Kemenag Susun Kurikulum Berbasis Cinta untuk Memperkuat Harmoni Keberagaman

AKURAT.CO Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama tengah menyusun Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).
Menindaklanjuti arahan Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang mendorong agama menjadi elemen berdaya guna dalam membangun kedamaian dan kerukunan di tengah masyarakat.
Menurut Kepala PKUB Kemenag, Muhammad Adib Abdushomad, penyusunan KBC sebagai langkah strategis memperkuat harmoni keberagaman di Indonesia.
Di mana, agama harus menjadi kekuatan pemersatu yang memberikan dampak positif nyata.
"Jika umat berjarak dengan pemuka agamanya, maka itu adalah kegagalan. Agama harus impactful agar keberagaman ini menjadi harmoni," kata Adib, melalui keterangan resmi, Senin (27/1/2025).
Baca Juga: Ridwan Kamil Janji Jaga Toleransi dan Keberagaman jika Terpilih jadi Gubernur Jakarta
Nantinya, kurikulum ini diharapkan menjadi dasar dalam memperkenalkan nilai-nilai cinta yang universal, sebagai cara untuk menjaga keseimbangan dalam keberagaman.
Rapat pembahasan KBC, yang telah digelar, dihadiri sejumlah tokoh lintas agama.
Mereka turut memberikan pandangan tentang cinta sebagai nilai yang mengikat dan mempersatukan.
Mohammad Shofan dari Teras Kebhinekaan berbagi pengalaman tentang program Living Our Values Everyday (LOVE), yang sebelumnya berhasil membangun atmosfer cinta di kalangan guru agama.
Ia menekankan bahwa cinta hanya dapat tumbuh bersama nilai-nilai baik lainnya dan menjadi dasar bagi kehidupan sosial yang harmonis.
Baca Juga: Western Australia Week 2024, Pamerkan Keberagaman Budaya, Kuliner hingga Keunggulan Pendidikan
Perwakilan dari agama Hindu, Mayjen (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, menyampaikan tentang pentingnya cinta dalam etika dan moral.
Dia menyebut, konsep Tri Hita Karana yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), hubungan manusia dengan sesama manusia (pawongan) dan hubungan manusia dengan alam (palemahan).
Sedangkan, Romo Agustinus Heri Wibawa mewakili Katolik menjelaskan bahwa cinta sejati akan hidup jika mampu merangkul semua elemen dalam relasi manusia, Tuhan dan alam.
Cinta bukanlah cinta apabila hanya untuk dirinya sendiri, tetapi cinta akan menjadi cinta jika menjadi berkat untuk semuanya.
Romo Agustinus juga menekankan pentingnya kurikulum ini memiliki arah yang jelas.
Apakah akan menjadi bagian dari pendidikan karakter atau program prioritas pemerintah.
Cinta juga menjadi tema sentral dalam perspektif agama Buddha.
Erwin Tjioe menggambarkan cinta sebagai inti dari kebaikan tanpa batas yang dapat menciptakan harmoni dan mengatasi kemarahan.
Sementara, perwakilan dari agama Konghucu, Prof. Ws. Chandra Setiawan, menekankan pentingnya cinta sejati yang berakar pada keluarga dan mencerminkan nilai-nilai kebajikan seperti kejujuran, pengorbanan serta pemaafan.
Terakhir, Pendeta Jimmy dari perwakilan agama Kristen mengatakan, cinta tergambarkan dari bentuk salib, yaitu hubungan manusia secara vertikal (dengan Tuhannya) dan hubungan manusia secara horizontal (dengan sesama dan alam).
Apabila manusia hanya mencintai sesamanya tetapi tidak mencintai Tuhan maka itu absurd.
Ia juga berharap kurikulum tersebut nantinya bisa menjadi habituasi.
Pertemuan berlanjut dengan pembentukan forum lintas agama untuk mempercepat penyusunan KBC.
Baca Juga: Harmoni dalam Keberagaman: Revitalisasi Tenggang Rasa Masyarakat Indonesia
Forum akan melibatkan masing-masing agama dalam memberikan kontribusi berbentuk draft perspektif cinta berdasarkan ajaran mereka.
Desa Sadar Kerukunan juga akan dijadikan indikator keberhasilan program ini, sekaligus menjadikan PKUB sebagai pionir dalam mempromosikan kerukunan umat beragama di Indonesia.
"Dengan pendekatan cinta, segala aspek kehidupan akan harmoni. Kurikulum ini diharapkan menjadi fondasi untuk menjawab tantangan keberagaman dengan cara yang universal dan berlandaskan cinta kasih," jelas Pendeta Jimmy.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









