Kemarau Panjang, Pahami Mitigasi Bencana Hadapi Kekeringan

AKURAT.CO Wilayah Indonesia terutama bagian selatan akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari prediksi sebelumnya.
Diketahui, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan memasuki musim hujan pada Oktober. Namun BMKG meralat prediksinya dengan menyatakan musim hujan akan terjadi pada November.
Hingga Oktober, wilayah Indonesia diperkirakan akan bercuaca cerah dengan pertumbuhan awan yang minim sehingga panas sinar Matahari akan langsung sampai ke permukaan Bumi. Hal ini menyebabkan suhu di Indonesia akan terasa sangat panas.
Selain berdampak pada suhu yang meningkat, musim kemarau juga akan menyebabkan kekeringan. Beberapa wilayah bahkan telah mengalami krisis air lebih dulu, misalnya Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bekasi.
Baca Juga: Doa Saat Kemarau Panjang, Amalkan Agar Segera Turun Hujan
Tak menutup kemungkinan jika wilayah-wilayah lain akan mengalami hal serupa jika musim kemarau terus berlanjut.
Untuk menghadapi bencana kekeringan akibat musim kemarau, masyarakat harus memahami mitigasi bencana kekeringan baik sebelum, saat, dan sesudah terjadinya bencana, untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Pengertian Mitigasi Bencana
Mitigasi bencana adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi adanya resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan dan kesadaran kepada masyarakat mengenai ancaman bencana.
Jadi mitigasi bencana kekeringan merupakan upaya untuk mengurangi resiko bencana kekeringan bagi masyarakat yang terdampak.
Baca Juga: Kemarau Panjang, Ini Doa Minta Hujan Dalam Hadis Nabi
Langkah-langkah Mitigasi Bencana Kekeringan
Mitigasi bencana kekeringan dapat dilakukan ketika sebelum, saat, dan sesudah terjadinya bencana kekeringan. Dilansir melalui laman resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah DIY, berikut langkah-langkah mitigasi bencana kekeringan:
-
Sebelum bencana
-
Masyarakat disarankan memanfaatkan sumber air yang ada secara efektif dan efisien.
-
Memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang tersedia untuk keperluan air baku untuk air bersih.
-
Menanam pohon sebanyak-banyaknya di lingkungan kita.
-
Membuat waduk (embung) disesuaikan dengan keadaan lingkungan.
-
Membuat dan memperbanyak resapan air dengan tidak menutup semua permukaan dengan plester semen atau ubin keramik.
-
Memberikan perlindungan sumber sumber air bersih yang tersedia.
-
Melakukan panen dan konservasi air. Panen air merupakan cara pengumpulan air hujan. Upaya ini harus diikuti dengan konservasi air, yakni menggunakan air yang sudah dipanen dengan hemat sesuai kebutuhan.
-
Saat terjadi bencana
-
Membuat sumur pantek atau sumur bor untuk mendapatkan air.
-
Menyediakan air bersih dengan mobil tangki yang sudah disediakan oleh dinas terkait.
-
Melakukan penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan hujan.
-
Menyediakan pompa air.
-
Melakukan pengaturan pemberian air bagi pertanian secara darurat seperti gilir giring.
-
Sesudah bencana
-
Membangun jaringan irigasi yang dapat menampung air saat musim hujan tiba.
-
Membangun sumur, namun upaya ini menjadi sulit dilakukan karena mahalnya biaya pembuatan sumur. Ditambah, deteksi air tanah yang belum canggih.
-
Penyuluhan masyarakat mengenai bencana kekeringan akan menambah pengetahuan masyarakat ke depan untuk menghadapi bencana kekeringan.
Salah satu yang perlu diingat, musim kemarau berkepanjangan akan membuat mudahnya kebakaran lahan dan hutan. Selain itu, kemarau panjang juga akan menyebabkan polusi udara.
Oleh karena itu, hindarilah kegiatan yang akan memperparah dampak musim kemarau, misalnya seperti membakar sampah. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









