Politik dan Perjuangan Kemerdekaan

Awal Karier Politik

Sikap politik Soekarno sudah terbentuk sejak ia bersekolah di HBS, dipengaruhi oleh pengalaman diskriminasi dan pemikirannya yang mendalam dari hobi membaca.

Pada tahun 1918, ia menjadi anggota gerakan Jong Java dan aktif menulis di surat kabar SI dan Oetoesan Hindia, menunjukkan kemampuan retorika yang mengesankan dalam rapat-rapat Syarikat Islam.

Pada tahun 1925, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC) di Surabaya, yang menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dibentuk pada tahun 1927.

Melalui PNI, ia merumuskan ajaran Marhaenisme yang bertujuan untuk mencapai Indonesia Merdeka.

Gagasan dan aktivitas politiknya yang dianggap radikal membuat pemerintah kolonial Belanda menangkapnya pada 29 Desember 1929 dan memenjarakannya di Sukamiskin, Bandung.

Selama di penjara, ia menyusun pembelaan berjudul "Indonesia Menggugat" yang dibacakan pada 18 Desember 1930, mengungkapkan keserakahan Belanda dalam menindas bangsa Indonesia.

Pembelaan ini semakin memicu kemarahan Belanda, yang kemudian membubarkan PNI pada tahun 1930.

Setelah bebas pada Desember 1931, Soekarno bergabung dengan Partindo dan diangkat sebagai pemimpinnya, namun kembali ditangkap dan diasingkan ke Flores pada tahun 1933, kemudian ke Bengkulu pada tahun 1938.

Selama masa pengasingan, ia tetap aktif menulis esai dan pidato yang menginspirasi gerakan kemerdekaan.

Di Bengkulu, ia bertemu Fatmawati, yang kelak menjadi istrinya dan Ibu Negara pertama.

Peran dalam Proklamasi Kemerdekaan

Pada tahun 1942, pendudukan Belanda berakhir dengan masuknya Jepang ke Indonesia.

Soekarno dimanfaatkan oleh Jepang bersama pemimpin lainnya untuk menarik simpati rakyat Indonesia, dan ia aktif dalam organisasi bentukan Jepang seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI, dan PPKI.

Peran penting Soekarno dalam perjuangan kemerdekaan meliputi.

1. Perumusan Dasar Negara Pancasila: Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno merumuskan dasar negara Pancasila.

2. Penyusunan Teks Proklamasi: Bersama Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, Soekarno merumuskan teks proklamasi kemerdekaan di rumah Laksamana Maeda.

3. Proklamator Kemerdekaan: Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Ia juga bersama Hatta menandatangani naskah proklamasi.

Presiden Pertama Republik Indonesia

Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno terpilih sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dengan Mohammad Hatta sebagai wakilnya dalam sidang PPKI pada 18 Agustus 1945.

Selama masa pemerintahannya yang dikenal sebagai era nasionalisme dan kebijakan ekonomi terpimpin, Soekarno menghadapi berbagai tantangan, termasuk agresi militer Belanda dan berbagai pemberontakan di dalam negeri.

Di kancah internasional, Soekarno memiliki banyak prestasi dan vokal dalam menyuarakan isu kemerdekaan bangsa-bangsa di dunia.

Ia berhasil menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955 di Bandung, yang kemudian membentuk Gerakan Non Blok (GNB), dan menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara besar seperti Uni Soviet dan Tiongkok.

Akhir Kekuasaan dan Wafat

Pada tahun 1965, terjadi peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) yang menjadi awal kemunduran kepemimpinan Soekarno.

Kondisi politik Indonesia menjadi tidak stabil, yang mendorong Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) pada tahun 1966.

Surat ini mengalihkan mandat kepemimpinan kepada Soeharto, dan pada tahun 1967, Soekarno secara resmi digantikan oleh Soeharto sebagai Presiden.

Kesehatan Soekarno sudah menurun sejak Agustus 1965, dan ia didiagnosis mengidap penyakit gangguan ginjal.

Ir. Soekarno meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di Jakarta, pada usia 69 tahun, dan disemayamkan di Blitar, Jawa Timur, dekat dengan makam ibunya.

Pemerintah menganugerahkan gelar "Pahlawan Proklamasi" atas jasa-jasanya kepada bangsa Indonesia.

Selama hidupnya, Soekarno juga menerima gelar Doctor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam maupun luar negeri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.