Fakta-fakta Terbaru Ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara

AKURAT.CO Peristiwa ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta Utara masih menjadi perhatian publik. Kejadian yang berlangsung pada Jumat, 7 November 2025, saat salat Jumat di masjid sekolah itu, menyebabkan kepanikan luar biasa di kalangan siswa dan guru. Tak hanya menimbulkan kerusakan di area sekolah, insiden ini juga menyebabkan puluhan korban luka dan menyisakan banyak pertanyaan tentang motif di balik peristiwa tersebut.
Ledakan Terjadi Saat Salat Jumat Berlangsung
Menurut laporan saksi di lokasi, ledakan pertama terdengar sekitar pukul 12.15 WIB saat khotbah Jumat sedang berlangsung, disusul ledakan kedua dari arah berbeda di lingkungan sekolah yang terletak di kompleks perumahan TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading. Getaran dan suara keras membuat para siswa berhamburan keluar dari masjid dan ruangan kelas. Polisi dan tim Gegana segera melakukan sterilisasi sekitar pukul 13.45 WIB untuk mengamankan lokasi dan mencegah ledakan susulan.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa jumlah korban luka bertambah menjadi 96 orang hingga Sabtu, 8 November 2025. Dari total tersebut, 29 orang masih menjalani perawatan medis intensif, sementara 67 korban lainnya telah diperbolehkan pulang. Sebagian besar korban mengalami luka bakar, luka gores, serta gangguan pendengaran akibat efek ledakan. Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menambahkan bahwa sebagian korban juga mengalami luka akibat serpihan.
Korban dirawat di beberapa rumah sakit, di antaranya RS Islam Cempaka Putih, RS Yarsi, dan RS Pertamina Jaya. Pihak kepolisian menyebut data korban bersifat dinamis karena terus dilakukan verifikasi seiring berdatangannya siswa yang baru diketahui mengalami luka ringan.
Terduga Pelaku Adalah Siswa SMAN 72
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan bahwa terduga pelaku ledakan adalah siswa SMAN 72 sendiri. Ia termasuk di antara korban luka berat akibat peristiwa tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelajar berusia 17 tahun itu menderita luka serius di bagian kepala dan telah menjalani operasi di rumah sakit. Saat ini, kondisinya sudah sadar namun masih dirawat intensif dengan penjagaan ketat dari kepolisian.
Budi Hermanto menyampaikan bahwa proses pemulihan pelajar itu dilakukan dengan sangat hati-hati karena selain mengalami luka fisik, kondisi psikologisnya juga menjadi perhatian utama. Penanganan dilakukan sesuai prosedur hukum bagi anak di bawah umur, dengan melibatkan lembaga perlindungan anak. Statusnya kini adalah anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yang berarti identitasnya dilindungi secara hukum.
Penggeledahan Rumah dan Barang Bukti yang Ditemukan
Dalam proses penyelidikan, kepolisian telah menggeledah rumah terduga pelaku di kawasan Jakarta Utara. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan sejumlah barang bukti yang diduga terkait dengan ledakan di sekolah, termasuk serbuk yang dicurigai sebagai bahan peledak serta catatan-catatan milik pelajar tersebut. Namun, polisi belum memastikan jenis serbuk itu sebelum hasil analisis dari Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) keluar.
Selain itu, ditemukan pula benda mirip senjata api di lokasi kejadian. Setelah diperiksa lebih lanjut, senjata tersebut dipastikan bukan senjata asli melainkan senjata mainan. Pada bagian tubuh senjata mainan itu terdapat tulisan mencolok seperti “Brenton Tarrant”, “Welcome to Hell”, dan “14 Words. For Agartha.” — tulisan yang diduga meniru simbolisme ekstremis dari pelaku penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada 2019.
Motif Pelaku Masih Didalami
Tim penyidik dari Densus 88 Antiteror bersama Ditreskrimum Polda Metro Jaya masih terus mendalami motif di balik peristiwa ini. Polisi menelusuri berbagai kemungkinan, termasuk pengaruh dari konten media sosial yang bersifat radikal atau ekstrem. Pemeriksaan juga mencakup aktivitas digital pelajar tersebut untuk mengetahui apakah pernah bergabung dengan komunitas daring yang memiliki afiliasi dengan kelompok tertentu.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa pelaku diduga merakit peledak dari bahan sederhana berbasis baterai dan membawanya ke sekolah pada hari kejadian. Beberapa saksi di lokasi menyebut, pelaku dikenal sebagai siswa yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan teman-temannya. Ia disebut sering menggambar simbol-simbol aneh dan menulis pesan-pesan yang bernada gelap di buku catatannya.
Sejumlah rekan sekolah juga menyebut bahwa pelaku sebelumnya mengalami perundungan atau bullying. Namun, polisi belum memastikan apakah hal itu menjadi pemicu utama aksi tersebut. Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah, menyatakan bahwa indikasi awal menunjukkan pelaku lebih mungkin terpengaruh oleh konten berbahaya di media sosial ketimbang faktor perundungan.
Densus 88 Dalami Unsur Terorisme
Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri masih meneliti kemungkinan adanya unsur terorisme dalam kasus ini. Hingga kini, belum ada kesimpulan resmi mengenai keterkaitan pelaku dengan jaringan tertentu. Polisi menyatakan akan menyampaikan hasil lengkap setelah analisis menyeluruh terhadap barang bukti, keterangan saksi, serta data digital yang dikumpulkan.
Sekolah Akan Kembali Beroperasi
Pasca-ledakan, pihak kepolisian bersama TNI AL telah melakukan sterilisasi dan pembersihan area sekolah. Proses belajar mengajar di SMAN 72 Kelapa Gading dijadwalkan kembali berjalan normal mulai Senin, 10 November 2025, dengan pengawasan ketat dan pendampingan psikologis bagi siswa yang terdampak. Polisi juga menyiagakan petugas untuk menjaga keamanan lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang.
Kondisi Terbaru dan Langkah Lanjutan
Selain pemulihan fisik korban, pihak berwenang kini fokus pada trauma healing bagi para siswa dan guru. Tim psikolog dari Polda Metro Jaya dan Kementerian Sosial telah diterjunkan untuk membantu pemulihan mental para korban.
Sementara itu, hasil sementara penyelidikan menunjukkan bahwa terduga pelaku membawa tujuh bahan peledak ke sekolah. Empat di antaranya meledak di dua lokasi berbeda — yakni masjid dan area taman baca — sementara tiga lainnya tidak sempat meledak. Jenis bahan peledak tersebut sudah diketahui oleh tim Gegana Brimob dan sedang dianalisis lebih lanjut oleh otoritas terkait.
Kesimpulan
Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara masih dalam proses penyelidikan mendalam. Fakta-fakta terbaru menunjukkan bahwa peristiwa ini tidak hanya menimbulkan dampak fisik bagi korban, tetapi juga mengguncang psikologis seluruh komunitas sekolah. Meski begitu, pihak berwenang menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara hati-hati dan profesional agar proses hukum tetap berjalan tanpa mengabaikan aspek kemanusiaan.
Jika kamu ingin mengikuti perkembangan terbaru seputar penyelidikan ledakan di SMAN 72 Jakarta, pantau terus update informasinya di kanal berita kami.
Baca Juga: Presiden Prabowo Apresiasi Gerak Cepat Polri Tangani Ledakan di SMAN 72 Jakarta
Baca Juga: Ledakan SMAN 72 Cermin Gagalnya Sistem Perlindungan Siswa di Sekolah
FAQ
1. Kapan peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi?
Ledakan terjadi pada Jumat siang, 7 November 2025, sekitar pukul 12.15 WIB di area masjid atau musala sekolah.
2. Di mana tepatnya lokasi ledakan tersebut?
Ledakan terjadi di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta Utara yang berlokasi di Kompleks Perumahan TNI AL, Kelapa Gading.
3. Apa penyebab ledakan di SMAN 72 Jakarta?
Penyebab pasti masih dalam penyelidikan. Polisi menemukan serbuk yang diduga menjadi pemicu ledakan, namun analisis lebih lanjut dilakukan oleh Puslabfor untuk memastikan kandungan bahan tersebut.
4. Berapa jumlah korban akibat ledakan di SMAN 72?
Hingga Sabtu (8/11), total korban mencapai 96 orang. Dari jumlah itu, 29 orang masih menjalani perawatan medis, sementara 67 lainnya sudah diperbolehkan pulang.
5. Siapa terduga pelaku dalam kasus ledakan ini?
Terduga pelaku merupakan seorang pelajar berusia 17 tahun di SMAN 72 Jakarta. Ia mengalami luka berat di bagian kepala dan kini dirawat di unit perawatan intensif rumah sakit.
6. Bagaimana kondisi kesehatan terduga pelaku saat ini?
Kondisinya mulai membaik setelah menjalani operasi kepala. Namun, proses pemulihan fisik dan psikologisnya dilakukan secara bertahap dengan pengawasan ketat dari pihak kepolisian dan lembaga perlindungan anak.
7. Apa status hukum terduga pelaku?
Ia berstatus sebagai Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH), yang berarti proses penyelidikan harus mengikuti prosedur khusus serta menjamin perlindungan identitasnya.
8. Apakah ada indikasi keterlibatan kelompok teror dalam peristiwa ini?
Hingga kini belum ada kesimpulan bahwa peristiwa ini terkait jaringan terorisme. Densus 88 dan Ditreskrimum Polda Metro Jaya masih mendalami aktivitas daring serta motif di balik aksi tersebut.
9. Apa saja temuan polisi dari hasil penggeledahan rumah pelaku?
Polisi menyita beberapa barang bukti, termasuk serbuk yang diduga digunakan dalam ledakan. Analisis laboratorium forensik masih dilakukan untuk memastikan jenis bahan tersebut.
10. Apakah benar ditemukan senjata api di lokasi kejadian?
Polisi menemukan dua benda yang menyerupai senjata api, namun hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa keduanya merupakan senjata mainan, bukan senjata asli.
11. Apa dugaan motif di balik aksi ini?
Motif pasti masih diselidiki, namun sejumlah keterangan saksi menyebut terduga pelaku kerap menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah dan sering menyendiri sebelum kejadian.
12. Bagaimana kronologi singkat ledakan di SMAN 72 Jakarta?
Ledakan terjadi menjelang waktu salat Jumat. Ada dua kali ledakan—satu di bagian belakang dan satu di dekat pintu masjid sekolah. Peristiwa ini menyebabkan kepanikan di kalangan siswa dan warga sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









