Akurat

Permainan Tradisional Perkuat Karakter Anak di Era Digital

Ahada Ramadhana | 20 Juli 2025, 15:42 WIB
Permainan Tradisional Perkuat Karakter Anak di Era Digital

AKURAT.CO Pemerintah kembali menggaungkan pentingnya permainan tradisional dalam perayaan Pekan Hari Anak Nasional (HAN) 2025.

Ibu Wakil Presiden RI, Selvi Ananda Gibran Rakabuming Raka, mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali budaya bermain tradisional di tengah masifnya penggunaan gawai dan teknologi digital di kalangan anak-anak.

"Permainan tradisional tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat nilai kebersamaan dan membentuk karakter anak,” ujar Selvi saat menghadiri puncak peringatan HAN 2025 di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu (20/7/2025).

Selvi mengenang masa kecilnya yang diwarnai permainan seperti engklek, bola bekel, lompat tali, dan gobak sodorbersama teman-teman sekampung.

Menurutnya, kebiasaan itu menumbuhkan rasa solidaritas dan keceriaan yang kini mulai hilang di tengah budaya bermain yang tergantikan oleh gadget.

“Dulu kami selalu berkumpul setiap sore sepulang sekolah. Sekarang, anak-anak lebih sering asyik dengan gawai. Padahal, permainan tradisional mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan empati,” kenangnya.

Selvi juga mengapresiasi langkah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) yang membuat perayaan HAN tahun ini terasa lebih inklusi dan merata.

Tidak lagi hanya terpusat di satu kota, peringatan HAN digelar secara serentak di berbagai sekolah dan daerah di seluruh Indonesia.

“Saya rasa ini langkah inovatif, Bu Menteri. Dengan pelibatan seluruh anak di berbagai daerah, semangat Hari Anak Nasional terasa lebih kuat dan menyentuh,” ujar Selvi.

Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi, menjelaskan, permainan tradisional menjadi salah satu dari lima pilar kegiatan utama HAN 2025, bersama senam anak, pertunjukan lagu dan seni daerah, dongeng pahlawan lokal, serta pemeriksaan kesehatan gratis.

Baca Juga: Ruben Onsu Dituding Enggak Hadir di Rumah Duka Ayah Sarwendah?

“Permainan tradisional adalah cara efektif agar anak-anak tidak terus terikat dengan gadget dan bisa menikmati waktu bermain bersama,” kata Arifatul.

Ia menegaskan, pendekatan ini bukan hanya bersifat simbolik, tetapi strategis. Data Kementerian PPPA menunjukkan bahwa banyak kasus kekerasan terhadap anak dipicu oleh kurangnya interaksi sosial dan penggunaan gawai berlebihan.

Setelah bermain ular naga bersama anak-anak di panggung utama, Selvi turut mengunjungi sejumlah zona permainan yang dipadati peserta.

Di antaranya permainan glindingan, tapak gunung, workshop janur, congklak, dam-daman, balap jajar, hingga papancakan besar.

Anak-anak tampak antusias mencoba permainan-permainan ini, yang sebagian besar berasal dari warisan budaya daerah.

Kehadiran permainan seperti catur Teuku Umar dan catur Surakarta juga memperkaya nuansa edukatif dalam perayaan tersebut.

Dengan mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045” dan tagline “Anak Indonesia Bersaudara”, HAN 2025 menjadi momentum untuk memperkuat semangat persatuan dan keberagaman sejak usia dini.

“Hari Anak Nasional adalah milik seluruh anak Indonesia. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa anak-anak berhak bermain, tumbuh dengan bahagia, dan hidup di lingkungan yang mendukung mereka menjadi generasi hebat,” pungkas Selvi.

Baca Juga: Evaluasi Jepang Terbuka, Indra Wijaya Harap Alwi Farhan Lebih Matang di China Pekan Depan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.