Menko PMK: Pengembangan AI Harus Meninggikan Nilai-nilai dan Kemampuan Manusia

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Pratikno, menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (AI) harus berdasarkan pada pendekatan yang berpusat pada manusia.
Menurutnya Indonesia tidak ingin hanya mengejar efisiensi, tetapi memastikan penguatan nilai-nilai luhur dan kemanusiaan.
"Inilah inti dari pendekatan Indonesia terhadap AI yang berpusat pada manusia bukan sekadar mengotomatisasi untuk efisiensi, tetapi untuk memperkuat dan meninggikan nilai-nilai serta kemampuan manusia," ujarnya, Kamis (3/7/2025).
Baca Juga: Google Mengabaikan Janji, AI Kini Bisa Digunakan untuk Senjata, Tren Mengkhawatirkan!
Dia menilai, AI bukan lagi sekadar konsep masa depan, melainkan telah hadir dalam kehidupan sehari-hari dan mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan hidup. Karena itu, Indonesia memilih untuk tidak hanya mengadopsi, namun juga memberi arah baru pada pengembangan AI.
"AI bukan lagi konsep yang jauh, dia adalah kenyataan yang sedang bergerak, yang mulai mengubah cara kita bekerja, hidup, bahkan berpikir," jelasnya.
Menurutnya, adopsi AI harus dijalankan dengan berlandaskan pada etika. Sebab, sistem AI tidaklah netral, karena dia belajar dari manusia, termasuk dari logika dan kekurangan yang ada.
Baca Juga: Menko PMK: Literasi Digital dan AI Bekal Masyarakat Hadapi Banjir Informasi
"Hal ini mengingatkan kita: AI bukanlah sesuatu yang netral. Dia belajar dari kita—dari logika kita, naluri kita, dan kadang juga dari kekurangan kita. Karena itu, AI harus dikembangkan bukan hanya dengan kecerdasan, tetapi juga dengan integritas," ucapnya.
Dia juga menekankan pentingnya membangun masa depan digital yang dipandu oleh nilai-nilai Pancasila, bukan hanya dengan teknologi semata. Untuk itu, pemerintah mendorong pengembangan talenta digital yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga kuat secara etis.
"Kita ingin menumbuhkan talenta digital yang bukan hanya terampil secara teknis, tetapi juga berakar pada etika, yang kita sebut BIJAK dan CERDAS," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








