Akurat

Membangun Karakter Dai yang Berintegritas di Era Digital

Oktaviani | 19 Desember 2024, 16:25 WIB
Membangun Karakter Dai yang Berintegritas di Era Digital

AKURAT.CO Keberadaan ulama, tokoh agama atau penceramah (dai) sangat penting untuk menjaga etika dalam berdakwah di era digital ini.

Jika para ulama tidak mencontoh hal yang baik dan tidak berhati-hati dalam berdakwah, maka bisa mengurangi esensi nilai keislaman dan dapat mendegradasi pendakwah itu sendiri.

Hal itu dikatakan Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. Ahmad Zubaidi, MA. melalui keterangannya, yang diterima Kamis (19/12/2024).

Ia mengkhawatirkan kondisi tersebut akan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab, untuk saling mengadu domba umat Islam maupun organisasi dengan tujuan menciptakan konflik.

Baca Juga: Menkomdigi: Dai jadi Garda Terdepan Perangi Judi Online di Era Digital

"Konteksnya supaya dakwah kita ini bisa terus berjalan dengan baik dan juga tentu agar para dai kita tetap diapresiasi oleh masyarakat," ucap Kiai Zubaidi.

Menurut akademisi UIN Syarif Hidayatullah ini, dakwah harus mengedepankan bahasa yang baik, sopan dan mendidik, dengan tujuan memberikan contoh yang baik kepada umat.

Oleh karena itu, etika, adab atau tata krama adalah pendidikan dasar yang harus dimiliki para dai di samping pendidikan ilmu.

Kiai Zubaidi mengatakan, kalau hanya mengedepankan ilmu tanpa adab maka bisa jadi akan menimbulkan sikap sombong dan angkuh dalam berdakwah.

Baca Juga: Sekjen DAI Tegaskan Guyon Ketum PAN Bukan Penistaan Agama

"Kalau sudah punya tata krama, adab, etika akhlak, Insya Allah ilmunya nanti juga akan bisa bermanfaat lagi. Dan dia akan memiliki adab tinggi dengan berkarakter yang baik," jelasnya.

Oleh karena itu, Kiai Zubaidi menyerukan para dai, penceramah, muballigoh harus berhati-hati dalam berdakwah.

Karena bahasa-bahasa yang tidak baik itu tentulah akan melukai mad'u atau objek dakwahnya.

Sedangkan dalam berdakwah seharusnya justru memberikan perhatian, memberikan kasih sayang dengan nilai-nilai Islam yang luhur.

Baca Juga: BNPT Harap Dai Sampaikan Dakwah Wasathiyah Dan Rahmatan Lil Alamin

Sosok yang juga menjabat Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) ini mengungkapkan, seorang ulama atau dai seyogianya terus belajar dan memperdalam ilmu dakwah.

Penting bagi para dai untuk menyesuaikan dengan kemajuan zaman, teknologi dan juga karakter para jemaahnya.

"Tolong jangan hanya instan, jangan hanya ingin jadi penceramah, pidato tok!" ujar Kiai Zubaidi.

Ia menekankan, penting juga untuk berlatih public speaking, retorika dakwah atau sisi humor untuk membumbui dakwah agar tidak kaku.

Baca Juga: Penguasaan Wawasan Kebangsaan Tanggung Jawab Moral Dai 

"Tolong juga mulai mempelajari, mulai berlatih untuk ceramah dengan gaya-gaya yang di dalamnya ada humor yang baik. Sehingga Insya Allah nanti semakin lama akan mumpuni ilmunya," pinta Kiai Zubaidi.

Ia mengakui bahwa humor dalam dakwah itu diperlukan. Tanpa humor, tentu jemaah bisa bosan dan tidak tahan lama.

Namun, humor yang diberikan oleh seorang dari haruslah yang bernilai tinggi, berbudaya dan mengedepankan etika dalam Islam.

Tidak boleh asal membuat orang tertawa, apalagi menggunakan bahasa yang tidak baik.

Baca Juga: Kembangkan Praktik Sumber Daya Nilam, IFRA Bersama DAI Dan AFFI Sepakat Jalin Kemitraan

"Nabi juga seorang yang bisa bercanda dalam berbagai interaksi dengan para sahabat. Namun itu tadi, candaan-candaan yang kita buat itu humor-humor yang tetap berkoridor berdasarkan etika, berdasarkan rasa menghormati orang lain," jelas Kiai Zubaidi.

Di samping itu, sekarang ini ceramah tidak hanya didengar atau dilihat oleh jemaah di masjid atau di kampung saja.

Dengan adanya kemajuan teknologi dan media sosial, materi ceramah bisa disebarluaskan ke seluruh dunia.

Oleh karena itu, prinsip kehati-hatian sangat diperlukan ketika berbicara di depan publik.

Baca Juga: Asosiasi Dai Daiyah Indonesia Gelar Sertifikasi Dai Batch 2, Cek Syaratnya di Sini!

"Aspek kehati-hatian harus ditonjolkan, tidak saja karena faktor kekhawatiran akan dipublikasikan di mana-mana tapi juga memang etika Islam mengajarkan demikian," tandas Kiai Zubaidi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

O
Reporter
Oktaviani
W
Editor
Wahyu SK