Akurat

Abrasi Hantam Pesisir Jawa, Dulu Daratan Kini Perairan

Mukodah | 26 Januari 2025, 12:25 WIB
Abrasi Hantam Pesisir Jawa, Dulu Daratan Kini Perairan

AKURAT.CO Pesisir merupakan wilayah yang sering kali rawan terhadap bencana banjir, abrasi, penurunan tanah serta intrusi air laut.

Beberapa wilayah pesisir di Indonesia yang rawan terhadap bencana meliputi Pantura Jawa, Lampung, Palembang, Aceh, Sumatera Barat, Manado, Minahasa dan Pulau Sumbawa.

Permasalahan tersebut telah mencapai tahapan kritis karena banyak lahan produktif yang hilang akibat abrasi.

Salah satu dampak nyata terjadinya abrasi berada di pesisir Tangerang, tepatnya di Desa Kohod, Kecamatan Pakuhaji.

Rudianto (35), Ketua RT 06 Kejaron 11, Desa Kohod, mengungkap bagaimana batas empang, yang dulu menjadi pemisah antara daratan dan lautan, kini telah tergerus.

Baca Juga: Waspada Banjir Rob, Warga di Sejumlah Wilayah Pesisir Jakarta Diminta Siaga

Rumah serta empang milik warga yang dulunya berdiri kokoh tak jauh dari tepi pantai kini harus berpindah jauh dari bibir laut, menjauh dari ancaman air yang semakin mendekat.

"Kalau empang sih memang dulu batasnya, kalau enggak salah, itu yang ada patokannya di sana (menunjuk tumpukan bambu), yang paling tengah itu empang," jelas Rudianto, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (26/1/2025).

Sejak tahun 2000-an, air laut mulai merangsek lebih jauh ke daratan. Bahkan mengancam keberadaan empang yang dulunya menjadi tumpuan hidup sebagian warga Desa Kohod.

Rudianto masih ingat betul perubahan daratan pinggir laut yang kini telah menjadi laut sepenuhnya.

Hampir satu kilometer area yang dahulu daratan, kini telah menjadi perairan.

Baca Juga: Mangrove Ranger Cuku Nyinyi, Usaha Grup MIND ID Jaga Kelestarian Pesisir

"Air sudah mulai ke sini karena abrasi dekat empang itu," ujar Rudianto.

Perubahan ini pun membuat sebagian besar warga yang memiliki empang memilih untuk tidak lagi merawatnya.

Karena usaha itu sia-sia jika nantinya harus digusur oleh air laut yang terus bergerak maju.

Desa Kohod menjadi saksi bisu dari dampak abrasi laut yang semakin menghantui kehidupan warga setempat.

Dulu, wilayah ini adalah rumah bagi banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya pada laut dan empang, namun kini mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tanah yang dihuni semakin tergerus oleh waktu dan alam.

Abrasi di pesisir Tangerang ternyata sudah lama terjadi.

Pemerintah Kabupaten Tangerang mencatat sejak 1995-2015, lebih kurang 579 hektare lahan alias tanah daratan hilang akibat abrasi.

Banyak faktor yang mengakibatkan abrasi, di antaranya pembukaan lahan hutan mangrove untuk dijadikan tambak.

Padahal, di era 80 dan 90-an, salah satu desa di pesisir Kabupaten Tangerang yakni Desa Marga Mulya terdapat lahan pertanian semangka.

Baca Juga: Ketua DPD Tekankan Pentingnya Afirmatif Fiskal untuk Pemerataan Pembangunan Daerah Kepulauan dan Pesisir

Buahnya manis, berkualitas dan memiliki nilai ekonomi tinggi.

Namun akibat abrasi, lahan tersebut kini sudah hilang tertutup air.

Problem telah mencapai tahapan kritis jika tidak cepat ditanggulangi. Sebanyak 50 juta jiwa yang tinggal di Pulau Jawa menjadi korbannya.

Dampak ekonominya lebih parah lagi. Estimasi mencapai Rp2,1 triliun dan akan terus meningkat hingga Rp10 triliun dalam 10 tahun ke depan, menurut data yang diterbitkan Kemenko Bidang Perekonomian 2024.

Ancaman Banjir Rob

Sikap waspada kini tengah dirasakan warga. Apalagi setelah adanya peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) soal ancaman banjir pesisir atau rob yang akan melanda wilayah pesisir hingga akhir Januari 2025.

BMKG memprediksi air laut akan menggenangi sejumlah kawasan pesisir di Pulau Jawa.

"Wilayah pesisir utara DKI Jakarta diimbau agar dapat mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut yang berpotensi terjadinya banjir pesisir," kata Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jakarta, Isnawa Adji.

Baca Juga: Prabowo Bakal Bangun 3 Juta Rumah, Tersebar di Desa, Pesisir dan Perkotaan

Bukan cuma Jakarta, potensi banjir rob juga mengancam wilayah pesisir Pantai Utara Kabupaten Tangerang hingga akhir Januari 2025.

Menurut prediksi BMKG, masih wilayah pesisir utara yang rawan terhadap banjir di musim penghujan 2025.

Untuk itu, masyarakat, khususnya warga pesisir, diminta terus bersiaga dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK