Akurat

Mengenal Pulau Galang, Tempat yang Direncanakan Akan Jadi Penampungan Pengungsi dari Gaza

Idham Nur Indrajaya | 18 Agustus 2025, 19:52 WIB
Mengenal Pulau Galang, Tempat yang Direncanakan Akan Jadi Penampungan Pengungsi dari Gaza

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia berencana untuk menyediakan penampungan sementara bagi sekitar 2.000 korban perang Gaza. Lokasi yang kini ramai dibicarakan adalah Pulau Galang, sebuah pulau di Kepulauan Riau yang punya sejarah panjang sebagai kamp pengungsi Vietnam pada era 1980-an.

Rencana ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono pada Senin, 18 Agustus 2025. Menurutnya, pemerintah masih mengkaji berbagai aspek teknis sebelum memutuskan lokasi final, tetapi Pulau Galang menjadi salah satu opsi kuat karena memiliki infrastruktur kesehatan yang sudah siap.


Sejarah Pulau Galang: Dari Kesultanan Malaka ke Kamp Pengungsi

Pulau Galang tidak hanya punya nilai strategis saat ini, tapi juga menyimpan sejarah panjang sejak masa Kesultanan Malaka pada abad ke-16.

Menurut catatan Balai Pelestarian Budaya Kepulauan Riau (Kemendikbudristek), kata “Galang” bermakna “landasan”. Nama ini muncul dari kisah pembangunan bahtera Sultan Malaka di pulau tersebut karena kayu seraya yang melimpah.

Konon, saat pembuatan kapal berlangsung, seorang penduduk lokal bernama Canang datang dan dianggap mengganggu. Ia lalu diusir, hingga membuatnya murka dan bersumpah kapal Sultan tidak bisa turun ke laut. Untuk mengatasi sumpah itu, tujuh wanita hamil anak pertama dijadikan landasan kapal agar bisa diluncurkan. Dari peristiwa inilah istilah Galangan muncul, yang kemudian berubah seiring waktu menjadi Pulau Galang.


Pulau Galang di Era Modern

Kini Pulau Galang menjadi bagian dari Kecamatan Galang, Kota Batam, dengan luas wilayah sekitar 80 km². Pulau ini terletak 350 meter di tenggara Pulau Rempang. Pada tahun 1992, Pulau Batam, Rempang, Galang, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya disatukan dalam wilayah pengembangan yang populer dengan sebutan “Barelang”—yang juga identik dengan ikon Jembatan Barelang.

Selain sejarahnya, Pulau Galang juga memiliki berbagai fasilitas pendukung yang cukup lengkap, antara lain:

  • Jalan raya sepanjang 6 km

  • Fasilitas air minum dengan kapasitas 5 liter/detik

  • Pembangkit listrik 500 KVA

  • Dua sekolah dasar dan satu puskesmas

  • Sarana ibadah berupa gereja, candi, serta beberapa kuil peninggalan pengungsi Vietnam

Fasilitas-fasilitas ini membuat Galang tidak hanya punya jejak sejarah, tapi juga infrastruktur dasar yang mendukung kehidupan masyarakatnya.


Dari Kamp Vietnam ke Rumah Sakit Darurat

Nama Pulau Galang mungkin belum familiar di telinga banyak anak muda. Tapi sebenarnya, pulau ini menyimpan sejarah penting dalam hal pengungsian internasional.

Pada 1979–1996, Galang pernah menjadi kamp pengungsi Vietnam yang melarikan diri akibat perang Indochina. Selama lebih dari 17 tahun, tercatat lebih dari 120 ribu hingga 250 ribu orang pernah ditampung di sana sebelum akhirnya ditempatkan ke negara ketiga. Jejak sejarah itu masih bisa dilihat hingga kini melalui kawasan “Kampung Vietnam”, yang dijadikan semacam memorial.

Tak hanya itu, pada 2020 Pulau Galang kembali mendapat sorotan ketika pemerintah membangun Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI). Rumah sakit darurat ini memiliki kapasitas lebih dari 340 tempat tidur dengan 20 ruang ICU, dan sempat menjadi garda depan penanganan pandemi COVID-19. Infrastruktur inilah yang membuat Galang dinilai siap digunakan kembali dalam misi kemanusiaan untuk warga Gaza.


Lokasi Strategis Tapi Terkontrol

Pulau Galang berada di wilayah Batam, Kepulauan Riau, dan terhubung ke Pulau Batam melalui rangkaian Jembatan Barelang. Dengan akses jalan sepanjang sekitar 50–60 kilometer, jarak tempuh dari Batam ke Galang bisa mencapai 1–1,5 jam.

Kondisi ini membuat Galang cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari pusat logistik Batam, tapi juga terkontrol karena berada di wilayah yang relatif terpisah dari permukiman padat. Dengan kata lain, aspek keamanan dan pengawasan bisa lebih mudah dijalankan jika benar-benar dijadikan lokasi penampungan.


Aspek Teknis yang Masih Dikaji

Meski Pulau Galang terlihat ideal, pemerintah menegaskan bahwa keputusan final belum diambil. Menlu Sugiono menyebut ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari kapasitas infrastruktur, akses logistik, hingga koordinasi dengan pihak Palestina.

Pemerintah juga memastikan, program ini bukan bentuk relokasi permanen. Fokusnya murni pada bantuan medis dan kemanusiaan, sehingga begitu para korban perang pulih, mereka akan dikembalikan ke tanah air mereka.

Baca Juga: Prabowo Sediakan Pulau Galang untuk Korban Perang di Gaza, Bukti Indonesia Junjung Tinggi HAM

Baca Juga: Sumber Rahasia Ungkap Israel dan Sudan Selatan Diam-diam Bahas Kesepakatan Relokasi Penduduk Gaza

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.