Di Forum IFC, Menkes Budi Dorong Percepatan Inovasi Layanan Kesehatan

AKURAT.CO Pemerintah Indonesia, menghadiri the 10th International Finance Corporation (IFC) Global Private Health Conference yang berlangsung di Nusa Dua, Bali pada tanggal 18-20 Februari 2025.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan konferensi ini menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menarik investasi di sektor kesehatan serta mendorong percepatan inovasi layanan medis, guna meningkatkan akses dan kualitas kesehatan Masyarakat.
Dia menegaskan, kesehatan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga investasi terbaik bagi masa depan bangsa.
Baca Juga: Indonesia Mulai Terapkan AI di Bidang Kesehatan Secara Bertahap
"Pemerintahan Presiden Prabowo memiliki komitmen untuk mewujudkan Indonesia Emas dan menjadi negara maju. Untuk itu bangsa Indonesia harus cerdas dan sehat. Ketika seseorang sakit, mereka berhenti bekerja. Kesehatan yang buruk menyebabkan hilangnya produktivitas dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, investasi terbaik adalah investasi dalam kesehatan," kata Budi, Kamis (20/2/2025).
Pemerintah Indonesia, tengah menjalankan tiga program utama yang menjadi bagian dari transformasi sistem kesehatan nasional, sekaligus membuka peluang bagi sektor swasta untuk ikut berkontribusi.
"Kami sedang menjalankan program skrining kesehatan terbesar dalam sejarah Indonesia, yang menjangkau 280 juta penduduk. Fokusnya adalah pencegahan penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, dan diabetes. Dengan deteksi dini yang lebih baik, kita bisa menekan angka kematian dan mengurangi beban sistem kesehatan," jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat pembangunan 66 rumah sakit di daerah terpencil, untuk memastikan layanan medis dapat diakses secara merata.
"Tidak boleh ada lagi masyarakat yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan perawatan dasar. Oleh karena itu, kami mengundang sektor swasta untuk turut serta, baik dalam bentuk investasi infrastruktur maupun teknologi kesehatan," kata Menkes.
Sebagai negara dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, Indonesia juga menargetkan penghapusan TBC dengan mengoptimalkan teknologi diagnostik mutakhir. Pada tahun 2024, lebih dari 5 juta orang telah diskrining dan 870.000 kasus TB terdiagnosis.
Baca Juga: Pemerintah Percepat Transformasi Digital Kesehatan dengan Platform Satu Sehat
"Kami tidak bisa hanya bergantung pada pendanaan global. Oleh sebab itu, kami mengajak sektor swasta untuk berkolaborasi, mulai dari investasi dalam riset dan produksi vaksin TB lokal, hingga pengembangan teknologi kecerdasan buatan untuk deteksi dini," tegasnya.
Sejalan dengan transformasi sistem kesehatan, pemerintah juga membuka pintu bagi investasi di bidang bioteknologi, bedah robotik, kecerdasan buatan, serta digitalisasi layanan kesehatan.
"Teknologi harus menjadi game-changer dalam layanan kesehatan kita. Kami ingin mempercepat digitalisasi, mendorong inovasi medis, dan membangun ekosistem kesehatan yang lebih efisien serta berkelanjutan," tambahnya.
Sebagai tambahan, konferensi ini baru pertama kali diselenggarakan di Asia dan Indonesia dipercaya untuk jadi tempat penyelenggaraannya. Adapun tema 'Impactful Investing for Your Tech-Enabled Accessible Health Systems' menjadi focus konferensi yang diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari 52 negara serta 100 pemimpin industri kesehatan global.
Penyelenggaraan IFC Global Private Health Conference 2025 di Indonesia menunjukan, dukungan sektor swasta global terhadap transformasi Kesehatan yang Indonesia majukan dan determinasi untuk meningkatkan akses layanan medis bagi seluruh Masyarakat Indonesia.
Di sisi lain, menunjukan minat pelaku usaha dan investor global untuk menggerakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan investasi di sektor Kesehatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









