Kunjungan Paus Fransiskus Momentum Kolaborasi Wujudkan Kerukunan Umat Beragama

AKURAT.CO Indonesia menjadi salah satu negara yang dikunjungi oleh Paus Fransiskus di tahun ini.
Paus ke-266 dari Vatikan ini berkunjung untuk menyampaikan pesan-pesan keimanan dan perdamaian, yang diharapkan dapat menguatkan rasa persahabatan yang telah terjalin antarumat beragama di Indonesia.
Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sahiron Syamsuddin, MA., menjelaskan bahwa kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia memiliki urgensi yang sangat besar bagi banyak pihak.
Hal ini dapat berdampak positif pada persahabatan dan kerukunan umat beragama di Indonesia, khususnya bagi umat Katolik dan Islam.
"Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia sangat penting untuk memperkuat toleransi dan harmoni antarumat beragama. Paus Fransiskus sangat concerned terhadap isu-isu kemanusian, keadilan dan perdamaian," ujar Prof. Sahiron, dalam keterangannya, Kamis (5/9/2024).
Menurutnya, kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga bisa diartikan sebagai bentuk perhatian dan apresiasi umat Katolik di seluruh dunia pada keberhasilan Indonesia dalam mengelola toleransi antarumat beragama.
Wujud perhatian ini diharapkan dapat dikelola dengan baik oleh Indonesia.
Baca Juga: Timnas Indonesia di Posisi 'Underdog', Jay Idzes Ingatkan Arab Saudi Pernah Kalahkan Argentina
Sehingga dapat menjadi percontohan bagi dunia internasional bahwa kemajemukan dapat dinaungi dengan baik melalui Pancasila dan UUD 1945.
Prof. Sahiron menyebutkan, perdamaian yang telah terjalin lama di Indonesia terkadang mendapat gangguan dari pihak-pihak tertentu yang menyebabkan konflik antarumat beragama.
Tanpa terkecuali, pemeluk agama Islam dan Kristen di Indonesia sempat beberapa kali terjebak dalam konflik yang sifatnya primordial dan cenderung tidak substansial.
Padahal, penyebab konflik biasanya diawali dari hal yang sepele, namun karena kurangnya komunikasi yang efektif dari kedua belah pihak, masalah kian menajam.
"Konflik-konflik yang pernah terjadi Indonesia yang melibatkan umat-umat beragama, khususnya Islam dan Kristen, itu muncul bukan karena ajaran agama masing-masing tetapi karena faktor politik dan ketidakadilan. Kita semua tentu berharap agar konflik-konflik serupa tidak terjadi lagi," jelasnya.
Prof. Sahiron, yang juga aktif mengajar di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, berpendapat bahwa perbedaan keyakinan sebenarnya tidak menjadi penghalang bagi mereka yang berbeda keimanan dalam berbuat kebaikan.
Menurutnya, semua agama yang ada mengajarkan kebaikan dan persatuan antar manusia, sehingga manusia seharusnya mampu saling menghormati dan toleransi.
Jika masih ada manusia yang berbuat sebaliknya yakni menyebarkan perpecahan dan permusuhan, maka bisa disimpulkan bahwa dia belum memahami agamanya dengan benar.
"Perbedaan agama, keyakinan dan aliran bukan merupakan faktor penyebab konflik. Karena semua agama mengajarkan persatuan antarumat manusia, saling menghormati dan bertoleransi. Kalau pun ada teks-teks agama yang mengindikasikan sebaliknya, maka teks-teks itu harus dipahami secara baik dan benar. Penafsiran kontekstual perlu diutamakan dengan memperhatikan konteks turunnya teks-teks keagamaan dalam konteks kekinian," Prof. Sahiron menerangkan.
Terkait dengan hubungan lintas keimanan dan dampaknya terhadap stabilitas nasional, ia mengatakan bahwa hal ini berkorelasi secara langsung.
Baca Juga: KPU dan Bawaslu Didesak Tuntaskan Polemik Silon di Pilkada 2024
Sebabnya, dengan rukunnya umat beragama di Indonesia, maka rakyat tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang sifatnya temporer dan politis.
"Hubungan lintas keimanan yang baik memberi dampak yang sangat positif pada stabilitas nasional," katanya.
Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia juga menyiratkan tentang baiknya hubungan Indonesia dengan Vatikan.
Hubungan kedua negara ini dapat menjadi simbol persatuan dalam perbedaan.
Mengingat, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan Vatikan merupakan pusat keagamaan Katolik.
Menurut Prof. Sahiron, relasi Indonesia dengan Vatikan sejauh ini sangat baik.
Hubungan yang baik ini harus dipertahankan dan ditingkatkan, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi kedua negara.
Dalam mengelola perbedaan antarumat beragama, ia berharap agar Indonesia bisa semakin dewasa dan kuat terhadap terpaan isu-isu yang bernuansa politis dan mampu memicu polarisasi.
Indonesia harus bisa menjadi model bagi dunia akan keberhasilannya dalam mengelola perbedaan keyakinan di antara warga negaranya.
"Agar toleransi terus meningkat, diharapkan aktivitas-aktivitas positif seperti dialog antarumat beragama, penguatan moderasi beragama dan lain sebagainya dapat dilaksanakan secara masif dan lebih efektif," pungkas Prof. Sahiron.
Baca Juga: Android 15 Segera Hadir di Ponsel Pixel, Google Umumkan 4 Fitur Baru Android
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









