Akurat

Iduladha Ajang Memperkuat Nilai Kemanusiaan Serta Menghalau Radikalisme dan Terorisme

Mukodah | 20 Juni 2024, 08:18 WIB
Iduladha Ajang Memperkuat Nilai Kemanusiaan Serta Menghalau Radikalisme dan Terorisme

AKURAT.CO Perayaan Iduladha, yang juga sering disebut sebagai Hari Raya Kurban, adalah salah satu bentuk ibadah sebagai wujud kecintaan seorang muslim terhadap Allah SWT.

Ibadah yang telah dicontohkan sejak zaman Nabi Ibrahim ini tidak terbatas hanya pada penyembelihan hewan saja, namun juga mengandung aspek kemanusiaan dan kepedulian sosial dalam pelaksanaannya.

Juga sebagai momentum untuk bahu membahu menegakkan hal-hal baik dan menghalau yang tidak baik, seperti radikalisme dan intoleransi.

Menguraikan makna dari perayaan Iduladha, Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), Dr. Moch. Syarif Hidayatullah, mengatakan bahwa perayaan kurban sebenarnya adalah untuk menghayati kisah Nabi Ibrahim.

Baca Juga: Timwas Haji Sayangkan Fasilitas Mina: Toilet tak Ramah Lansia, Jemaah Haji Laki-laki bahkan Perempuan Buang Air di Samping Tenda

Di masanya, Ibrahim diberi wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putranya sendiri, yang pada akhirnya diganti dengan seekor domba dan putra kesayangannya pun selamat.

"Andai kata peristiwa itu (menyembelih anak sendiri) sampai terjadi, kan seperti tragedi kemanusiaan. Tapi itu kan enggak terjadi. Kenapa tidak terjadi? Karena Nabi Ibrahim sebetulnya bukan diperintahkan untuk menyembelih putranya dalam pengertian hakiki, tapi diperintahkan untuk menyembelih kecintaannya yang berlebih kepada yang selain Allah SWT," terang Dr. Syarif, dalam keterangannya, Kamis (20/6/2024).

Menurutnya, peristiwa turunnya perintah untuk berkurban pada Nabi Ibrahim menjadi panduan bagi generasi setelahnya dalam menunjukkan ketakwaan pada Allah SWT, Tuhan alam semesta.

Berkurban tidak semata-mata hanya menyembelih hewan yang dikurbankan tapi juga egoisme manusia itu sendiri.

Dengan perayaan kurban, manusia diingatkan bahwa yang patut dicintai dan diprioritaskan hanyalah Allah SWT, bukan yang lainnya.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta ini mengungkapkan bahwa perayaan kurban juga sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Virgo Hari Ini 20 Juni 2024: Peruntungan yang Bagus Selama Mengambil Keputusan Tepat!

Hewan kurban yang telah disembelih bukanlah untuk dimakan sendiri, tapi untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Tujuannya agar sebagian orang yang kurang beruntung bisa ikut merasakan nikmatnya daging kambing, sapi, kerbau ataupun unta jika di negara-negara Timur Tengah.

"Konteks lain dari berkurban adalah untuk membagikan kebahagiaan kepada sesama manusia, dalam bentuk daging kurban. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama untuk bisa makan daging kapan pun mereka inginkan. Melalui Hari Iduladha, setidaknya ada waktu satu kali dalam setahun, umat Islam bisa makan daging kambing ataupun sapi, khususnya bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi," jelas Dr. Syarif.

Dalam ayat Al-Qur'an, Allah SWT berfirman bahwa Ia tidak membutuhkan daging dari hewan yang dikurbankan, melainkan yang sampai pada Allah SWT adalah ketakwaan dari mereka yang melaksanakan kurban.

Nilai dari ketakwaan ini juga menjadi penggerak umat Islam yang berkurban untuk mau berbagi pada sesamanya.

Kemauan melaksanakan kurban juga menjadi penanda diakui atau tidaknya seseorang menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Dave Laksono: Indonesia Punya Tujuan Sama dengan BRICS

"Ada suatu hadis dari Abu Hurairah, riwayatnya Abu Hurairah, nanti bisa kita temukan di Musnad Ahmad dan Sunan Ibn Majah, Rasulullah SAW pernah bersabda, 'orang yang mempunyai kecukupan rezeki untuk bisa berkurban tapi dia tidak mau berkurban dan tidak peduli lagi keadaan orang di kanan-kirinya, dia mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang universal, maka jangan dekat-dekat ke tempat salat kami, ke masjid kami,'" jelas Dr. Syarif.

Ia berharap agar perayaan kurban tidak dimaknai sempit hanya sebagai ritual tahunan semata.

Kurban bukanlah pemenuhan keinginan ritual individu tertentu saja, namun menitikberatkan pula pada aspek kemanfaatan bagi manusia lainnya.

Hari Raya Kurban juga bukanlah ajang untuk saling pamer ukuran dan jumlah hewan yang dikurbankan.

"Seharusnya ada peningkatan pemahaman terhadap berkurban itu sendiri dari tahun ke tahun, sehingga tidak ada istilah ingin memamerkan kemampuan dalam membeli hewan kurban. Jangan lupa pula bahwa berkurban adalah ibadah yang sarat dengan aspek kepedulian sosial dan selayaknya ada di atas kepentingan atau egoisme pribadi. Karenanya, berkurban seolah menjadi suatu pengikat atau tali sosial dalam hidup bermasyarakat," kata Dr. Syarif.

Baca Juga: Sejarah dan Lokasi Lempar Jumrah dalam Ibadah Haji

Dr. Syarif yang juga aktif sebagai Pembina Yayasan Raudhatul Mustariyah menambahkan bahwa perayaan kurban bisa mempererat ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah.

Bentuk persaudaraan ini tidak lagi memandang agamanya ataupun asal negaranya, tapi memaknainya dengan melihat bahwa siapapun dia, juga sesama manusia dan makhluknya Allah SWT.

"Melalui perayaan Iduladha atau berkurban kita harus bahu membahu dalam menegakkan atau melakukan hal-hal yang baik, dan menghalau semua yang tidak baik. Termasuk dalam hal ini adalah ideologi-ideologi yang merusak, yang mengajarkan kekerasan, tindakan radikal, intoleran dan lain sebagainya," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK