Akurat

6 Prinsip Emas Spiritualitas di Era AI

Paskalis Rubedanto | 21 Desember 2024, 23:42 WIB
6 Prinsip Emas Spiritualitas di Era AI

AKURAT.CO Pemikir lintas disiplin, Denny JA, merumuskan "The Six Golden Principles of Spirituality in the Era of AI" sebagai panduan untuk menghadapi perubahan zaman yang didominasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI).

Prinsip ini dirancang tidak hanya untuk menjembatani hubungan manusia dengan teknologi, tetapi juga untuk memperdalam pencarian makna hidup universal.

Denny JA mengamati fenomena di Silicon Valley, pusat inovasi digital, yang justru mengintegrasikan mindfulness dan meditasi sebagai upaya jeda di tengah derasnya arus teknologi.

Menurutnya, spiritualitas kini telah bertransformasi menjadi keterampilan hidup yang bersifat universal—melampaui sekat agama tertentu, dan menjadi jembatan antara kebutuhan batiniah dan tuntutan duniawi.

Berikut enam prinsip emas spiritualitas yang dirumuskan Denny JA, hasil kajiannya selama 30 tahun melalui eksplorasi positive psychology, neuroscience, dan tradisi lintas agama:

1. Mengutamakan Persamaan Manusia di Atas Perbedaan

Denny JA menegaskan bahwa persamaan antar manusia jauh lebih mendasar dibandingkan perbedaan yang lahir dari keyakinan atau agama.

Spiritualitas telah hadir dalam hidup manusia sejak ribuan tahun sebelum agama-agama besar muncul.

“Dasar semua keyakinan adalah sama: mencari makna, merawat kehidupan, dan menjawab misteri eksistensi," ujarnya.

Prinsip ini mendorong penggunaan spiritualitas untuk membangun jembatan harmoni, bukan tembok pemisah.

2. Warisan Agama Sebagai Kekayaan Kultural Bersama

Agama dan kepercayaan dunia, dengan segala keragamannya, adalah warisan budaya umat manusia.

Denny JA menyerukan agar inti dari ajaran cinta, belas kasih, dan kebijaksanaan dalam agama-agama ini dapat dinikmati oleh semua, tanpa sekat dogma.

Menurutnya, “Merayakan keberagaman adalah cara untuk memperkaya hidup manusia tanpa menghapus perbedaan."

3. Kebahagiaan dan Makna Hidup Melalui Ilmu Pengetahuan

Di era AI, kebahagiaan dan makna hidup tidak hanya dibahas dalam filsafat atau agama, tetapi juga melalui riset sains. Denny JA merumuskan formula 3P + 2S:

- Personal Relationship
- Positivity
- Passion
- Small Winning
- Spirituality

“Kebahagiaan adalah perjalanan yang bisa diakses siapa saja yang hidup dengan kesadaran," ungkapnya.

4. Menafsirkan Agama yang Selaras dengan Hak Asasi Manusia

Denny JA menyoroti peran teknologi AI dalam mengeksplorasi tafsir agama secara mendalam, membimbing manusia memilih interpretasi yang mendukung ilmu pengetahuan, menghormati hak asasi, dan membawa kebahagiaan.

“Pilihan tafsir yang benar adalah yang menjadikan dunia lebih baik," tegasnya.

5. Pemberdayaan Spiritual Individu

Era AI memberikan kebebasan lebih besar kepada individu untuk mengeksplorasi spiritualitas tanpa tergantung pada otoritas tunggal seperti ulama, pendeta, atau biksu.

AI memungkinkan akses lintas teks dan sejarah agama, memberikan individu kebebasan untuk memilih nilai spiritual yang relevan.

“Namun kebebasan ini juga datang dengan tanggung jawab besar," kata Denny JA.

6. Merayakan Hari Raya Lintas Agama Secara Sosial

Denny JA memperkenalkan tradisi merayakan hari raya lintas agama sebagai momen sosial untuk berbagi kebahagiaan.

“Kita tidak perlu mengikuti ritus agama yang tidak kita yakini, tetapi kita bisa hadir sebagai sahabat, berbagi makna bersama," jelasnya.

Teknologi AI, seperti aplikasi Insight Timer dan Muse, kini mendukung eksplorasi spiritual dengan meditasi berbasis data dan sensor otak. Sementara itu, GPT Spiritual Companion memfasilitasi dialog lintas agama secara reflektif.

“AI bukan hanya alat, tetapi teman perjalanan batin," ujar Denny JA.

Denny JA mengajak masyarakat untuk hidup dalam harmoni, memahami keberagaman, dan berbagi makna di tengah era teknologi yang semakin maju.

“Di dunia yang terhubung oleh algoritma, spiritualitas tetap menjadi tali tak kasat mata yang menyatukan hati manusia," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.