Akurat

Peran Komunitas sebagai Ujung Tombak dalam Penanganan TBC di Indonesia

Rizky Dewantara | 30 April 2025, 09:54 WIB
Peran Komunitas sebagai Ujung Tombak dalam Penanganan TBC di Indonesia

AKURAT.CO Penemuan kasus Tuberkolosis (TBC) di Indonesia dalam 2 tahun ke belakang, lebih tepatnya pada masa COVID-19, terbengkalai. Sehingga, estimasi kasus TBC di tahun ini meningkat hingga 1.090.000.

Meski demikian, penanggulangan TBC nasional memiliki Peraturan Presiden No.67 Tahun 2021 menegaskan bahwa semua pihak memiliki peran dalam penanggulangan TBC. Sehingga, penemuan kasus di tahun 2024 sudah lebih baik.

"Pemerintah terus berkomitmen, sekarang TBC sudah menjadi isu prioritas dan sudah disampaikan juga oleh pak Presiden Prabowo di berbagai media, bahwa Indonesia komitmen dalam eliminasi TBC," kata Ketua Tim Kerja TBC Kemenkes RI, Tiffany Tiara Pakasi.

Baca Juga: Dinkes Jakarta Wajib Kolaborasi dengan Daerah Penyangga, Antisipasi Merebaknya TBC

Namun, tentu tantangan dalam eliminasi TBC masih ada di masyarakat, seperti stigma dan akses layanan yang belum merata.

"Stigma dan hoax di masyarakat masih sangat banyak, seperti target pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) untuk kontak erat jadi tantangan yang harus diberikan pada orang sehat tapi sudah terinfeksi. Sehingga capaiannya masih rendah," tambahnya.

Untuk itu, komunitas menjadi peran kunci di masyarakat karena mereka bersentuhan secara langsung dengan pasien maupun penyintas TBC. Komunitas TBC, menjadi ujung tombak dalam deteksi dini, pendampingan pengobatan, dan penguatan edukasi masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, disampaikan oleh dr. Henry Diatmo, MKM, Direktur Eksekutif STPI dalam Konferensi Pers Hari Tuberkulosis Sedunia 2025 bahwa “Komunitas

Banyak organisasi yang bergerak di penanggulangan TBC, seperti Stop TB Partnership Indonesia (STPI) dan PR Konsorsium Penabulu-STPI, untuk memberikan dukungan pada pasien TBC, melakukan advokasi ke pemerintah, dan melibatkan swasta untuk upaya penanggulangan TBC.

"Dalam komunitas juga menjadi wadah untuk para pasien/penyintas mengadukan masalah sosial yang dialami dengan mengakses LaporTBC, sehingga pasien/penyintas TBC bisa merasa aman," ungkap Direktur Eksekutif STOP TB Partnership Indonesia (STPI), Henry Diatmo.

National Program Director PR Konsorsium Penabulu STPI, Betty Nababan, mengatakan komunitas yang di bawah PR bertujuan untuk melibatkan dan menggerakkan semua Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) untuk bisa menjadi subrecipient mengelola dana dari Global Fund.

Baca Juga: Formulir Apa yang Digunakan untuk Permohonan Pemeriksaan Bakteriologis ke Laboratorium TBC?

Sebab, penanganan tidak bisa bergantung dengan tenaga medis saja, sehingga komunitas membantu mendorong kegiatan TBC. Ada 229 sub recipient, yang berperan dalam melakukan penanggulangan TBC yang bisa dilakukan komunitas seperti skrining kasus kontak TBC.

"Kemudian komunitas juga melakukan rujukan ke layanan kesehatan agar dilakukan konfirmasi positif atau tidak," terang Betty.

Selain itu, PR Konsorsium juga berperan untuk menggerakkan semua kader agar dapat memberikan TPT pada kontak erat pasien dalam kegiatan SIKAT TPT. Kegiatan ini diharapkan dapat membantu pemerintah yang cakupan TPT-nya baru mencapai 19 persen per Maret 2025.

Dalam kesempatan yang sama juga terdapat komunitas bernama Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) diwakili oleh Ir. Yani Panigoro sebagai Ketua PPTI.

PPTI bekerja dengan mengisi kekosongan dari kegiatan yang tidak bisa didanai oleh Global Fund. Seperti edukasi berbasis komunitas dan mendorong deteksi dini & mendorong pasien melakukan pengobatan.

Semua pihak memiliki peran dalam penanggulangan TBC. Justru jika mengandalkan pemerintah saja maka mustahil eliminasi TBC tercapai. Oleh karena itu, peran lintas sektor sangat diperlukan untuk memperkuat penanggulangan TBC di Indonesia.

Baca Juga: 3 Timses Capres-Cawapres Komitmen Entaskan TBC di Tahun 2030

Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2025 mengusung tema 'Terima Kasih Sudah Bertahan, Para Pejuang dan Pemerjuang TBC', sebagai bentuk apresiasi terhadap para penyintas, tenaga kesehatan, dan relawan yang terus berjuang di tengah keterbatasan.

Selain Konferensi Pers dan Talkshow Kesehatan 'AKSI TBC', rangkaian kegiatan ini dimeriahkan dengan Art Exhibition 'Cerita dalam Lensa' yang dibuka secara umum dimulai dari 28-30 April 2025 di Lantai Mezzanine, The Energy Building, Jakarta Selatan.

Pameran seni ini menampilkan 25–40 karya terbaik yang menggambarkan cerita perjuangan penyintas TBC, tantangan sosial, stigma, serta kekuatan komunitas dalam menghadapi penyakit ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.