Akurat

Jaga Kondusifitas Pilkada Serentak 2024, Mantan Napiter: Perkuat Persatuan NKRI

Mukodah | 28 November 2024, 19:13 WIB
Jaga Kondusifitas Pilkada Serentak 2024, Mantan Napiter: Perkuat Persatuan NKRI

AKURAT.CO Masyarakat Indonesia diajak untuk menjaga kondusifitas usai perhelatan Pilkada Serentak 2024.

Pasalnya, Pilkada Serentak 2024 ini merupakan masa krusial dalam menjaga stabilitas sosial dan politik Indonesia.

Hal itu karena saat pencoblosan dan pascapemilihan berpotensi menimbulkan berita palsu, hasut, rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan terhadap hasil pilkada.

"Tetap jaga kesatuan dan persatuan NKRI, saling menjaga kesantunan adab pascapemilukada," mantan narapidana terorisme (napiter), Irhan Nugraha, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (28/11/2024) 

Irhan mengaku memiliki perjalanan hidup yang penuh pembelajaran.

Ia pernah terjerumus dalam ideologi ekstrem yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.

Baca Juga: Polri Waspadai Gangguan Kamtibmas Usai Pilkada Serentak 2024

Namun, setelah berkontemplasi dan mengikuti program deradikalisasi pemerintah, ia menyadari kekeliruannya dan terus memperbaiki diri.

"Pemilu bukan perbuatan kesyirikan dan kekafiran. Kita harus intropeksi, yang salah harus diperbaiki," ujarnya.

Irhan menyatakan perlunya mewaspadai ideologi khilafah dan takfiri, yang dapat memantik perpecahan dan disintegrasi bangsa di masa-masa sekarang ini.

Untuk itu, ia menyerukan masyarakat untuk mengajak kelompok-kelompok yang masih anti demokrasi, perlu mengaji dan mengkajinya kembali.

Menurutnya, syariat Islam mengatur kebebasan dalam memilih.

Sebagaimana dulu pada masa kekhalifahan, ada namanya ahlul halli wal aqdi, semacam sekumpulan orang yang diberikan kepercayaan oleh masyarakat untuk menentukan pemimpin. 

Baca Juga: Bawaslu Segera Dalami 130 Dugaan Pelanggaran Politik Uang di Pilkada Serentak 2024

Bagi Irhan, demokrasi bukanlah ancaman. Melainkan menjaga keberlangsungan untuk mempertahankan persatuan dan eksistensi sebuah negara.

"Jadi, demokrasi adalah bagian dari ajaran syariat Islam. Jadi kita boleh memilih," kata Irhan, yang kini aktif di bidang pertanian dan peternakan. 

Irhan yang kini menjadi Ketua Yayasan Banten Peduli Umat (BPU) menekankan bahwa masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi, terutama di era digital yang sarat dengan hoaks dan provokasi.

Masyarakat harus melek literasi dan menggali informasi pembanding untuk melakukan filter narasi provokatif yang dapat memecah belah bangsa.

Hindari narasi atau unggahan yang menggiring opini bahwa demokrasi adalah perbuatan kekafiran, syirik yang harus dijauhi.

Baca Juga: Golkar Optimis Raih Kemenangan hingga 60 Persen di Pilkada Serentak 2024

Apalagi, momen pascapilkada sering kali menjadi fase yang rawan konflik akibat ketidakpuasan atau manipulasi informasi.

Diharapkan momen pasca-Pilkada Serentak 2024 dapat dijadikan waktu untuk mempererat persaudaraan, bukan memupuk perpecahan.

Menurut Irhan, perbedaan pilihan dalam pemilu adalah bagian dari dinamika demokrasi yang sehat dan harus disikapi dengan bijak.

Ia percaya bahwa dengan menjaga kesantunan, komunikasi yang baik dan mengutamakan rekonsiliasi, konflik yang mungkin muncul pascapemilihan dapat diminimalisir.

"Jangan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang sengaja memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. NKRI harga mati," tandas Irhan.

Baca Juga: 15 Link Twibbon Pilkada Serentak 2024 Gratis, Yuk Pasang di Medsos!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK