Akurat

Menteri PPPA Dorong Sinergi Lintas Agama Atasi Darurat Kekerasan Perempuan dan Anak

Ahada Ramadhana | 5 Agustus 2025, 19:31 WIB
Menteri PPPA Dorong Sinergi Lintas Agama Atasi Darurat Kekerasan Perempuan dan Anak

AKURAT.CO Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas agama dalam mengatasi kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor sejalan dengan amanat Presiden Prabowo, yang menyatakan bahwa tidak ada satu kementerian yang bisa berjalan sendiri. 

"Semua harus saling bersinergi dan berkolaborasi. Selain itu, mendiang Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga selalu mengajak teman-teman lintas agama untuk bekerja sama menyelesaikan persoalan bangsa. Saya yakin ketika semua pihak bergandengan tangan, bersinergi, dan berkolaborasi, persoalan perempuan dan anak yang ada dapat diselesaikan bersama-sama," kata Arifah, Selasa (5/8/2025).

Baca Juga: Penguatan Ketahanan Keluarga Penting untuk Cegah Kekerasan Anak dan Perempuan

Untuk itu, dia mengajak Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) untuk mengambil peran lebih besar dalam menguatkan ketahanan keluarga melalui nilai-nilai agama.

Menurutnya, pendekatan berbasis nilai keagamaan dan budaya lokal sangat strategis untuk menjawab tantangan zaman.

"Kami mengajak seluruh FKUB dan komunitas lintas iman lainnya untuk memperkuat kembali pondasi agama di setiap umat beragama, melalui strategi yang tepat sehingga toleransi dan kebersamaan dapat diwujudkan. Saya juga berharap Semarang dapat menjadi pilot project dalam menguatkan perempuan dan anak melalui kolaborasi strategis dengan FKUB, dan model ini bisa direplikasi di daerah lain," jelasnya, 

Berdasarkan hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 dan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024, satu dari empat perempuan dan satu dari dua anak di Indonesia pernah mengalami kekerasan.

Selain itu, sepanjang Januari hingga pertengahan Juni 2025, Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) mencatat sebanyak 11.850 kasus kekerasan.

Untuk mengatasi hal tersebut, Kemen-PPPA melanjutkan program sebelumnya yang diinisiasi oleh menteri terdahulu, yaitu Desa/Kelurahan Ramah Anak dan Perempuan (DRPPA). Namun, program ini kini diubah namanya menjadi Ruang Bersama Indonesia (RBI).

Baca Juga: Kasus Kematian Diplomat Kemlu: Ada Memar di Tubuh, Tapi Bukan Akibat Kekerasan

"Perubahan ini membawa satu tambahan indikator penting, yaitu adanya kolaborasi, sinergi, dan partisipasi aktif dari berbagai pihak serta masyarakat. Program ini bertujuan untuk menciptakan desa ideal yang bebas stunting, memastikan anak-anak bersekolah, dan memberdayakan perempuan," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, mewakili pemerintah kota Semarang yang memfasilitasi pertemuan menyampaikan Pemerintah Kota Semarang mengapresiasi inisiatif komunitas lintas iman dalam menciptakan ruang belajar toleransi untuk anak-anak.

Salah satunya adalah program Semarang Anak Damai, yang mengajak anak usia 10–13 tahun mengunjungi rumah ibadah dari berbagai agama, guna memahami perbedaan secara langsung dan membangun sikap saling menghargai.

"Upaya menjadikan rumah ibadah sebagai ruang publik ramah anak juga terus digencarkan. Sejumlah masjid, gereja, dan pura di Semarang mulai bertransformasi menjadi ruang terbuka yang aman bagi anak dan perempuan, dengan kolaborasi bersama aktivis serta organisasi keagamaan," ucapnya.

Selain itu, Ketua FKUB Kota Semarang, Kyai Mustamaji juga menegaskan pentingnya kolaborasi semua elemen masyarakat dalam memperkuat ketahanan sosial berbasis nilai agama dan budaya lokal.

Dia mengajak semua pihak, untuk menjadikan toleransi dan kerukunan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Dia juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan Kemen PPPA, dalam mendorong kolaborasi antar umat beragama untuk menjaga keutuhan bangsa.

"Baru-baru ini kota Semarang mendapat peringkat ketiga dalam Indeks Kota Toleran. Harus diakui itu bukan saja peranan FKUB, tetapi juga ada inisiasi seperti Persaudaraan Lintas Iman (PELITA) sebagai gerakan akar rumput yang aktif menjaga harmoni antar umat beragama. PELITA tumbuh dari inisiatif masyarakat sipil dan memiliki daya jangkau yang lebih luas. Kolaborasi memang sudah membuktikan menjadi kunci keberhasilan Semarang dalam mempertahankan predikat sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia," ujar Kyai Mustamaji.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.