Kemenperin Genjot Revitalisasi Sentra IKM Kulit Manding di Yogyakarta

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) sebagai tulang punggung sektor manufaktur nasional. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mengoptimalkan peran sentra IKM melalui program revitalisasi, khususnya pada sektor industri pengolahan kulit.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, menyampaikan bahwa penguatan sentra IKM menjadi fokus pemerintah untuk mendukung produktivitas dan daya saing industri nasional.
“Kemenperin gencar memacu pengembangan sentra IKM di berbagai daerah sebagai sarana penunjang industri,” ujarnya di Jakarta, Senin (21/4/2025).
Baca Juga: Gandeng China, Kemenperin Genjot Pengembangan SDM Industri Lewat Vokasi dan Kelas Bahasa Mandarin
Salah satu proyek revitalisasi yang menjadi sorotan adalah Sentra IKM Kulit Manding di Bantul, Yogyakarta. Sentra ini dikelola oleh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Ndalem Kulit Jogja (NKJ) dan telah menerima bantuan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun Anggaran 2024.
Revitalisasi Sentra Manding tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur, namun juga meliputi pengadaan mesin dan peralatan produksi, pelatihan sumber daya manusia, manajemen teknis, serta penguatan akses pasar. Program ini menyasar peningkatan kualitas dan kapasitas produksi, sekaligus membangun ekosistem industri yang lebih berkelanjutan.
Lebih jauh, Reni menjelaskan bahwa pengembangan sentra IKM seperti Manding diharapkan mampu memberikan efek berlipat. Selain mendukung hilirisasi bahan baku lokal menjadi produk bernilai tambah, langkah ini juga memperkuat jaringan komunitas IKM di daerah.
Industri kulit sendiri dinilai memiliki potensi besar bagi perekonomian nasional. Berdasarkan data Kemenperin, sepanjang tahun 2024, ekspor produk kulit dan turunannya dari Indonesia mencapai angka USD4,6 miliar atau setara Rp77,2 triliun. Angka ini menunjukkan kontribusi signifikan subsektor tersebut terhadap ekspor nasional.
Alas kaki dari bahan kulit menjadi penyumbang terbesar ekspor dengan nilai mencapai USD3,1 miliar, diikuti oleh produk tas dan sejenisnya dari kulit senilai USD1,1 miliar. Potensi besar ini menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk terus mengembangkan sentra-sentra IKM yang bergerak di bidang kulit.
Yogyakarta sendiri tercatat sebagai salah satu wilayah dengan kontribusi ekspor barang kulit yang menonjol. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa komoditas ini termasuk dalam empat produk ekspor utama dari Daerah Istimewa Yogyakarta, menandakan adanya potensi pasar yang harus terus digarap.
Baca Juga: Kuota Impor Gula Rafinasi Turun, Kemenperin: Tren Hidup Sehat
Dengan adanya revitalisasi Sentra Manding, pelaku IKM diharapkan dapat lebih siap menghadapi persaingan global. Fasilitas dan dukungan yang diberikan pemerintah menjadi landasan penting bagi tumbuhnya industri kulit yang inovatif, berkualitas, dan berorientasi ekspor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










