Akurat

Menempatkan Semangat Jihad Bela Palestina dengan Memperhatikan Kemaslahatan Umat

Wahyu SK | 15 April 2025, 13:15 WIB
Menempatkan Semangat Jihad Bela Palestina dengan Memperhatikan Kemaslahatan Umat

AKURAT.CO International Union of Muslim Scholar atau Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS) mengeluarkan fatwa yang menyerukan seluruh umat Islam berjihad secara fisik ke Gaza untuk bela Palestina.

Fatwa kontroversial bela Palestina ini dikeluarkan bukan tanpa alasan.

Namun demikian, ada banyak cara agar Indonesia dan rakyatnya tetap bisa berkontribusi untuk bela Palestina dengan menjaga stabilitas dalam dan luar negeri.

Menanggapi seruan jihad dari para ulama yang terafiliasi dengan IUMS, Dr. M. Najih Arromadloni, M.Ag., selaku pengamat isu politik Timur Tengah menjelaskan pentingnya mengemas semangat jihad melalui wadah kemanusiaan.

"Perlu ditegaskan bahwa bela Palestina itu adalah suatu kewajiban. Kewajiban secara agama, kewajiban secara moral dan kewajiban secara kemanusiaan. Mendukung kemerdekaan Palestina itu juga adalah amanat konstitusi Indonesia yang menegaskan bahwa penjajahan itu harus dihapus di seluruh muka bumi dan turut terlibat dalam menciptakan ketertiban dan perdamaian dunia," jelas dai yang akrab Gus Najih itu, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Selasa (15/4/2025).

Menurutnya, fatwa jihad secara langsung yang dikeluarkan oleh IUMS bukan tanpa sebab.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia dan Yordania Ada di Garis Depan Membela Palestina

Diketahui secara umum bahwa sejak 7 Oktober 2023, sudah ada hampir 200 ribu warga Palestina yang terbunuh dan luka-luka akibat genosida yang dilakukan Israel. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Selain itu, ada 11 ribu orang yang hilang, terkubur di bawah reruntuhan.

Menyoroti fatwa IUMS yang terbilang kontroversial, Gus Najih menegaskan bahwa fatwa bela Palestina yang dikeluarkan yakni jihad dengan bersenjata, perlu dikoreksi bersama.

Dalam hukum fikih Islam, jihad yang menggunakan senjata itu harus diorganisasi dan dipimpin oleh pemerintahan yang sah. Bukan oleh ormas, bukan oleh perorangan, individu atau pihak nonpemerintah.

"Ini semua dilakukan tentu saja demi menjaga kemaslahatan dan ketertiban. Sekali lagi, di dalam hukum fikih Islam, tidak bisa perorangan atau pihak nonpemerintah menggerakkan jihad bersenjata secara mandiri. Jika tidak begini (mengikuti pemerintahan yang sah), maka semua orang atau kelompok bisa melakukan klaim sepihak atas urgensi angkat senjata yang bisa menyasar siapa saja," jelasnya.

Menurut Gus Najih, tidak ada yang meragukan beratnya penderitaan rakyat Palestina dalam menghadapi invasi Israel.

Baca Juga: Kerap Aksi Nyata, Ini Sederet Dukungan Konkret Prabowo untuk Palestina

Namun demikian, Indonesia perlu memahami dampak negatif yang ditimbulkan apabila mayoritas umat Islam memenuhi seruan IUMS untuk berjihad bela Palestina secara langsung.

Gus Najih menjelaskan, seandainya banyak umat Islam yang notabene adalah masyarakat sipil, yang tidak pernah mendapatkan pelatihan militer, berangkat ke Gaza, jelas akan banyak korban berguguran.

Dengan begini, unsur kemaslahatan umat yang seharusnya ada pada fatwa ulama jelas tidak akan terwujud.

Dan bantuan kemanusiaan yang seharusnya didapatkan oleh Palestina akan semakin berkurang jumlahnya.

"Jadi, sekali lagi, membela Palestina, melawan kezaliman yang dilakukan oleh Israel itu adalah kewajiban. Kewajiban moral, kewajiban agama dan amanat konstitusi. Tetapi itu semua harus dilakukan dengan rasional, tidak boleh melanggar hukum yang berlaku di Indonesia dan harus mempertimbangkan hal yang maslahat. Kita harus berpikir strategis," katanya.

Gus Najih mengajak rakyat Indonesia untuk melakukan pembelaan terhadap Palestina dalam kapasitasnya masing-masing.

Baca Juga: Prabowo Kritik Tajam Negara Besar yang Abaikan Tragedi Kemanusiaan Palestina

Sebagai masyarakat sipil yang tidak bersenjata, tidak terlatih, bukan bidangnya untuk melakukan bela Palestina dengan jihad bersenjata ke sana.

"Kita berjuang sesuai kapasitas kita di sini dengan terus mengampanyekan pentingnya kemerdekaan Palestina sebagai sebuah bangsa. Bentuk kampanye yang dimaksud bisa melalui bantuan logistik, pendidikan, kesehatan dan yang sejenisnya," ujarnya.

"Ini saya kira langkah yang lebih realistis untuk dilakukan dan lebih strategis, dibandingkan seruan untuk intervensi militer ke sana. Tentu, langkah yang paling lemah juga adalah mendoakan. Mendoakan, terus mendoakan saudara-saudara kita sesama muslim dan sesama manusia yang ada di Palestina ini," Gus Najih menambahkan.

Ia juga berharap agar segala bentuk upaya membela Palestina tidak membawa kemudharatan dalam bentuk apapun di dalam negeri.

Jika seruan jihad bela Palestina dari IUMS ini menimbulkan banyak gelombang masyarakat sipil menjadi FTF (Foreign Terrorist Fighter), justru akan menjadi masalah baru bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dan bahkan mereka yang berangkat bisa membebani rakyat Palestina yang seharusnya mendapatkan pertolongan.

Baca Juga: Prabowo Ingin Indonesia-Turki Pererat Kerja Sama Bantu Perjuangan Palestina

"Jangan memprovokasi dan jangan menebar propaganda yang tidak bertanggung jawab, yang berpotensi justru merusak stabilitas di negara-negara lain. Apalagi di negara kita sendiri, Indonesia," pungkas Gus Najih.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK