Akurat

Dialog Kebangsaan Lintas Agama Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto

Mukodah | 11 Desember 2024, 19:35 WIB
Dialog Kebangsaan Lintas Agama Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto

AKURAT.CO Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar dialog kebangsaan dalam rangka persaudaraan lintas agama di Indonesia, Rabu (11/12/2024).

Kegiatan yang menghadirkan pemuka agama dari enam agama di Indonesia dan penghayat kepercayaan ini adalah perwujudan Asta Cita yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

"Alhamdulillah, hari ini kami melaksanakan dialog kebangsaan dalam konteks kerukunan umat beragama. Kami berkolaborasi dengan Wakil Ketua Komisi XIII, Bapak Sugiat Santoso, dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar. Juga hadir para pemuka agama serta penghayat kepercayaan dan masyarakat," jelas Kepala BNPT, Komjen Eddy Hartono, di Pendopo Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

"Ini menunjukkan komitmen negara untuk hadir dalam memelihara kerukunan dan toleransi beragama sesuai Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, yaitu pertama memperkokoh ideologi dan hak asasi manusia. Dan Asta Cita kedelapan memperkuat toleransi beragama untuk menciptakan masyarakat adil dan makmur," tambahnya.

Baca Juga: BNPT Tegaskan Komitmen Jaga Pancasila, Dukung Arahan Presiden Prabowo Lawan Ideologi Kekerasan

Kepala BNPT menguraikan bahwa BNPT akan terus berkomitmen menjaga kearifan lokal

Oleh sebab itu, terus menjaga kearifan lokal dan memelihara kerukunan umat beragama dengan menciptakan toleransi antarumat.

"Ini penting agar nilai-nilai budaya Indonesia dan ideologi Pancasila terus menjadi rujukan sebagai sumber hukum dalam bermasyarakat dan bernegara," ujarnya.

Kepala BNPT berterima kasih atas dukungan Wakil Ketua Komisi XIII, Sugiat Santoso dan Rinto Subekti, yang turut hadir dalam kegiatan dialog kebangsaan.

Baca Juga: Perkuat Sinergi Deradikalisasi dalam Lapas, BNPT Gelorakan Semangat Kolaboratif

Dukungan ini sebagai bentuk komitmen wakil rakyat untuk terus mendukung upaya-upaya pencegahan radikal terorisme

Di mana, dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018, pemerintah wajib melakukan upaya-upaya pencegahan.

"Itulah kenapa hari ini kami hadir di Karanganyar. Saya bahagia ketemu para tokoh agama dan bisa berdiskusi dalam rangka mewujudkan kerukunan umat beragama," tutur Kepala BNPT.

Menurutnya, kegiatan ini juga bagian mewujudkan tiga kerukunan umat beragama.

Baca Juga: BNPT Perkuat Peran Guru di NTB dalam Menangkal Radikalisme, Kekerasan dan Bullying

Pertama, bagaimana merukunkan inter agama. Kedua, meningkatkan kerukunan antarumat beragama dan saling menghormati karena kerukunan itu sejatinya harus bisa ikhlas menerima perbedaan.

"Di situlah ciri-ciri orang menjadi radikal dan intoleransi karena tidak bisa menerima perbedaan," ujar Kepala BNPT.

Oleh sebab itu, BNPT dan stakeholder lainnya akan selalu hadir untuk merawat kebhinekaan.

Kepala BNPT juga berpersan kepada tokoh agama dan penghayat kepercayaan untuk terus berkolaborasi dalam melawan berbagai ideologi bertentangan dengan Pancasila.

Baca Juga: BNPT Tingkatkan Wawasan Kebangsaan dan Keagamaan Mitra Deradikalisasi di Sumatera Utara

BNPT juga siap melakukan pendampingan bila ada ancaman serta bekerja sama aparat penegak hukum terhadap orang yang akan melakukan tindak pidana terorisme.

Pada kesempatan itu, Kepala BNPT mengatakan bahwa pada dua tahun terakhir tidak ada kejadian terorisme di permukaan.

Namun kondisi ini tidak membuat BNPT lengah, tetapi tetap waspadah dan berhati-hati dengan terus melakukan monitoring dengan jajaran intelijen dalam memonitor jaringan terorisme di Indonesia.

"Alhamdulillah, gelaran Pilkada Serentak berjalan aman dan lancar. Mudah-mudahan pada Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2025 juga berjalan aman dan damai," tambah Kepala BNPT.

Baca Juga: Gelar Silaturahmi Kebangsaan Penyintas dan Mitra Deradikalisasi, BNPT Hadir Dukung Pemulihan Juga Perdamaian

Wakil Ketua Komisi XIII DPR, Sugiat Santoso, mengapresiasi kegiatan dialog kebangsaan ini.

Senada dengan Kepala BNPT, ia menilai kegiatan ini merupakan perwujudan semangat Asta Cita yang sejak awal dicanangkan Presiden Prabowo Subianto saat diberikan amanah oleh rakyat Indonesia.

"Saya pikir sebagai wakil rakyat, kita siap mendukung dan membantu secara konkret. Bagaimana BNPT bisa menggelar kegiatan seperti ini bukan hanya di sini saja, tapi di seluruh Indonesia atau bahkan sampai ke pelosok desa," jelas Sugiat.

Kegiatan yang melibatkan lintas agama seperti dialog kebangsaan sangat penting.

Baca Juga: Pembukaan PON XXI Aceh-Sumut Berjalan Lancar, BNPT: Operasi Pengamanan Dilaksanakan dengan Cermat

Pasalnya, Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama dan golongan.

Kalau tidak terus dibangun ikatan toleransi, persaudaraan pasti akan mengikis persatuan dan kesatuan. Dan itu sangat membahayakan bagi keutuhan NKRI.

"Kita tidak boleh sepele dengan persatuan dan kesatuan. Banyak pelajaran sejarah ketika persatuan dan kesatuan rapuh, maka bangsa itu akan hancur. Banyak contoh seperti negara Suriah yang homogen terus mengalami kekacauan. Kalau tidak segera diatasi negara itu bisa bubar," jelas Sugiat.

Ia mengungkapkan kondisi itu berawal dari pemilihan presiden, kemudian bertikai di grup media sosial.

Baca Juga: Momentum 14 Tahun BNPT, Gelorakan Antikekerasan Menuju Indonesia Emas 2045

Kemudian melebar menjadi pertempuran militer dan oposisi.

Sampai sekarang Suriah porak poranda. Begitu juga Libya dan Uni Soviet yang pecah menjadi beberapa negara bagian.

"Kita tidak ingin seperti itu. Apalagi di era digital sekarang kita harus jujur, bijak dan legowo menyikapi proses demokrasi. Banyak pelajaran dari pelaksanaan pilpres dan pilkada tahun-tahun terdahulu, di mana ujaran kebencian, caci maki dan hoaks. Alhamdulillah, usai Pilpres 2019, Bapak Jokowi dan Bapak Prabowo rekonsiliasi," paparnya.

Untuk itulah, MPR dan DPR giat melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan.

Pertama, Pancasila sebagai filosofi adi luhung yang tidak dimiliki negara lain.

Pilar kedua UUD 1945 di mana kalau dikaji pasal-pasalnya kalau diterapkan sebagai gemah ripah loh jinawi tentrem noto raharjo.

Baca Juga: Kompetisi Jurnalis Kebangsaan Mahasiswa 2024 Resmi Bergulir Saat HUT ke-14 BNPT

Ketiga NKRI dan keempat Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Lebih lanjut, Sugiat meminta BNPT memperbanyak kegiatan dialog kebangsaan seperti ini.

Menurutnya, penguatan nilai-nilai Pancasila dan toleransi di era digital ini sangat penting.

"Kita harus terus memperkuat ideologi Pancasila. Kami dari Komisi XIII siap mendukung dalam bentuk legislasi dan budgeting. Kalau kurang anggaran kita tambah, kegiatan seperti ini jangan berhenti hanya di Karanganyar tapi bagaimana bisa ke seluruh Indonesia. Kalau Ideologi Pancasila kuat dan toleransi terjalin indah maka Indonesia juga kuat," paparnya.

Selain itu, ia juga meminta agar kegiatan ini juga menyasar generasi muda.

Itu penting karena generasi muda akah mewarisi bangsa dan negara.

Baca Juga: Kampus Kebangsaan Upaya BNPT Perkuat Public Resilience dari Paham Radikal Terorisme

"Bahaya kalau generasi muda tidak disasar. Mereka akan menjadi pewaris kepemimpinan bnagsa pada Indonesia Emas 2045 nanti," kata Sugiat.

Penjabat Bupati Karanganyar, Timotius Suryadi, menyambut baik kegiatan di tengah dinamika masyarakat yang makin kompleks dan tantangan kebangsaan semakin besar.

Ia menilai forum ini sangat penting untuk memperkuat fondasi kebangsaan sebagai bangsa berbhinneka tunggal ika.

"Karanganyar daerah dengan potensi luar biasa, kunjungan wisata besar di Solo Raya. Tingkat kerukunan beragama terpelihara dengan baik, keanekaragaman budaya dan tradisi berperan jaga keharmonisan," ujarnya.

Menurut Suryadi, upaya pencegahan dan penguatan nilai kebangsaan perlu digalakkan.

Dengan kegiatan seperti dialog kebangsaan ini dapat memperkuat komitmen dan menciptakan harmonisasi di tengah masyarakat.

Baca Juga: BNPT: WNI Terasosiasi FTF hingga Keterlibatan Perempuan dan Anak dalam Terorisme jadi tantangan Pemerintahan Baru

"Kami sadar tidak bisa sendiri butuh tokoh agama, ulama dan seluruh komponen masyarakat, akademisi dan media. Membangun Karangnyar yang lebih harmoni dengan Pancasila sebagai dasar kehidupan," tuturnya.

Kegiatan dialog kebangsaan ditutup oleh Wakil Ketua Komisi XIII DPR dari Fraksi Demokrat yang berasal dari Tawangmangu, Rinto Subekti.

Hadir pada kegiatan itu, Sestama BNPT, Bangbang Surono; Direktur Pencegahan BNPT, Prof. Dr. Irfan Idris; Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, Brigjen Wawan Ridwan; serta jajaran Forkopimda Kabupaten Karanganyar.

Kegiatan juga diisi diskusi dengan menghadirkan narasumber perwakilan masing-masing agama, yaitu Prof. Dr. Zuly Qodir (Islam), Risang Anggoro Elliarso (Kristen), Romo Dr. Martinus Joko Lelono (Katolik), Bhante Nyanakaruno (Budha), Budi Raharjo (Hindu) dan Prof. Ir, Hadi Prajoko (Penghayat Kepercayaan).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK