Akurat

Waspada Harga BBM Naik jika Konflik Iran dan Israel Makin Memanas

Ahada Ramadhana | 17 Juni 2025, 19:07 WIB
Waspada Harga BBM Naik jika Konflik Iran dan Israel Makin Memanas

AKURAT.CO Konflik Iran dan Israel dikhawatirkan akan berpengaruh pada kenaikan harga minyak dunia. Bahkan, pada serangan hari pertama Israel terhadap Iran telah menaikkan harga minyak dunia yang signifikan.

Pada Jumat 13 Juni 2025, harga minyak mentah Brent meroket hingga 13 persen menjadi USD78,50 per barel, kenaikan tertinggi sejak Januari 2025. Apabila eskalasi konflik Israel-Iran meluas, maka tidak bisa dihindari harga minyak dunia akan melambung, bahkan dapat mencapai di atas USD100 per barrel.

"Bahkan, JP Morgan memperkirakan harga minyak dunia bisa melonjak hingga USD130 per barel jika eskalasi perang meluas hingga Iran menutup Selat Hormuz, yang menjadi lalu lintas pengangkutan minyak dunia," kata Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, dalam pernyataanya, Selasa (17/6/2025).

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik Israel-Iran, Ekonomi RI Terancam Tertekan

Sebagai net-importer, kenaikan harga minyak dunia sudah pasti akan berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Menurutnya, dalam kondisi tersebut pemerintah dihadapkan pada dilema dalam penetapan harga BBM di dalam negeri.

Sebab, jika harga BBM subsidi tidak dinaikan maka beban APBN akan membengkak. Di samping itu, kenaikan harga minyak dunia akan semakin menguras devisa untuk membiayai impor BBM.

"Ujung-ujungnya makin memperlemah kurs rupiah terhadap dollar AS, yang sempat menembus Rp17.000 per USD. Kalau harga BBM Subsidi dinaikan, sudah pasti akan memicu inflasi yang menyebabkan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok sehingga menurunkan daya beli rakyat dan pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Dia berharap, pemerintah dapat memberikan kepastian dan ketegasan dalam mengantisipasi penetapan harga BBM subsidi berdasarkan indikator terukur.

"Kalau harga minyak dunia masih di bawah USD100 per barrel, harga BBM Subsidi tidak perlu dinaikan. Namun, kalau harga minyak dunia mencapai di atas USD100 per barrel, Pemerintah tidak punya pilihan lain kecuali menaikkan harga BBM Subsidi, agar beban APBN untuk Subsidi tidak memberatkan," tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, konflik antara Iran dan Israel yang kian memanas belum memberikan dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia, namun tetap perlu diwaspadai terutama terkait potensi lonjakan harga minyak global.

"Kalau kita lihat di Timur Tengah kan transmisinya relatif lambat, dan kita lihat tergantung harga minyak, dan harga minyak tentu beberapa negara punya kepentingan untuk menahan lonjakan harga minyak, jadi kita tunggu saja," kata Airlangga.

Baca Juga: Profil Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Diancam Pembunuhan oleh Zionis Israel

Menanggapi potensi dampak terhadap nilai tukar rupiah, Menko menyebut bahwa dampak dari konflik tersebut bersifat sentimen, khususnya terkait kekhawatiran akan ketersediaan pasokan minyak.

"Penjalarannya (dampak) karena Timur Tengah memang sudah 'panas', jadi relatif dari segi perdagangan itu tidak tertransmisi (terdampak), tetapi dari segi sentimen, ketersediaan supply minyak itu yang perlu kita perhatikan dulu," ujarnya.

Adapun konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah turut mendorong harga minyak dunia naik ke kisaran USD72-73 per barel, lebih tinggi dari rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang berada di level USD65,29 per barel.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.